Harga Minyak Turun Hampir 2 Persen, Risiko Perang Iran Masih Bayangi Pasokan
IDXChannel - Harga minyak mentah turun hampir 2 persen pada Selasa (27/10/2026), meski tetap berada di dekat level tertinggi dalam enam bulan terakhir.
Pasar masih dibayangi gangguan pelayaran di sekitar Timur Tengah dan belum adanya kesepakatan untuk mengakhiri perang Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran.
Harga minyak Brent ditutup turun 1,67 persen menjadi USD113,88 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS merosot 1,83 persen menjadi USD99,90 per barel.
Kepala Dewan Keamanan Iran Mohsen Rezaei bertemu Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei pada Selasa, sehari setelah melakukan pembicaraan dengan perwakilan Arab Saudi, Turki, dan Pakistan.
Media pemerintah Iran melaporkan Khamenei menekankan pentingnya memperjuangkan kepentingan Iran sekaligus mempertahankan persyaratan yang ditetapkan Teheran untuk mengakhiri perang.
Keempat negara sepakat melanjutkan pembicaraan untuk memperkuat kerja sama di bidang perdamaian dan keamanan, menurut media pemerintah Iran.
Namun, prospek perdamaian masih belum pasti setelah kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran kembali melancarkan serangan terhadap Arab Saudi, salah satu produsen minyak utama dunia.
Houthi pada Selasa mengklaim telah menyerang kilang minyak Ras Tanura milik Arab Saudi menggunakan rudal balistik. Kilang tersebut merupakan yang terbesar di kerajaan tersebut.
“Serangan Houthi yang terus berlanjut terhadap Arab Saudi dan meningkatnya kehadiran militer di Teluk membuat risiko pasokan tetap ada, meskipun pemberitaan mengenai diplomasi mendorong sebagian premi risiko yang terbentuk belakangan ini mulai berkurang,” tulis analis Gelber & Associates dalam sebuah catatan, seperti dikutip Reuters.
Oktober menjadi bulan terburuk untuk serangan terhadap kapal komersial di Selat Hormuz dan perairan di sekitarnya, berdasarkan data Washington Institute for Near East Policy, lembaga pemikir yang telah memantau insiden keamanan maritim di seluruh dunia sejak 2017.
Lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz memang meningkat, tetapi jumlah serangan terhadap kapal juga bertambah. UBS menilai risiko tersebut berpotensi semakin meningkat jika dukungan angkatan laut AS melemah.
Harga Brent sempat melonjak di atas USD117 per barel pada pekan lalu, level tertinggi sejak April, setelah serangkaian serangan Iran terhadap kapal tanker di sekitar selat tersebut.
UBS memperkirakan harga Brent tetap tinggi di sekitar USD110 per barel hingga akhir tahun, naik dari proyeksi sebelumnya sebesar USD100 per barel pada akhir tahun.
“Kesan yang ada saat ini adalah terdapat premi risiko yang signifikan dalam harga minyak mentah akibat risiko AS dan Israel menyerang Iran dalam beberapa pekan mendatang,” kata Bjarne Schieldrop, analis SEB.
Investor juga mencermati hasil pemilihan umum Israel pada Selasa, yang berpotensi menentukan kelanjutan masa jabatan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Hasil pemilu diperkirakan ketat dan partai Likud yang dipimpinnya masih berpeluang menang.
“Hasil pemilihan parlemen hari ini di Israel juga dapat menjadi faktor penting bagi perkembangan perang dengan Iran. Jika kembali terpilih, Perdana Menteri Israel Netanyahu mungkin akan berupaya mendorong perubahan rezim di Iran,” tulis analis Commerzbank. (Aldo Fernando)








