Bertemu PPIA di Canberra, Ibas Dorong Mahasiswa Berkontribusi untuk Indonesia
Wakil Ketua MPR Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas), mengajak mahasiswa Indonesia di Australia untuk mempersiapkan diri menghadapi tantangan zaman, mulai dari persaingan dunia kerja, meningkatnya biaya hidup, hingga kebutuhan membangun kemandirian ekonomi. Ia menegaskan, pendidikan dan pengalaman internasional harus menjadi modal bagi generasi muda untuk meningkatkan daya saing sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan Indonesia.
Pesan tersebut disampaikan Ibas saat bertemu dengan Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia (PPIA) di Australian National University (ANU), Canberra, Australia, Jumat (16/10/2026). Pertemuan tersebut menjadi ruang dialog antara wakil rakyat dan mahasiswa Indonesia yang tengah menempuh pendidikan di Australia, sekaligus memperkuat hubungan antarmasyarakat kedua negara.
Baca juga: Kisah Gio, Lulusan i3L University yang Sukses Jadi Peneliti di Australia
Dalam sambutannya,Ibas menekankan bahwa hubungan Indonesia dan Australia tidak cukup dibangun melalui diplomasi formal antarpemerintah. Hubungan antarlembaga parlemen, pertukaran pendidikan, kerja sama kebudayaan, serta interaksi masyarakat juga memiliki peran penting dalam memperkuat kemitraan kedua negara.
“Indonesia dan Australia ditakdirkan menjadi negara yang berdekatan. Karena itu, kita harus menjaga hubungan yang ramah, baik, dan hangat agar semakin banyak potensi kerja sama yang dapat dikembangkan,” ujar Ibas.Menurutnya, diplomasi kebangsaan melalui pendekatan parliament-to-parliament dapat menjadi jembatan untuk memperkuat komunikasi, memperluas kerja sama, dan mendorong pelaksanaan kemitraan strategis komprehensif Indonesia–Australia. Kerja sama tersebut perlu terus dikembangkan dalam bidang perdagangan, investasi, pendidikan, penelitian, dan kebudayaan.
Baca juga: Kisah 2 Mahasiswa Unair Double Degree di Australia, Kuliah Menerjang Cuaca Dingin
Dia juga memandang mahasiswa Indonesia di Australia sebagai bagian penting dari penguatan hubungan kedua bangsa. Pengalaman akademik, pemahaman lintas budaya, dan jejaring internasional yang dibangun selama menempuh pendidikan dapat menjadi modal berharga bagi Indonesia pada masa mendatang.
Tantangan Generasi Muda
Di tengah perubahan ekonomi dan dinamika dunia kerja, Ibas menekankan pentingnya mempersiapkan generasi muda agar memiliki keterampilan yang relevan, kemampuan beradaptasi, dan kesiapan menghadapi perubahan kebutuhan industri.Namun, tantangan generasi muda tidak berhenti pada persoalan memperoleh pekerjaan. Biaya hidup yang tinggi, kebutuhan tempat tinggal, biaya pendidikan, transportasi, dan kebutuhan sehari-hari turut menjadi pertimbangan penting, terutama bagi mahasiswa dan lulusan baru yang sedang membangun kemandirian ekonomi.
Persoalan mendasarnya bukan sekadar apakah seseorang dapat memperoleh pekerjaan, melainkan juga apakah pekerjaan tersebut memberikan pendapatan yang memadai untuk memenuhi kebutuhan hidup secara layak, mengembangkan diri, dan merencanakan masa depan.Bagi mahasiswa Indonesia di Australia, tantangan tersebut memiliki dimensi tersendiri karena biaya hidup dan kebutuhan pendidikan harus dikelola dalam lingkungan ekonomi yang berbeda dari Indonesia. Sementara itu, bagi generasi muda di Tanah Air, ketersediaan pekerjaan berkualitas, keterjangkauan hunian, daya beli, dan kesesuaian antara upah dengan kebutuhan hidup juga menjadi bagian penting dari agenda kesejahteraan.
Karena itu, pembangunan yang berpihak kepada generasi muda perlu diarahkan tidak hanya pada penciptaan lapangan kerja, tetapi juga pada peningkatan kualitas pekerjaan, penguatan keterampilan, produktivitas, dan terbukanya kesempatan ekonomi yang lebih luas.
Dalam konteks tersebut, Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR ini menilai pendidikan tinggi harus terhubung dengan kebutuhan dunia kerja dan sektor industri. Mahasiswa perlu dibekali kompetensi yang sesuai dengan perkembangan zaman, sementara dunia usaha, pemerintah, dan institusi pendidikan perlu memperkuat kolaborasi agar lulusan memiliki peluang lebih besar untuk memasuki dunia kerja dan mengembangkan karier.
Pendidikan dan Beasiswa
Ibas turut menyoroti pentingnya keberlanjutan dukungan pendidikan, termasuk beasiswa bagi mahasiswa berprestasi yang menghadapi keterbatasan pembiayaan.Menurutnya, kesempatan memperoleh pendidikan berkualitas harus terbuka bagi anak-anak Indonesia dari berbagai latar belakang sosial dan ekonomi. Potensi akademik dan kemampuan seseorang tidak seharusnya terhambat hanya karena keterbatasan biaya.
Dia menilai investasi pada pendidikan merupakan bagian penting dari upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia, memperluas mobilitas sosial, dan menyiapkan generasi yang mampu bersaing di tingkat internasional.Pengalaman belajar di luar negeri, lanjutnya, harus dimanfaatkan untuk menyerap pengetahuan, mempelajari sistem yang berbeda, serta mengembangkan ide dan pendekatan baru yang dapat diterapkan untuk menjawab persoalan pembangunan Indonesia.
Ibas juga mendorong mahasiswa agar tidak hanya berorientasi pada gelar akademik, tetapi turut memikirkan bagaimana ilmu yang diperoleh dapat memberikan manfaat bagi masyarakat. Tantangan seperti kemiskinan, pengangguran, pembangunan infrastruktur berkelanjutan, dan perlindungan lingkungan membutuhkan pemikiran kritis serta solusi yang berbasis pengetahuan.
Adaptif, Disiplin, dan Pantang Menyerah
Di hadapan mahasiswa, Wakil Ketua MPR mengingatkan bahwa perjalanan menuju keberhasilan membutuhkan proses panjang, konsistensi, dan kerja keras. Ia meminta mahasiswa untuk tidak mudah menyerah ketika menghadapi persaingan, ketidakpastian karier, maupun perbedaan pencapaian dengan orang lain.“Fokuslah pada pengembangan diri. Jadilah pribadi yang adaptif, disiplin, dan gigih. Bermimpilah sebesar-besarnya, tetapi iringi dengan kerja keras dan konsistensi,” pesannya.
Ibas menekankan bahwa setiap individu memiliki perjalanan dan kesempatan yang berbeda. Karena itu, mahasiswa perlu terus meningkatkan kapasitas diri, memperluas wawasan, membangun jejaring, dan mempersiapkan berbagai pilihan karier setelah menyelesaikan pendidikan.
Menurut Edhie Baskoro, lulusan perguruan tinggi luar negeri memiliki tanggung jawab untuk memanfaatkan pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh secara produktif. Kontribusi tersebut dapat diwujudkan melalui berbagai jalur, baik sebagai profesional, akademisi, wirausahawan, aparatur negara, diplomat, maupun pelaku pembangunan di daerah.Dalam sesi dialog, mahasiswa menyampaikan beragam pandangan mengenai demokrasi, kepercayaan publik terhadap pemerintah, kebijakan ekonomi, pendanaan pendidikan, lapangan kerja, pembangunan daerah, hingga pengelolaan lingkungan.
Menanggapi aspirasi tersebut, Ibas menegaskan bahwa mendengarkan masyarakat merupakan bagian mendasar dari kepemimpinan dan pelaksanaan fungsi perwakilan rakyat.
“To lead is to listen. Seorang pemimpin harus mau mendengar karena dari sana kita dapat memahami harapan, kebutuhan, dan pemikiran masyarakat,” ujarnya.
Ibas menekankan bahwa masa depan Indonesia membutuhkan generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian sosial, integritas, kemampuan beradaptasi, dan keberanian menghadirkan solusi atas berbagai persoalan bangsa.
“Teruslah belajar sebanyak-banyaknya, tetap adaptif, dan jangan pernah berhenti bermimpi. Pada saatnya nanti, jadilah generasi yang membangun bangsa, mencintai negeri, dan memberikan manfaat seluas-luasnya bagi Indonesia tercinta,” pungkasnya.










