Mengharukan, Ruben Onsu Adopsi Thayaka Putra Onsu agar Ketika Meninggal Ada yang Mendoakan
JAKARTA, iNews.id - Keputusan artis Ruben Onsu mengangkat bayi laki-laki bernama Thayaka Putra Onsu sebagai anak asuh menyimpan cerita yang mengharukan. Presenter tersebut mengaku sempat merenungkan kematian dan siapa yang kelak akan mendoakannya ketika dirinya meninggal dunia.
Pikiran itu muncul ketika Ruben Onsu menjalani ibadah Umrah di Tanah Suci. Sebuah kajian di Masjid Nabawi, Madinah, membuatnya memikirkan kehidupan setelah kematian, terutama tentang doa anak kepada orang tua yang telah meninggal dunia.
Cerita tersebut diungkapkan Ruben melalui kanal YouTube pribadinya, Just Ruben. Dia mengaku tersentuh dengan materi kajian yang membahas tentang anak-anak yang mendoakan orang tua mereka setelah meninggal dunia.
Namun, Ruben menyadari bahwa anak-anak kandungnya memiliki keyakinan yang berbeda dengannya. Hal itu membuatnya merenungkan siapa yang kelak akan mendoakannya ketika ajal menjemput.
"Di mana tema kajiannya itu adalah tentang kalau kita sudah meninggal nanti yang mendoakan adalah anak-anak kita sendiri. Sementara saya sadar betul anak-anak saya kan memiliki keyakinan yang berbeda," ujar Ruben, dikutip Senin (19/10/2026).
Pada saat itu, Ruben mengaku tidak meminta banyak hal tentang akhir kehidupannya. Dia hanya memanjatkan doa agar suatu hari nanti bisa meninggal di tempat yang diharapkannya, yakni Madinah atau Mekkah.
"Saya cuma bilang, ‘Ya Allah, saya inginnya meninggalnya di Madinah atau di Mekkah, tempat-tempat yang memang benar Engkau ridhoi, banyak yang doain, banyak yang sholatin itu aja.’ Saya nggak terlalu banyak berharap tentang akhir cerita saya nanti,” tuturnya.
Siapa sangka, sekitar dua pekan setelah kembali ke Indonesia, Ruben justru dipertemukan dengan seorang bayi laki-laki yang kemudian diberi nama Thayaka Putra Onsu.
Pertemuan itu bukan bagian dari rencana Ruben untuk mengadopsi anak. Dia bahkan tidak pernah secara khusus merencanakan untuk mengangkat seorang bayi laki-laki ke dalam keluarganya.
Awalnya, Ruben mengetahui kondisi Thayaka melalui Melanie Subono, yang saat itu menangani bayi tersebut lewat kegiatan sosialnya. Thayaka disebut ditemukan dalam kondisi memprihatinkan sebelum mendapatkan perawatan di rumah sakit.
Setelah kondisi Thayaka membaik, Ruben mulai berinteraksi dengannya. Dia mengaku terkejut ketika bayi tersebut memberikan respons saat dirinya menyapa melalui panggilan video.
Momen sederhana itu membuat Ruben kembali teringat pada doa yang pernah dipanjatkannya di Tanah Suci. Dia pun memutuskan untuk kembali menunaikan sholat dan memohon petunjuk sebelum mengambil keputusan besar dalam hidupnya.
“Setelah Thayaka sehat, sembuh, dia merespons saya itu, di situlah saya sholat lagi. ‘Bolehkah saya izinkan ya Allah untuk mengadopsi anak ini?’” katanya.
Ruben kemudian kembali menjalankan sholat malam untuk memohon kemudahan. Dia berharap, jika memang ditakdirkan mengasuh Thayaka, prosesnya dapat berjalan lancar.
Di tengah perjalanan tersebut, Ruben juga menemukan sejumlah hal yang terasa istimewa baginya. Salah satunya berkaitan dengan bulan kelahiran Thayaka yang sama dengan putra angkatnya, Betrand Peto atau Onyo, yakni Maret.
Sementara itu, kedua putrinya, Thalia dan Thania, sama-sama lahir pada Juni. Kesamaan tersebut membuat Ruben merasa bulan Maret dan Juni memiliki arti khusus dalam kehidupannya sebagai seorang ayah.
“Thayaka lahir di bulan Maret. Anak saya Onyo juga lahir di bulan Maret. Thalia, Thania sama-sama bulan Juni. Jadi dua bulan spesial buat saya: Maret dan Juni,” ungkapnya.
Bagi Ruben, kehadiran Thayaka menjadi bagian dari perjalanan hidup yang tidak pernah direncanakannya. Keputusan untuk mengasuh bayi tersebut pun berawal dari perenungan mendalam, pertemuan yang tidak terduga, hingga doa yang kembali dipanjatkannya.
Kini, Ruben berharap proses pengasuhan Thayaka dapat berjalan dengan baik. Dia juga ingin bayi tersebut tumbuh sehat dan mendapatkan kehidupan yang layak.
Kisah Ruben dan Thayaka pun memperlihatkan bagaimana sebuah keputusan besar dalam hidup bisa berawal dari momen sederhana yang meninggalkan kesan mendalam. Bagi Ruben, pertemuan dengan Thayaka bukan sekadar tentang kehadiran anggota keluarga baru, tetapi juga perjalanan personal yang membuatnya kembali merenungkan doa, kehidupan, dan kematian.









