AS Mulai Berburu Migas hingga Mineral Langka di Arktik, tapi Tak Semudah Itu
Amerika Serikat (AS) meningkatkan perhatian terhadap potensi minyak, gas, dan mineral langka di kawasan Arktik, termasuk Greenland dan Alaska di tengah persaingan global memperebutkan sumber daya alam. Presiden AS Donald Trump menyatakan eksplorasi besar-besaran di Greenland akan segera dimulai meskipun realisasinya menghadapi tantangan lingkungan, infrastruktur, dan geopolitik.
"Eksplorasi besar-besaran minyak, gas, dan mineral akan segera dimulai di Greenland kita yang baru dan indah," tulis Trump melalui platform Truth Social dikutip dari CBC, Sabtu (17/10).
Baca Juga:Kapal Induk China Bermanuver di Dekat Okinawa, Jepang Kerahkan Jet Tempur
Pernyataan tersebut disampaikan setelah Trump menghadiri acara kampanye di Wasilla, Alaska, untuk mendukung Senator Republik Dan Sullivan yang mencalonkan diri kembali. Ambisi pengembangan sumber daya di Arktik juga muncul ketika kenaikan harga energi membebani masyarakat AS menjelang pemilihan paruh waktu pada November 2026, di tengah dampak perang AS terhadap Iran.
Meski menyimpan potensi sumber daya alam yang besar, eksplorasi dan ekstraksi di Greenland selama puluhan tahun belum berkembang melampaui tahap penjajakan. Mineral tanah jarang di wilayah itu terperangkap dalam batuan, sementara potensi minyak dan gas lepas pantainya berada di kawasan yang tertutup es Arktik, sehingga pengembangannya membutuhkan teknologi dan biaya besar.Greenland memiliki cadangan mineral tanah jarang yang dibutuhkan untuk memproduksi komputer, telepon pintar, baterai, serta teknologi energi surya dan angin. China saat ini mendominasi pasokan global mineral strategis tersebut, sehingga pemerintahan Trump berupaya mengurangi ketergantungan AS terhadap pasokan dari Beijing. Survei Geologi AS juga mengidentifikasi potensi cadangan minyak dan gas alam yang signifikan di lepas pantai Greenland.
Ambisi Trump muncul kurang dari sebulan setelah ia menandatangani kesepakatan dengan para pemimpin Denmark dan Greenland untuk memperkuat keamanan di kawasan Arktik dan Atlantik Utara. Kesepakatan tersebut tidak memberikan hak eksplorasi khusus kepada AS, tetapi membatasi sebagian investasi dari negara-negara non-NATO di sektor strategis serta membuka jalan bagi penambahan pangkalan militer AS di Greenland.
Greenland merupakan wilayah otonom dalam Kerajaan Denmark, bukan bagian dari AS. Trump telah menyatakan keinginannya untuk mengakuisisi pulau tersebut sejak 2019 dan kembali menekan Denmark pada masa jabatan keduanya, termasuk dengan ancaman pengambilalihan wilayah. Kesepakatan keamanan itu tetap berlaku apabila Greenland kelak memilih merdeka.
Baca Juga:Harta Karun Minyak & Mineral Greenland Siap Dikeruk, Benteng Baru Keamanan Energi AS
Selain sumber daya alam, Trump menilai posisi geografis Greenland sangat penting bagi pertahanan AS dan Eropa. Lokasinya dinilai strategis untuk mendeteksi ancaman rudal, pesawat nirawak, dan persenjataan lain yang melintasi kawasan Arktik.
Kehadiran militer AS di Greenland menyusut sejak 1945, dari ribuan personel di 17 pangkalan dan instalasi menjadi sekitar 200 personel di Pangkalan Antariksa Pituffik di barat laut pulau tersebut. Pangkalan itu mendukung operasi peringatan rudal, pertahanan rudal, dan pengawasan antariksa bagi AS dan NATO. Trump sebelumnya juga menyatakan rencana memperbesar kehadiran militer AS di lokasi strategis termasuk melalui pembangunan dua pangkalan militer utama.










