KRI Sriwijaya-100 Bakal Jadi Pangkalan Terapung untuk Operasi Militer dan Tanggap Bencana
Kementerian Pertahanan (Kemhan) menyiapkan KRI Sriwijaya-100 sebagai pangkalan terapung untuk mendukung operasi pertahanan dan penanganan bencana. Kapal ini dirancang untuk memperluas jangkauan operasi di wilayah kepulauan, termasuk membantu masyarakat di daerah yang sulit dijangkau melalui jalur darat.
Kepala Biro Informasi Pertahanan Kemhan Brigjen Rico Sirait mengatakan, keberadaan KRI Sriwijaya-100 menjadi salah satu upaya memperkuat kemampuan Indonesia dalam menjalankan operasi maritim.
"Kini, Indonesia memiliki kapal yang dapat menjadi pangkalan terapung di laut, bernama KRI Sriwijaya-100," ujar Rico dalam keterangan tertulis, dikutip Minggu (18/10/2026).
Baca Juga: TNI AL Kaji Satuan Baru untuk Kapal Induk KRI Sriwijaya
Kapal tersebut tidak hanya diproyeksikan untuk mendukung operasi militer, tetapi juga misi kemanusiaan. Dalam situasi bencana, KRI Sriwijaya-100 dapat dimanfaatkan untuk mendistribusikan bantuan logistik, mengevakuasi korban, hingga mendukung operasi medis ketika akses darat terputus.Dari sisi spesifikasi, KRI Sriwijaya-100 memiliki panjang sekitar 180 meter dengan bobot mencapai 12.000 ton. Kapal ini dilengkapi geladak luas yang dirancang untuk mendukung pengoperasian berbagai jenis helikopter dan pesawat nirawak atau drone dari tengah laut.
"Kemampuan ini sangat penting bagi Indonesia yang memiliki wilayah laut yang luas, ribuan pulau, dan risiko bencana yang tinggi," kata Rico.
Selain itu, KRI Sriwijaya-100 diproyeksikan mendukung pelaksanaan Operasi Militer Selain Perang (OMSP). Operasi tersebut mencakup berbagai kegiatan di luar tugas tempur, termasuk pengiriman bantuan dalam skala besar, evakuasi korban bencana, serta penanganan keadaan darurat di wilayah terisolasi.
Pengembangan kapal ini juga menjadi bagian dari upaya memperkuat industri pertahanan dalam negeri. Proses pemeliharaan dan modifikasi melibatkan industri nasional untuk meningkatkan penguasaan teknologi, pengetahuan, serta kapasitas industri pertahanan Indonesia.
Di sisi operasional, awak TNI Angkatan Laut dipersiapkan untuk mengoperasikan kapal tersebut secara profesional agar dapat menjalankan tugas pertahanan maupun misi kemanusiaan. Rico menjelaskan, nama Sriwijaya dipilih untuk mengingatkan kembali sejarah Indonesia sebagai bangsa maritim."Nama Sriwijaya mengingatkan kita pada sejarah besar Indonesia sebagai bangsa maritim. Hari ini, semangat itu kembali dihadirkan dalam kekuatan pertahanan modern."
Pemerintah berharap penguatan armada maritim tidak hanya mendukung upaya menjaga kedaulatan wilayah, tetapi juga meningkatkan kemampuan Indonesia dalam merespons bencana dan memberikan bantuan kepada masyarakat di berbagai daerah.










