13.000 Kg Garam Dapur Ditabur di Langit Papua Selatan untuk Padamkan Karhutla
Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) terus digencarkan untuk menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Papua Selatan. Tercatat, sebanyak 13.000 kilogram bahan semai Natrium Klorida (NaCl) atau garam dapur ditaburkan di langit Papua Selatan melalui 13 sorti penyemaian awan dalam rangka OMC.
Pelaksanaan OMC untuk mendukung penanganan darurat karhutla di wilayah Papua Selatan dijadwalkan berlangsung pada 22 Oktober hingga 5 November 2026. Operasi ini didukung pesawat Cessna Caravan C208B dengan nomor registrasi PK-SCG.
Baca juga: Karhutla Papua Selatan, BNPB Soroti Titik Api di Konsesi Perkebunan Kelapa Sawit
Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani mengatakan bahwa pelaksanaan OMC untuk penanganan karhutla harus memperhatikan takaran curah hujan yang tepat. Hujan yang diupayakan melalui operasi tersebut diharapkan cukup untuk membantu pembasahan lahan dan mendukung pemadaman, tetapi tidak berlebihan hingga memicu risiko bencana hidrometeorologi lainnya, seperti banjir.
“Air tidak boleh terlalu banyak dan tidak boleh terlalu sedikit. Seperti yang terjadi di Sumatra beberapa waktu lalu, curah hujan pernah lebih dari 100 milimeter dan kondisi tersebut dapat menyebabkan banjir,” jelas Faisal dalam keterangannya, Sabtu (31/10/2026).Faisal juga menjelaskan bahwa sebagian wilayah Indonesia berada dalam periode potensi basah pada pekan ini. Namun, kondisi tersebut tidak serta-merta menunjukkan bahwa Papua Selatan telah memasuki musim hujan. Oleh karena itu, pelaksanaan OMC tetap membutuhkan analisis kondisi atmosfer dan prakiraan cuaca yang spesifik untuk wilayah sasaran.
Baca juga: Kemenhut Tetapkan 2 Korporasi Tersangka Dugaan Karhutla di Kalbar dan Kalteng
Untuk mendukung langkah antisipasi, BMKG akan menyampaikan peta wilayah yang berpotensi mengalami kemunculan titik api baru. Informasi tersebut diharapkan dapat menjadi dasar bagi petugas dan pemerintah daerah untuk melakukan pengecekan, pencegahan, serta pemadaman sedini mungkin sebelum kebakaran meluas.
Selain peta potensi kebakaran, Faisal mengatakan bahwa BMKG juga akan menyediakan informasi prakiraan hujan lebat melalui sistem pemantauan cuaca. Informasi ini mencakup wilayah yang berpotensi mengalami hujan dalam rentang tiga hingga sepuluh hari ke depan, dengan tingkat perincian informasi hingga skala kecamatan.
“Dari sistem pemantauan BMKG, kami juga akan menyampaikan kapan hujan lebat berpotensi terjadi dan wilayah mana yang perlu menyiapkan antisipasi. Prakiraan ini mencakup tiga hingga sepuluh hari ke depan, dengan kerapatan jaringan informasi hingga tingkat kecamatan,” paparnya.










