5 Tanda Wanita Akhir Zaman Menurut Hadis, Muslimah Perlu Waspada

5 Tanda Wanita Akhir Zaman Menurut Hadis, Muslimah Perlu Waspada

Gaya Hidup | sindonews | Sabtu, 24 Oktober 2026 - 13:25
share

Tanda-tanda wanita akhir zaman menjadi salah satu pembahasan yang kerap menarik perhatian umat Islam. Sejumlah hadis Rasulullah mengingatkan tentang perilaku yang dapat merusak akhlak, melemahkan keimanan, hingga mengancam kehormatan diri.

Dalam Islam, wanita memiliki peran penting dalam kehidupan keluarga dan masyarakat. Sebagai ibu, istri, maupun pendidik, wanita turut berperan dalam membentuk karakter generasi mendatang. Karena itu, menjaga akhlak, kehormatan, dan keimanan menjadi bagian penting dalam kehidupan seorang muslimah.

Namun, dalam memahami tanda-tanda akhir zaman, umat Islam perlu merujuk pada Al-Qur'an dan hadissecara tepat. Tidak semua fenomena sosial yang berkembang saat ini dapat langsung disebut sebagai tanda khusus akhir zaman. Pesan utama dari berbagai riwayat tersebut adalah agar setiap Muslim senantiasa memperbaiki diri dan tidak terjerumus dalam kemaksiatan.

Berikut lima hal yang perlu diperhatikan berdasarkan hadis Rasulullah dan ajaran Islam.

1. Berpakaian, tetapi Tidak Menutup Aurat

Salah satu peringatan Rasulullah berkaitan dengan perempuan yang mengenakan pakaian, tetapi tetap memperlihatkan aurat atau lekuk tubuhnya.

Baca juga:4 Pesan Rasulullah SAW untuk Wanita Akhir Zaman, Nomor 4 Sering Diabaikan

Rasulullah bersabda:

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا، قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ، وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلَاتٌ مَائِلَاتٌ، رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ، لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا...

Artinya: “Ada dua golongan penghuni neraka yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Suatu kaum yang membawa cambuk seperti ekor sapi untuk memukuli manusia, dan para perempuan yang berpakaian tetapi telanjang, berjalan berlenggak-lenggok, serta kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya...” (HR Muslim).Hadis ini memberikan peringatan keras tentang perilaku yang bertentangan dengan prinsip menjaga aurat dan kehormatan diri. Para ulama menjelaskan bahwa istilah berpakaian tetapi telanjang dapat merujuk pada pakaian yang tipis, transparan, atau ketat sehingga tidak menutupi tubuh sebagaimana mestinya.

Di era media sosial, persoalan berpakaian juga berkaitan dengan kebiasaan menampilkan diri di ruang publik digital. Karena itu, seorang muslimah perlu mempertimbangkan bukan hanya tren busana, melainkan juga nilai kesopanan dan tuntunan agama. Menutup aurat bukan semata-mata persoalan penampilan, melainkan bagian dari ketaatan kepada Allah SWT.

2. Terlena oleh Harta dan Kemewahan Dunia

Kecintaan berlebihan terhadap harta dan kemewahan juga dapat menjadi ujian bagi keimanan, baik bagi laki-laki maupun perempuan.

Rasulullah SAW bersabda:

لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لَا يُبَالِي الْمَرْءُ بِمَا أَخَذَ الْمَالَ، أَمِنَ الْحَلَالِ أَمْ مِنَ الْحَرَامِ

Artinya: “Sungguh, akan datang suatu zaman ketika seseorang tidak lagi peduli dari mana ia mendapatkan harta, apakah dari jalan halal atau haram.” (HR al-Bukhari).

Hadis tersebut mengingatkan bahwa keinginan memperoleh kekayaan dapat membuat seseorang mengabaikan batas halal dan haram.

Dalam kehidupan modern, godaan itu dapat muncul melalui gaya hidup konsumtif, persaingan penampilan, hingga keinginan mendapatkan pengakuan di media sosial. Seseorang bisa saja terjebak mengejar kemewahan sampai mengabaikan kewajiban agama dan tanggung jawab terhadap keluarga.

Islam tidak melarang perempuan berhias, memiliki harta, atau menikmati rezeki yang halal. Yang menjadi persoalan adalah ketika dunia menjadi tujuan utama hingga mengalahkan ketaatan kepada Allah SWT.

Karena itu, seorang muslimah hendaknya menempatkan harta sebagai sarana berbuat kebaikan, bukan sebagai ukuran utama kebahagiaan dan kemuliaan seseorang.

3. Tidak Menjaga Adab ketika Keluar Rumah

Islam tidak melarang perempuan keluar rumah untuk bekerja, belajar, beribadah, bersilaturahmi, ataupun memenuhi kebutuhan lainnya. Meski demikian, ajaran Islam menekankan pentingnya menjaga kehormatan dan adab dalam setiap aktivitas.Rasulullah bersabda:

الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ، فَإِذَا خَرَجَتِ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ

Artinya: “Perempuan adalah aurat. Apabila ia keluar, setan akan menghiasinya (dalam pandangan orang lain).” (HR at-Tirmidzi).

Hadis ini menjadi pengingat agar perempuan senantiasa menjaga kehormatan ketika berada di luar rumah. Pesannya bukan berarti perempuan harus selalu berada di rumah, melainkan pentingnya memelihara adab, kesopanan, dan batasan pergaulan sesuai tuntunan Islam.

Perempuan memiliki hak untuk menempuh pendidikan, mengembangkan kemampuan, bekerja, dan berkontribusi bagi masyarakat. Pada saat yang sama, tanggung jawab terhadap keluarga tetap perlu dijalankan bersama anggota keluarga lainnya.

Dengan demikian, yang perlu dihindari bukan aktivitas di luar rumah itu sendiri, melainkan perilaku yang mengabaikan kewajiban, melanggar batas agama, atau menimbulkan kemudaratan.

4. Menyerupai Lawan Jenis dalam Penampilan dan Perilaku

Islam juga memberikan perhatian terhadap perilaku laki-laki maupun perempuan yang sengaja menyerupai lawan jenis dalam hal-hal yang secara khusus menjadi ciri khas masing-masing.

Rasulullah bersabda:

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُتَشَبِّهِينَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ، وَالْمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ

Artinya: “Rasulullah melaknat laki-laki yang menyerupai perempuan dan perempuan yang menyerupai laki-laki.” (HR al-Bukhari).Hadis tersebut menegaskan larangan menyerupai lawan jenis dalam konteks yang dimaksudkan oleh syariat. Namun, penerapannya perlu dilakukan secara cermat dengan memperhatikan penjelasan ulama dan konteks perilaku yang dibahas.

Tidak setiap perbedaan gaya berpakaian, pekerjaan, atau minat otomatis termasuk dalam larangan tersebut. Penilaian tidak seharusnya didasarkan pada prasangka atau sekadar mengikuti standar budaya tertentu.

Pesan yang perlu diperhatikan adalah agar setiap Muslim menjaga identitas dan adabnya sesuai tuntunan agama, sekaligus tidak mudah merendahkan orang lain.

5. Persoalan Kepemimpinan Perempuan

Persoalan kepemimpinan perempuan juga kerap dibahas ketika membicarakan hadis-hadis yang berkaitan dengan akhir zaman.

Rasulullah bersabda:

لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمُ امْرَأَةً

Artinya: “Tidak akan beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusan mereka kepada seorang perempuan.” (HR al-Bukhari).

Hadis ini diriwayatkan dalam konteks berita tentang bangsa Persia yang mengangkat putri Kisra sebagai pemimpin mereka. Para ulama memiliki pembahasan tersendiri mengenai cakupan dan penerapan hadis tersebut dalam persoalan kepemimpinan.

Karena itu, hadis ini tidak tepat jika langsung dijadikan dasar untuk menyimpulkan bahwa setiap perempuan yang menjadi pemimpin pasti membawa kerusakan. Persoalan kepemimpinan perempuan merupakan pembahasan fikih yang memerlukan penjelasan berdasarkan konteks, dalil-dalil terkait, serta pandangan ulama.

Islam juga mengakui kontribusi perempuan dalam kehidupan sosial, pendidikan, ekonomi, dan berbagai bidang kemasyarakatan. Dalam semua peran tersebut, amanah, keadilan, kompetensi, dan tanggung jawab tetap menjadi prinsip penting.Dengan demikian, pembahasan hadis ini sebaiknya tidak diarahkan untuk merendahkan perempuan, melainkan dipahami secara proporsional sesuai penjelasan para ulama.

Menjaga Keimanan di Tengah Fitnah Akhir Zaman

Berbagai hadis Rasulullah mengingatkan umat Islam agar berhati-hati terhadap perilaku yang dapat merusak akhlak dan keimanan. Peringatan tersebut tidak hanya ditujukan kepada perempuan, tetapi juga kepada laki-laki sesuai dengan tanggung jawab masing-masing.

Menjaga aurat, menghindari perilaku berlebihan dalam mengejar dunia, memelihara adab pergaulan, serta menjalankan amanah merupakan bagian dari ikhtiar seorang Muslim untuk tetap istiqamah.

Di tengah perubahan zaman, umat Islam juga perlu menghindari sikap mudah menghakimi orang lain. Nasihat agama seharusnya disampaikan dengan ilmu, kebijaksanaan, dan keteladanan, bukan melalui penghinaan atau generalisasi terhadap kelompok tertentu.

Rasulullah bersabda:

بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا، وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا، فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ

Artinya: “Islam bermula dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing sebagaimana permulaannya. Maka beruntunglah orang-orang yang dianggap asing.” (HR Muslim).

Hadis ini mengingatkan tentang keutamaan orang-orang yang tetap berpegang teguh pada ajaran Islam ketika kebenaran terasa asing di tengah masyarakat.

Pada akhirnya, menghadapi fitnah akhir zaman bukan hanya tentang mengenali perilaku orang lain, tetapi juga melakukan introspeksi diri. Setiap Muslim, baik laki-laki maupun perempuan, perlu terus memperbaiki akhlak, menjaga keluarga, memperkuat ibadah, dan memohon pertolongan Allah SWT agar tetap istiqamah hingga akhir hayat.

Baca juga:Kisah Kekeringan yang Melanda Madinah dan Mukjizat Doa Rasulullah

Topik Menarik