BWS Sumatera Kebut Pembangunan Tanggul Aih Bobo yang Jebol Akibat Banjir
Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera I Aceh mempercepat penanganan tanggul bronjong di Desa Aih Bobo, Kecamatan Dabun Gelang, Kabupaten Gayo Lues, yang jebol akibat banjir susulan pada 24 September 2026. Perbaikan sepanjang 200 meter telah mencapai 80.
Hal itu disampaikan Koordinator Lapangan BWS Sumatera I Aceh, Fahried Wajidi saat meninjau lokasi, Sabtu, 10 Oktober 2026. Wajidi mengatakan, penanganan dilakukan untuk mengarahkan aliran sungai kembali ke jalurnya sekaligus memperkuat tebing yang terdampak.
Menurut Wajidi, tanggul bronjong yang berfungsi sebagai pencegah erosi serta pelindung bantaran sungai tersebut memiliki panjang hampir satu kilometer yang dibangun BWS Sumatera I bersama PT Hutama Karya sebelumnya telah rampung pada Agustus 2026.
Baca juga: 4 Jembatan Putus Akibat Banjir di Aceh Utara, BNPB: Anomali Cuaca di Tengah Kemarau
"Namun, hujan dengan intensitas tinggi dalam dua pekan terakhir memicu luapan sungai yang merusak sejumlah bagian tanggul," ujarnya, Minggu (25/10/2026).Menurut Wajidi, kerusakan terjadi pada beberapa titik dengan total panjang sekitar 200 meter. Perbaikan diprioritaskan pada bagian yang dinilai paling mendesak.
“Sebenarnya untuk bronjong fisiknya sudah selesai 100. Kemudian, dua minggu terakhir ini terjadi lagi banjir susulan pada 24 September 2026 yang mengakibatkan jebolnya tanggul. Jadi, sekarang kita menangani tanggul yang jebol untuk memperkuat tebing sungai kembali,” ujarnya.
Lihat video: Beban Baru Korban Banjir Aceh, Bersihkan Sisa Lumpur!
Menurut Fahried, penanganan difokuskan pada bagian tanggul yang mengalami kerusakan, bukan seluruh bentang bronjong. Langkah ini dilakukan untuk mempercepat pemulihan fungsi tanggul dalam mengendalikan aliran sungai.“Yang terdampak bencana dari tanggul ini sepanjang 200 meter. Ada titik-titik yang jebol, tetapi tanggulnya itu sepanjang 200 meter. Tidak semuanya kita perbaiki. Kita perbaiki di bagian yang kira-kira lebih urgent,” katanya.
Kerusakan tanggul sebelumnya menyebabkan air sungai kembali menggenangi sawah dan kebun warga, bahkan mencapai permukiman. Sebagian masyarakat dilaporkan harus mengungsi ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dan rumah kepala desa.“Kalau tanggul itu jebol, sawah hanyut, kebun terdampak, terutama tempat tinggal mereka. Warga pun harus mengungsi ke TPA dan ke rumah kepala desa,” ujar Fahried.
Untuk memulihkan perlindungan di kawasan tersebut, petugas membangun tanggul sementara guna mengarahkan aliran sungai kembali ke jalur semula. Setelah sekitar 10 hari pengerjaan, progres perbaikan telah mencapai 80 per 10 Oktober 2026. Tanggul sementara ini memiliki tinggi 1,5 meter dan lebar 3 meter, serta ditargetkan rampung dalam beberapa hari berikutnya.BWS Sumatera I juga menyiagakan satu unit ekskavator dan sebuah dump truck di lokasi terdampak untuk mendukung penanganan apabila terjadi banjir susulan. Kesiapan peralatan tersebut diharapkan memungkinkan petugas merespons kondisi sungai dengan lebih cepat.
Sebelum banjir susulan, tanggul bronjong dengan tinggi 2,5 meter dan lebar 3 meter telah dibangun untuk melindungi tebing sungai dari gerusan air, erosi, dan potensi banjir bandang. Perbaikan bagian yang jebol menjadi langkah lanjutan untuk memulihkan fungsi perlindungan tersebut.
Kasus Dugaan Penipuan Investasi Rp58,5 Miliar, Propam Tempatkan Kombes Fahrurozi di Patsus
"Penanganan tanggul Sungai Aih Bobo diharapkan dapat mengurangi risiko luapan sungai dan membantu melindungi permukiman, lahan pertanian, serta akses masyarakat di Desa Aih Bobo," ucapnya.










