Rusia dan China Bangun Proyek Pipa Raksasa 2.600 Km Power of Baikal, Pasok 50 Miliar Kubik Gas

Rusia dan China Bangun Proyek Pipa Raksasa 2.600 Km Power of Baikal, Pasok 50 Miliar Kubik Gas

Ekonomi | sindonews | Rabu, 28 Oktober 2026 - 08:20
share

Pergeseran peta energi dunia kian tak terbendung. Pemerintah Rusia dan China secara resmi mengonfirmasi bahwa kedua negara tengah memasuki tahap akhir untuk menyegel kesepakatan megaproyek pipa gas baru 'Power of Baikal' sebelum akhir tahun 2026 ini.

Keputusan strategis ini mengemuka di tengah perundingan tingkat tinggi antara Perdana Menteri Rusia Mikhail Mishustin dan rekannya dari China, Li Qiang, di St. Petersburg. Kebijakan ini bakal menjadi benteng utama Moskow dalam meredam sanksi Barat sekaligus mengalihkan pasokan gas raksasa yang dulunya dialirkan ke Uni Eropa menuju pasar Asia.

Wakil Perdana Menteri Rusia, Aleksandr Novak mengungkapkan, bahwa perusahaan raksasa energi Gazprom dan China National Petroleum Corporation (CNPC) sedang memfinalisasi poin-poin komersial dari proyek yang sebelumnya dikenal sebagai Power of Siberia 2 ini.

Baca Juga: Rusia dan China Kebut Mega Proyek Pipa Gas Baru Berjuluk Power of Siberia 2

"Perusahaan kami sedang melegosiasikan rute kedua pasokan gas dari Rusia ke Republik Rakyat Tiongkok. Kami berharap mereka dapat menyelesaikan negosiasi komersial ini dan mencapai kesepakatan resmi pada akhir tahun ini," ungkap Novak kepada para wartawan.

Pipa sepanjang 2.600 kilometer ini dirancang untuk menyalurkan hingga 50 miliar meter kubik (bcm) gas per tahun dari ladang gas Arktik di Semenanjung Yamal -ladang yang dulunya menjadi pemasok utama Eropa- melalui rute transit transit Soyuz Vostok di Mongolia menuju China.

Baca Juga: Model Ekonomi Eropa Runtuh usai Kehilangan Energi Murah Rusia

Nama Power of Baikal dipilih untuk membedakannya dari rute Power of Siberia (berkapasitas 38 bcm/tahun) yang telah beroperasi sejak 2019, sekaligus menggambarkan jalurnya yang melintasi pesisir selatan Danau Baikal.

Sang Penyelamat Gazprom

Jika proyek Power of Baikal resmi beroperasi, gabungan kapasitas ekspor pipa gas Rusia ke China akan menembus 88 bcm per tahun. Angka ini setara dengan 80 dari total kapasitas gabungan Nord Stream 1 dan Nord Stream 2 (110 bcm) yang dulu menyalurkan gas Rusia ke Eropa di dasar Laut Baltik.

Meskipun kesepakatan memutar haluan pasokan ini kian matang, negosiasi harga dilaporkan sempat menjadi batu ganjalan. Beijing berupaya mendapatkan patokan harga mendekati tarif domestik Rusia, sementara Moskow mendorong formula berbasis pasar. Namun, Presiden Vladimir Putin sebelumnya telah menegaskan bahwa skema penetapan harga akan mengikuti formula pasar yang adil tanpa ada unsur "amal" dari kedua belah pihak.

Sementara itu di tengah peralihan fokus ke Asia, Novak menyempatkan diri melontarkan kritik atas kebijakan energi Uni Eropa yang dinilai melumpuhkan ketahanan energinya sendiri akibat sanksi sepihak.

Novak menegaskan bahwa dari empat pipa Nord Stream yang dihantam sabotase pada September 2022, satu jalur pipa masih dalam kondisi utuh dan beroperasi sempurna.

"Kami memiliki satu dari empat pipa dalam kondisi siap kerja. Jika konsumen dan politisi Eropa menginginkannya, pasokan tentu saja dapat langsung dikirim melalui jalur tersebut. Keputusan sepenuhnya ada di tangan negara-negara Eropa, khususnya Jerman," tegas Novak.

Rusia berulang kali menawarkan pembukaan kembali keran energi ke Eropa -terutama saat pasar global dihantam krisis Selat Hormuz akibat Perang Iran-, tapi tawaran tersebut tak pernah direspons oleh pemimpin Eropa.

Dengan menyegel proyek Power of Baikal, Moskow secara praktis mengunci masa depan energinya bersama Tiongkok, meninggalkan Eropa yang kian merana dalam krisis biaya hidup dan kelangkaan energi.

Topik Menarik