Serangan di Riyadh dan Selat Hormuz Bikin Harga Minyak Bertahan di Atas USD100 per Barel
Pasar energi global mengalami gejolak tajam pada awal pekan perdagangan, Senin (12/10/2026). Kenaikan pasokan BBM Rusia serta klaim kesepakatan genjatan senjata energi antara Rusia dan Ukraina sempat mendinginkan harga minyak dunia.
Namun eskalasi konflik di Timur Tengah, termasuk serangan rudal ke Bandara Riyadh serta hantaman drone terhadap kapal tanker di Selat Hormuz membuat harga minyak acuan Brent tetap bertahan di level fantastis di atas USD100 per barel.
Pada perdagangan, Senin pagi (12/10/2026), harga minyak mentah acuan Brent merosot USD1,54 atau 1,47 ke level USD103,18 per barel. Sementara itu, minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) terkoreksi USD1,54 setara dengan 1,68 menjadi USD90,31 per barel.
Baca Juga: Krisis BBM Guncang Dunia, IEA Percepat Pelepasan 100 Juta Barel Cadangan Minyak
Kontrak berjangka ICE Gasoil (diesel) bahkan merosot hingga 3 ke level USD1,436 per barel. Koreksi harga minyak terjadi setelah Presiden AS, Donald Trump mengumumkan pada hari Minggu bahwa Ukraina dan Rusia telah menyetujui "gencatan senjata fasilitas energi" (energy ceasefire).Pengumuman ini menyusul kesepakatan impor diesel AS dari Moskow sebesar 300.000 ton (2,25 juta barel) secara mendadak, disusul 500.000 ton pada November, dan 1 juta ton berikutnya. Meski demikian, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy menyatakan masih menunggu rincian resmi mengenai gencatan senjata tersebut, sementara Kremlin belum memberikan komentar resmi.
Analis Utama KCM Trade, Tim Waterer menilai pengumuman tersebut cukup untuk meredakan tekanan pasokan jangka pendek. "Pernyataan ini meredakan sebagian tekanan pasokan mendesak. Namun pertanyaan besar masih membayangi keabsahan dan daya tahan gencatan senjata tersebut. Tanpa bukti yang lebih jelas di lapangan, ruang penurunan harga minyak akan sangat terbatas," tegas Waterer.
Baca Juga: Harga Minyak Naik Tembus USD103 per Barel, Serangan Tanker dan Badai Isaias Ancam Pasokan
Di balik penurunan tipis harga minyak, bahaya besar justru mengintai dari kawasan Teluk. Kelompok Houthi mengklaim bertanggung jawab atas serangan rudal mematikan ke Bandara Internasional Riyadh pada hari Sabtu yang menewaskan 13 orang dan melukai lebih dari 300 orang, disusul gelombang serangan baru pada hari Minggu.Presiden Trump menyatakan pada hari Sabtu bahwa AS sedang mempertimbangkan untuk bergabung bersama Arab Saudi melancarkan serangan balasan terhadap Houthi -sebuah eskalasi langsung dari Perang Iran-AS-Israel yang meletus sejak Februari lalu.
Tak hanya itu, laporan United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) mengonfirmasi bahwa aksi sabotase di Selat Hormuz kembali marak. Pelabuhan Sohar, Oman melaporkan sebuah kapal tanker dihantam drone misterius di area lego jangkar.
Sedangkan di Selat Hormuz, kapal tanker lain mengalami kerusakan parah akibat hantaman proyektil tak dikenal.
Goldman Sachs Naikkan Proyeksi Minyak Brent
Merespons tingginya risiko geopolitik di Timur Tengah, raksasa perbankan Goldman Sachs resmi menaikkan proyeksi harga minyak mentah Brent untuk bulan Desember 2026 menjadi USD90 per barel (naik dari estimasi sebelumnya USD85).Analis Goldman Sachs yang dipimpin Daan Struyven mengestimasi, adanya risk premium (premi risiko perang) sebesar lebih dari USD20 per barel yang tertanam dalam harga minyak saat ini:
"Kami mempertahankan skenario dasar bahwa penyesuaian pasokan di Timur Tengah pada akhirnya akan menekan harga minyak mentah, namun potensi eskalasi baru tetap menimbulkan risiko kenaikan (upside risk) yang sangat signifikan," tulis tim analis Goldman Sachs.
Di sisi lain, produsen energi raksasa seperti Shell, Chevron, dan BP kini tengah berpacu memulihkan produksi di Teluk Meksiko setelah Badai Isaias menerjang fasilitas anjungan lepas pantai pada Sabtu pagi.










