Konser Kanye West di GBK Diserbu Penonton Mancanegara, Adib Hidayat: Jakarta Magnet Wisata
Pengamat Musik, Adib Hidayat mengapresiasi gelaran konser Kanye West bertajuk 'Ye Live in Jakarta' yang berlangsung di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) pada Sabtu (24/10/2026).
Menurutnya, konser Rapper tersebut memiliki daya tarik sendiri dari konsep panggung berupa kubah raksasa (doom stage) yang berbentuk setengah bola dunia.
Hal ini kata Adib, menjadi daya tarik utama berbagai turis mancanegara berdatangan ke Indonesia untuk menyaksikan secara langsung konser tersebut.
Baca Juga : Kanye West Sulap Panggung GBK Jadi Permukaan Bulan, Penonton Terhipnotis
"Jelang konser @ye di GBK, polanya beda: jauh lebih kultural. Panggung langka di Asia Tenggara bikin ribuan turis regional terbang ke sini," kata Adib melalui akun instagram pribadinya. Adib menyebutkan, perputaran uang mereka bukan hanya sebatas di tiket dan hotel, tapi juga menyentuh UMKM.
"Terbukti dari ramainya fans mancanegara yang berburu rilisan fisik dan ragam produk lokal di Pasar Santa, Blok M dan sekitarnya," ujarnya.
KIKO Season 4 Episode Sweet and Rescue Minggu, 27 September 2026, Pukul 10.15 Pagi di RCTI
Ia menambahkan, saat ini Jakarta gekah menjadi magnet cultural tourism.
Baca Juga : Konser Kanye West di Jakarta Catatkan Rekor, 20.500 Tiket Dibeli Penonton Mancanegara
"Jakarta bukan cuma jadi agenda venue konser dunia, tapi menjadi magnet cultural tourism," ucapnya. Seperti diketaui Konser musisi dunia Ye ( Kanye West ) di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta , Sabtu (24/10/2026) diproyeksikan memberikan suntikan ekonomi masif bagi DKI Jakarta maupun perekonomian nasional.
Pihak promotor mencatat lebih dari 50.000 pelancong bergerak menuju Ibu Kota pada pekan konser, yang terdiri dari 20.500 wisatawan mancanegara serta lebih dari 30.000 pengunjung luar daerah.
Marketing & Communications Lead Raw Vision Collective selaku promotor konser, Karen Tjahja, menegaskan bahwa perhelatan musik internasional berskala raksasa ini tidak semata-mata menjadi tontonan hiburan, melainkan pendorong roda ekonomi masyarakat.
"Bisa dibayangkan bagaimana dampak ekonominya untuk Jakarta dan Indonesia. Tapi melebihi dari itu, ini akan berdampak pada bisnis UMKM, mulai dari ojol, sopir taksi, warung-warung kecil, hingga hotel dan pusat perbelanjaan," ujar Karen.Halaman ke-1









