Kementan Perkuat Pemahaman Petani Terhadap Inovasi Benih Bioteknologi di Klaten

Kementan Perkuat Pemahaman Petani Terhadap Inovasi Benih Bioteknologi di Klaten

Nasional | sindonews | Minggu, 25 Oktober 2026 - 15:55
share

Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong pemanfaatan bioteknologi dan teknologi pemuliaan tanaman untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi usaha tani, dan daya saing pertanian nasional. Pengembangan padi lokal Rojolele di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, menjadi contoh pemanfaatan teknologi untuk memperbaiki karakteristik varietas dengan tetap mempertahankan keunggulan lokal.

Ketua Kelompok Substansi Pendaftaran dan Pelepasan Varietas Tanaman Kementan Nani Suwarni menyatakan inovasi teknologi penting untuk menjawab tantangan perubahan iklim dan kebutuhan peningkatan produktivitas pertanian. Inovasi teknologi, termasuk pemuliaan tanaman dan perbenihan, memiliki peran penting.

“Namun, pemanfaatannya harus didukung pemahaman yang benar, objektif, dan berbasis bukti ilmiah agar masyarakat memahami manfaat, keterbatasan, serta aspek keamanan yang relevan,” ujar Nani dikutip Minggu (25/10/2026).

Baca juga: BULOG dan Komisi IV DPR Perkuat Sinergi Dukung Kesejahteraan Petani di Klaten

Nani menambahkan, inovasi harus disertai tata kelola yang baik, pemenuhan persyaratan teknis, dan prosedur pengkajian serta keamanan sesuai ketentuan. Teknologi juga harus menjawab kebutuhan nyata petani.“Mulai dari peningkatan produktivitas dan efisiensi biaya hingga ketahanan terhadap organisme pengganggu tumbuhan dan perubahan iklim,” tandas Nani.

Kepala Bidang Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Klaten, Lilik Nugraharja, menjelaskan Rojolele merupakan padi lokal kebanggaan Klaten dengan cita rasa dan kualitas beras khas. Namun, varietas aslinya memiliki umur panen lebih dari lima bulan, postur tanaman tinggi, serta rentan terhadap hama dan penyakit.

Lihat video: Kementan Luncurkan 'Lapor Pak Amran', Basmi Mafia Pupuk

Untuk memperbaiki karakteristik tersebut, penelitian bersama Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) dilakukan sejak 2013 melalui teknologi mutasi radiasi sinar gamma. Dari pengembangan tersebut dihasilkan Rojolele Srinar, Srinuk, dan Sriten.

Rojolele Srinar dan Srinuk telah memperoleh pelindungan varietas tanaman (PVT) sebagai varietas turunan esensial dari varietas lokal Rojolele. Rojolele Srinuk memiliki produktivitas rata-rata sekitar 6,6 ton per hektare, dengan potensi mencapai 9 ton per hektare.

“Selain produktivitas, varietas ini memiliki keunggulan cita rasa dan nilai jual. Tantangan pengembangannya masih mencakup ketersediaan benih bersertifikat, sementara produksi resmi benih Rojolele Srinar juga perlu didorong,” kata Lilik.Guru Besar IPB University, Antonius Suwanto, menjelaskan bahwa pengembangan varietas unggul dapat dilakukan melalui persilangan, iradiasi, dan rekayasa genetika. Persilangan menggabungkan sifat unggul tanaman berbeda, sedangkan iradiasi memicu perubahan genetik yang kemudian diseleksi untuk memperoleh karakteristik yang diharapkan.

Bioteknologi modern juga memungkinkan pemanfaatan gen tertentu untuk menghasilkan sifat spesifik, misalnya ketahanan jagung terhadap hama sasaran melalui gen dari bakteri yang menghasilkan protein toksik terhadap hama tersebut.

“Dengan pemahaman yang memadai, masyarakat dapat menilai inovasi pertanian secara objektif dan tidak mudah terpengaruh informasi yang keliru,” ujar Antonius.

Menurut Antonius, varietas bioteknologi memiliki dua karakteristik utama, yaitu tahan terhadap hama sasaran dan toleran terhadap herbisida berbahan aktif glifosat. Kombinasi kedua karakteristik ini berpotensi mendukung pengendalian hama dan gulma yang lebih efektif serta meningkatkan efisiensi usaha tani.

“Penerapannya tetap harus mengikuti rekomendasi teknis budidaya dan ketentuan penggunaan herbisida yang berlaku,” ucapnya.

Topik Menarik