3.000 Toko Lumpuh di Prancis Imbas Kerusuhan, Barang Mewah Jarahan Jadi Tren di Pasar Gelap Digital
Gelombang kerusuhan dan aksi penjarahan masif yang dipicu protes tingginya biaya hidup di Prancis kini berlanjut ke pasar gelap digital. Hanya dalam hitungan jam setelah toko-toko ritel mewah di distrik Les Halles, Paris -termasuk Hermes, The North Face, dan Louis Vuitton- dijarah massa pada akhir pekan lalu, ribuan barang curian seperti produk kosmetik, perawatan kulit, hingga tas desainer langsung marak dijual di platform e-commerce.
Menteri Perdagangan Perancis, Serge Papin mengonfirmasi bahwa lebih dari 3.000 bisnis dan toko ritel di seluruh Perancis dirusak serta dijarah sepanjang akhir pekan. Praktik penjualan barang curian secara online (organized retail crime) melonjak tajam dalam beberapa jam setelah kerusuhan.
Barang-barang mewah hasil jarahan diunggah secara masif di platform pasar sekunder (secondhand) seperti Vinted dan Leboncoin, bahkan sampai menggunakan tagar tanggal kerusuhan "17 Oktober" (October 17). Baca Juga: Prancis Tak Terselamatkan? Tata Kelola Lumpuh, Krisis Sipil, hingga Jeratan Utang Rp71.901 Triliun
Terdesak oleh maraknya barang penjarahan digital ini, Menteri Perdagangan Serge Papin dan Menteri Digital Anne Le Hénanff memanggil manajemen eksekutif Vinted, Leboncoin, Amazon, eBay, Meta, hingga TikTok dalam panggilan konferensi video darurat pada awal pekan kemarin untuk menuntut penghapusan seketika seluruh listing mencurigakan.
"Penjualan barang curian atau memfasilitasinya secara tegas dilarang di Vinted. Kami tidak memberikan toleransi sedikit pun. Kami bekerja sama secara aktif dengan kepolisian dan otoritas Perancis untuk menghentikan perilaku berbahaya ini," tegas juru bicara Vinted seperti dilansir Fortune.
Dampak ekonomi dari aksi perusakan dan penjarahan ini menghantam bursa saham Eropa secara keras. Raksasa ritel Perancis, Carrefour, terpaksa memangkas proyeksi laba tahun fiskal 2026 akibat kerusakan parah di puluhan gerainya.
Baca Juga: 5 Fakta Slogan Bismillah, C’est Les Tenebres yang Viral pada Kerusuhan Prancis
Pengumuman tersebut memicu kepanikan investor hingga menghapus 15 dari nilai saham Carrefour, menghilangkan kapitalisasi pasar perusahaan sebesar 1,7 miliar euro (sekitar USD1,9 miliar atau Rp28 triliun).
"Sekitar 50 toko kami dihantam pada hari pertama. Banyak yang dijarah habis dan kerusakannya sangat masif," ungkap CEO Carrefour, Alexandre Bompard. Carrefour mengestimasi pemangkasan langsung pada pendapatan operasionalnya menyentuh 80 juta euro hingga 200 juta euro (sekitar Rp1,3 triliun hingga Rp3,3 triliun). Lembaga pemeringkat Morningstar DBRS mengestimasi total kerugian terasuransi akibat kerusuhan Perancis ini bisa menembus 1,2 miliar euro (USD1,3 miliar).
Sementara itu Presiden Perancis Emmanuel Macron melontarkan peringatan keras bahwa aparat penegak hukum akan melacak seluruh penjarah hingga ke transaksi digital mereka. Di Prancis, tindak pidana penadahan barang hasil kejahatan diancam hukuman penjara hingga 5 tahun dan denda 375.000 euro (USD420.000).
"Mereka yang menjarah harus membayar kembali, dan mereka yang berusaha menjatuhkan Republik ini akan dimintai pertanggungjawaban penuh!" tegas Macron.
Guna memperketat penegakan hukum, Senat Perancis mulai membahas Rancangan Undang-Undang "Casseurs-payeurs" (rioters pay) pada 27 Oktober. Aturan ini menetapkan bahwa setiap individu yang terbukti berpartisipasi dalam kerumunan massa yang memicu kerusakan akan dikenakan tanggung jawab finansial secara kolektif untuk mengganti seluruh kerugian infrastruktur dan ritel yang timbul.









