Memamerkan Kecantikan, Larangan yang Sering Diremehkan Wanita

Memamerkan Kecantikan, Larangan yang Sering Diremehkan Wanita

Gaya Hidup | sindonews | Minggu, 25 Oktober 2026 - 05:15
share

Tabarruj atau menampakkan kecantikan secara berlebihan di hadapan orang yang bukan mahram menjadi salah satu persoalan yang mendapat perhatian dalam ajaran Islam. Di tengah perkembangan tren busana dan media sosial, muslimah diingatkan untuk tetap menjaga adab berpakaian serta tidak menjadikan penampilan sebagai sarana mencari perhatian.

Islam tidak melarang perempuan tampil cantik, merawat diri, atau mengenakan pakaian yang indah. Namun, ada batasan syariat yang perlu diperhatikan agar penampilan tidak bertentangan dengan prinsip menjaga aurat dan kehormatan diri.

Dalam buku Mukhalafaat Nisaiyyah yang membahas berbagai pelanggaran syariatyang dilakukan kaum, Abdul Lathif bin Hajis Al-Ghamidi turut mengulas persoalan tabarruj. Menurut pembahasan tersebut, perilaku yang dianggap sepele dalam urusan penampilan dapat membawa dampak terhadap diri sendiri maupun kehidupan sosial apabila mengabaikan tuntunan agama.

Karena itu, tabarruj tidak semestinya dipandang hanya sebagai persoalan gaya berpakaian. Pembahasannya juga berkaitan dengan niat, kesopanan, dan tanggung jawab seorang muslimah dalam menjaga kehormatan.

Baca juga:5 Tanda Wanita Akhir Zaman Menurut Hadis, Muslimah Perlu Waspada

Larangan Tabarruj dalam Al-Qur'an

Allah SWT secara tegas mengingatkan kaum wanita agar tidak menampilkan diri dengan cara yang menyerupai perilaku jahiliyah terdahulu. Peringatan tersebut termaktub dalam Surah Al-Ahzab ayat 33.

Allah SWT berfirman:وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ

Artinya: “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliah dahulu, dan laksanakanlah salat, tunaikanlah zakat, serta taatilah Allah dan Rasul-Nya.” (QS Al-Ahzab: 33).

Ayat ini memuat sejumlah tuntunan bagi perempuan, termasuk larangan tabarruj. Para ulama menjelaskan bahwa tabarruj berkaitan dengan tindakan menampakkan perhiasan atau kecantikan dengan cara yang dilarang syariat.

Dalam konteks kehidupan modern, pesan ayat tersebut juga relevan untuk menjadi bahan introspeksi ketika seseorang menampilkan foto, video, atau konten di media sosial demi memperoleh perhatian melalui penampilan fisik.

Meski demikian, penilaian terhadap tabarruj perlu merujuk pada ketentuan syariat dan penjelasan ulama, bukan sekadar mengikuti penilaian pribadi atau tren yang berkembang di masyarakat.

Berpakaian tetapi Telanjang

Selain Al-Qur'an, Rasulullah juga memberikan peringatan tentang perilaku berpakaian yang tidak sesuai dengan prinsip menutup aurat.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda:

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا، قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ، وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ، مُمِيلَاتٌ مَائِلَاتٌ، رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ، لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا...Artinya: “Ada dua golongan penghuni neraka yang belum pernah aku lihat: suatu kaum yang membawa cambuk seperti ekor sapi untuk memukuli manusia, dan para perempuan yang berpakaian tetapi telanjang, berjalan berlenggak-lenggok, serta kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya...” (HR Muslim).

Hadis tersebut memberikan peringatan keras terhadap perilaku yang bertentangan dengan ajaran Islam. Istilah berpakaian tetapi telanjang antara lain dijelaskan oleh para ulama sebagai keadaan ketika seseorang mengenakan pakaian, tetapi pakaian tersebut tidak menutupi tubuh sebagaimana mestinya, misalnya karena terlalu tipis atau memperlihatkan bentuk tubuh.

Sementara itu, gambaran perempuan yang berjalan berlenggak-lenggok dan kepala menyerupai punuk unta menjadi bagian dari penjelasan hadis yang perlu dipahami berdasarkan keterangan ulama.

Peringatan ini hendaknya menjadi pengingat bagi setiap muslimah untuk memperhatikan kesopanan dan ketentuan berpakaian, baik ketika berada di ruang publik maupun saat menggunakan media sosial.

Meneladani Muslimah pada Masa Rasulullah

Al-Qur'an juga memerintahkan perempuan beriman untuk mengulurkan jilbab dan menutupkan kerudung ke bagian dada. Ketika ayat-ayat tersebut turun, para perempuan Muslim pada masa Rasulullah menunjukkan kesungguhan dalam menjalankan perintah Allah.

Allah SWT berfirman:

يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ

Artinya: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” (QS Al-Ahzab: 59).Dalam riwayat yang dinukil dalam Sunan Abi Dawud, disebutkan bahwa Ummu Salamah menceritakan respons perempuan Ansar setelah turunnya ayat tersebut. Mereka keluar dengan mengenakan penutup kepala berwarna gelap sehingga tampak seperti burung gagak.

Riwayat ini menggambarkan kesungguhan mereka dalam menjalankan perintah berpakaian yang dipahami dari ayat tersebut.

Allah SWT juga berfirman dalam Surah An-Nur ayat 31:

وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ

Artinya: “Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya.” (QS An-Nur: 31).

Dalam riwayat Abu Dawud dari Aisyah, disebutkan pujian terhadap perempuan Muhajirin yang segera menyesuaikan pakaian mereka setelah turunnya ayat tersebut. Mereka menggunakan kain untuk menutup kepala dan dada sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT.

Kisah-kisah tersebut menjadi pelajaran tentang pentingnya kesungguhan dalam menjalankan tuntunan agama. Menutup aurat bukan sekadar mengikuti kebiasaan, melainkan bagian dari ketaatan yang perlu dijalankan dengan pemahaman dan kesadaran.

Akhlak dan Ketakwaan Lebih Penting

Islam menempatkan ketakwaan dan akhlak sebagai bagian penting dalam kehidupan seorang muslimah. Penampilan yang baik hendaknya berjalan seiring dengan perilaku terpuji, kepedulian terhadap sesama, serta ketaatan kepada Allah SWT.Dalam sebuah riwayat yang dinukil oleh Al-Baihaqi dalam As-Sunan, dari Abu Udzainah As-Sadafi, disebutkan bahwa Rasulullah bersabda tentang sifat-sifat istri yang baik, di antaranya penyayang, baik hati, dan membantu pasangannya dalam kebaikan.

Riwayat tersebut juga memuat peringatan terhadap perempuan yang suka mempertontonkan kecantikan dan bersikap sombong. Riwayat ini dicantumkan dalam As-Silsilah Ash-Shahihah karya Syekh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, nomor 1849.

Pesan yang dapat diambil adalah pentingnya menjaga keseimbangan antara penampilan dan akhlak. Kecantikan fisik tidak seharusnya membuat seseorang merasa lebih tinggi daripada orang lain atau mengabaikan tuntunan agama.

Pada akhirnya, pembahasan tabarruj bukan bertujuan merendahkan perempuan yang ingin tampil cantik. Islam membolehkan perempuan merawat diri dan berhias dalam batas yang dibenarkan. Namun, seorang muslimah perlu memahami batasan syariat agar penampilan tidak berubah menjadi sarana kesombongan atau tindakan yang melanggar ketentuan agama.

Dengan memahami Al-Qur'an dan hadis secara benar, setiap muslimah diharapkan dapat menjaga kehormatan diri, memperbaiki akhlak, serta menjadikan ketakwaan sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan.

Baca juga:4 Pesan Rasulullah SAW untuk Wanita Akhir Zaman, Nomor 4 Sering Diabaikan

Topik Menarik