Tak Ada Perang Lagi, Pakar Militer Ini Yakin Iran dan AS Tunjukkan Tanda-tanda Kompromi
Trita Parsi, salah satu pendiri sekaligus wakil presiden eksekutif Quincy Institute dan pakar militer, mengatakan ada “secercah harapan” seiring dengan munculnya tanda-tanda bahwa AS dan Iran mulai “bersungguh-sungguh” untuk mengakhiri perang.
“Beberapa posisi yang mereka ambil sebelumnya kini tidak lagi dipertahankan dengan cara yang sama. Sebagai contoh, pemerintahan Trump sempat menyatakan tidak akan mencabut blokade, bahkan jika selat tersebut dibuka kembali. Posisi seperti itu membuat kesepakatan apa pun menjadi sangat mustahil,” ujar Parsi kepada Al Jazeera.
“Namun, menurut pengamatan saya, pemerintahan Trump kini telah melunakkan sikapnya dan mengambil posisi yang jauh lebih realistis,” jelas Parsi, seraya menambahkan bahwa hal ini bukan berarti kesepakatan sudah pasti tercapai.
Meskipun situasi di kawasan Teluk dapat memengaruhi negosiasi, untuk saat ini hal tersebut tidak akan “menggagalkan potensi kesepakatan, kecuali jika peristiwa itu terjadi setelah kesepakatan dicapai”.Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei mengungkapkan, rencana tujuh langkah dari Iran masih tetap diajukan, namun demi mewujudkan perdamaian, rencana tersebut kini telah “dipadatkan dan dapat diimplementasikan dalam waktu dua hari,” ungkap
“Hal ini juga menunjukkan pendekatan Iran yang berlandaskan iktikad baik. Kami telah menyatakan bahwa jika tuntutan Iran dipenuhi, keamanan di Selat Hormuz dapat dipulihkan dan proses negosiasi dapat dimulai dalam waktu singkat,” kata Baghaei.
“Semua ini bergantung pada bagaimana pihak Amerika ingin melangkah ke depan terkait masa depan proses ini.”
Baghaei menyatakan bahwa selama dua tahun terakhir, Washington “tidak hanya gagal menawarkan inisiatif diplomatik apa pun, tetapi justru secara aktif merusak proses diplomatik.”
“Tolok ukur utama bagi Iran dalam perundingan ini hanyalah perilaku nyata dan tindakan praktis dari pemerintah AS,” ujar Baghaei kepada para wartawan. “Kini bola ada di tangan AS, dan tuntutan Iran sangat jelas serta logis.”Baghaei menambahkan: “Tidak akan ada kesepakatan yang tercapai, dan Selat Hormuz pun tidak akan dibuka kembali atau diamankan, kecuali blokade angkatan laut AS dicabut dan tuntutan sah Iran dipenuhi sepenuhnya.”
Sementara itu, Tehran tidak memiliki permusuhan terhadap negara-negara di kawasan tersebut dan justru mendorong kerja sama untuk menciptakan keamanan yang langgeng, ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran. Namun, Baghaei menambahkan, “Iran tidak bisa tinggal diam ketika wilayah negara-negara kawasan tertentu digunakan untuk melanggar kedaulatan nasionalnya atau mengancam keamanan rakyatnya.”
Beberapa negara tetangga di kawasan Teluk, ujarnya, telah menaruh “ketergantungan dan kepercayaan yang berlebihan pada kehadiran militer AS—bahkan dalam beberapa kasus, mereka bekerja sama secara aktif dengan pihak tersebut.”
“Membangun kepercayaan adalah proses dua arah, dan harapan yang wajar dari Iran adalah agar negara-negara di kawasan ini tidak membiarkan wilayah atau fasilitas mereka dieksploitasi untuk melawan negara tetangga yang besar.”





