Wabup Indramayu Ditahan dalam Kasus Dugaan Korupsi Tunjangan Rumah DPRD Rp18,7 Miliar
Otoritas Iran menepis klaim bahwa negara tersebut tidak lagi mampu mendukung sekutu-sekutu regionalnya, namun mengakui bahwa sanksi Amerika Serikat dan perang telah menciptakan tantangan keuangan.
Kepala Komando Pusat AS, Brad Cooper, pekan lalu mengklaim bahwa kombinasi antara serangan militer dan blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan di wilayah selatan Iran telah "memberikan pukulan telak" bagi negara tersebut.
Laksamana tersebut menyatakan bahwa AS telah mencegah ekspor minyak mentah Iran senilai setidaknya USD25 miliar dan membantu membekukan aset mata uang kripto senilai sekitar USD350 juta. Hal ini berarti Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) kini tidak mampu membayar tentara mereka, sementara kelompok-kelompok regional yang berafiliasi dengan Iran juga mengalami kekurangan dana.
"Tekanan keuangan terhadap militer Iran telah menjadi begitu signifikan, hingga muncul laporan bahwa kelompok-kelompok milisi yang bersekutu dengan Iran di seluruh kawasan menahan pembayaran bagi tentara mereka sendiri demi menyalurkan dana kembali ke IRGC—yang saat ini juga tidak mampu membayar pasukannya," ujar Cooper. Hal ini digambarkan sebagai kemenangan bagi AS dalam perangnya melawan Iran—sebuah konflik yang sejauh ini hanya membuahkan sedikit kemenangan nyata bagi Washington.
Michael Knights, kepala riset kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara (MENA) di firma penasihat intelijen dan risiko geopolitik Horizon Engage yang berbasis di AS, mengatakan bahwa Hizbullah di Lebanon dan kelompok Houthi di Yaman telah mengalami kesulitan keuangan selama beberapa tahun terakhir.“Ekonomi nasional yang menopang gerakan Hizbullah dan Houthi sedang dalam kondisi sangat buruk, sehingga mereka terus menerima dana serta bantuan dalam bentuk lain—seperti produk bahan bakar—dari Iran,” ujar Knights kepada Al Jazeera.
AS Tuding IRGC Tak Mampu Bayar Tentaranya, Ini 4 Strategi Iran Bisa Bertahan
1. Proksi Iran Mengandalkan Kegiatan Bisnis Ekspor Impor
Selama beberapa dekade, Pasukan Quds dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran telah memasok dana, senjata, komponen, pelatihan, serta keahlian manufaktur kepada kelompok-kelompok sekutu di kawasan tersebut. Menurut para pakar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan pejabat AS, dukungan ini memungkinkan mitra-mitra yang berseberangan dengan AS dan Israel untuk merakit atau memproduksi berbagai jenis senjata secara lokal.Kelompok-kelompok dalam poros ini juga mengandalkan kegiatan bisnis—termasuk ekspor minyak—serta sumbangan dan sumber daya lokal untuk membiayai operasi mereka. Beberapa faksi di Irak bahkan telah diintegrasikan ke dalam pasukan keamanan resmi dan menerima pendanaan pemerintah melalui Pasukan Mobilisasi Populer (Popular Mobilisation Forces).
Departemen Keuangan AS menyatakan bahwa jaringan komersial sekutu di Irak menjual komoditas asal Iran dan menyalurkan hasilnya melalui perantara serta rumah penukaran mata uang.
Menurut Knights, kondisi ini membuat mereka berada dalam posisi keuangan yang lebih baik dibandingkan “saudara-saudara mereka yang lebih miskin” di Hizbullah dan kelompok Houthi. Bahkan, dalam beberapa tahun terakhir, sebagian dana diduga mengalir dari Irak menuju Iran. “Beberapa anggota milisi dan pegawai negeri sipil Irak memang menerima gaji terlambat, sementara di saat yang sama, milisi-milisi Irak justru mengirimkan dana ke luar negeri untuk membantu Iran, kelompok Houthi, dan Hizbullah Lebanon,” ujarnya kepada Al Jazeera.Departemen Keuangan AS pada bulan September menuding Kataib Hizbullah—sebuah kelompok bersenjata Muslim Syiah yang didukung Teheran di negara tetangga, Irak—telah menyedot sumber daya Irak untuk mendukung Iran.
Departemen Keuangan AS juga memaparkan adanya transfer dana dalam jumlah besar sebelumnya dari Pasukan Quds kepada Hizbullah, yang menunjukkan adanya aliran dana dua arah.
Sebuah laporan dari kantor berita Reuters awal bulan ini, dengan mengutip sumber yang tidak disebutkan namanya, menyatakan bahwa Hizbullah menerima dana sebesar 200 juta dolar AS dari Iran pada bulan September. Departemen Luar Negeri AS saat itu menepis laporan tersebut, dengan mengatakan bahwa Hizbullah “berusaha menyelamatkan muka dengan cerita palsu mengenai masuknya uang tunai dari Iran”.
2. Membangun Ketahanan Ekonomi yang Kuat
Ekonomi Iran terus-menerus terpukul dalam beberapa tahun terakhir akibat perang, salah urus di dalam negeri, dan berbagai sanksi.Kondisi ini memicu inflasi yang tak terkendali, lapangan kerja dengan upah rendah, pelemahan mata uang nasional, serta isolasi dari komunitas global bagi 90 juta penduduk Iran.
Hampir tidak ada tanda-tanda perbaikan situasi; Bank Dunia melaporkan awal bulan ini bahwa ekonomi Iran diproyeksikan mengalami kontraksi sebesar 7,7 persen pada tahun fiskal 2026-2027.Pihak berwenang menegaskan bahwa hal tersebut tidak menggoyahkan tekad mereka. Mereka juga menepis penilaian Departemen Keuangan AS yang menyebutkan bahwa tekanan ekonomi dapat menyebabkan hilangnya kendali dalam hitungan bulan.
“Terlepas dari semua tekanan ini, ekonomi Iran telah menunjukkan ketahanan yang sangat baik. Klaim bahwa ekonomi Iran sedang runtuh hanyalah sebuah ilusi,” ujar Kepala Bank Sentral, Abdolnaser Hemmati, awal bulan ini.
3. Mengandalkan Kapasitas Dalam Negeri
Presiden Masoud Pezeshkian mengakui pada hari Minggu bahwa serangan militer dan blokade maritim telah menciptakan masalah besar bagi negara tersebut. Namun, ia menyatakan bahwa pemerintahannya mengandalkan kapasitas dalam negeri untuk menghadapi tekanan itu.Ia mengeklaim bahwa pengelolaan konsumsi telah menghilangkan kebutuhan akan impor bensin—yang seandainya dilakukan, akan menelan biaya 12 miliar dolar AS (itu pun jika tekanan AS mengizinkan impor tersebut). Presiden berjanji akan mengembalikan pendapatan dari kenaikan harga bahan bakar baru-baru ini kepada rumah tangga, melalui penambahan nilai pada voucer pangan elektronik mereka.
Knights mengatakan bahwa pihak berwenang Iran “terjebak dalam siklus eskalasi yang agresif dengan pemerintah AS, terlepas dari bagaimana kondisi ekonomi Iran saat ini”. “Trump bertaruh bahwa menjadi lebih miskin akan membuat rezim Iran lebih fleksibel, namun itu bukanlah taruhan yang baik,” ujarnya.
4. Memiliki Perhitungan Strategis
Negar Mortazavi, seorang peneliti senior di Center for International Policy yang berbasis di Washington, DC, mengatakan bahwa ia memperkirakan Teheran akan terus memprioritaskan kelompok-kelompok sekutu regionalnya, terlepas dari tekanan keuangan yang dihadapi.“Tekanan ekonomi memang membatasi sumber daya militer Iran, tetapi hal itu tidak berarti akan mengubah perhitungan strategis IRGC secara mendasar atau memaksa Teheran untuk menyerah,” katanya kepada Al Jazeera.










