Bayang-bayang Winter Is Coming, Pertemuan IMF-World Bank Dikepung Perang Teluk & Krisis Utang Dunia

Bayang-bayang Winter Is Coming, Pertemuan IMF-World Bank Dikepung Perang Teluk & Krisis Utang Dunia

Ekonomi | sindonews | Senin, 12 Oktober 2026 - 10:49
share

Puluhanmenteri keuangan, gubernur bank sentral, dan pengambil kebijakan ekonomi dari seluruh penjuru dunia pekan ini berbondong-bondong memadati Bangkok, Thailand. Namun, di balik megahnya Queen Sirikit National Convention Center, pertemuan tahunan Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia (World Bank) kali ini dinaungi suasana mencekam, guncangan pasokan energi terparah sepanjang sejarah, krisis utang global, dan ancaman perang Iran yang telah memasuki bulan kedelapan.

Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva menyuarakan peringatan, yang sangat dingin menjelang pembukaan perhelatan besar yang dihadiri oleh lebih dari 18.000 peserta tersebut. "Winter is coming (Musim dingin sedang tiba)," tegas Georgieva, menggambarkan betapa rapuhnya fondasi ekonomi dunia saat ini.

Sorotan publik tertuju pada ketidakhadiran Menteri Keuangan AS, Scott Bessent yang memilih bertahan di Washington untuk mengurusi agenda domestik, sebuah langkah yang berpotensi memicu kekecewaan di antara para menteri keuangan G20 di tengah eskalasi perang dan ketegangan politik luar negeri. Namun, Ketua Federal Reserve, Kevin Warsh dipastikan hadir untuk berdiskusi langsung dengan pimpinan IMF.

Presiden Bank Dunia, Ajay Banga mengungkapkan, bahwa meski pertumbuhan ekonomi global sempat bertahan pasca-penutupan Selat Hormuz oleh Iran, tekanan baru kini datang beruntun dari berbagai penjuru. Baca Juga: IMF Wanti-wanti, AI, Krisis Energi dan Lonjakan Utang Ancam Ekonomi Global

Guncangan Pasokan BBM, memicu lonjakan tajam harga diesel akibat kehancuran kapasitas kilang. Selain itu kenaikan harga pupuk yang mengancam rantai pasok makanan.

Ditambah ancaman bencana iklim membayangi, dimana gelombang fenomena iklim "Super" El Niño yang diproyeksikan para ahli dapat memicu hingga 450.000 kematian akibat gelombang panas extreme. Baca Juga: Utang Global Cetak Rekor, IMF Desak Pemerintah Segera Bertindak

"Ini bukan hanya soal El Niño berdiri sendiri, melainkan kombinasinya. Apa yang terjadi pada harga pupuk? Biaya energi? Dan beban utang? Kombinasi inilah yang menciptakan tantangan raksasa," jelas Banga.

Ledakan Utang Negara Berkembang: Bayar Bunga Tembus USD400 Miliar

Satu masalah terbesar yang membayangi para pembuat kebijakan di Bangkok adalah beban utang publik global yang menyentuh level tertinggi sejak Perang Dunia II dan diproyeksi melampaui 100 dari PDB dunia sebelum 2030.

Negara-negara berkembang menjadi pihak yang paling nestapa. Pada tahun 2026 saja, negara berkembang dihadapkan pada tagihan pembayaran utang luar negeri sebesar USD400 miliar, dengan beban pembayaran bunga rata-rata menyedot lebih dari 10 dari total pendapatan negara.

Para ekonom mengkritik syarat-syarat pinjaman baru IMF yang memaksa negara-negara miskin melakukan pengetatan anggaran (austerity). Kasus di Kenya menjadi bukti nyata, di mana upaya pemangkasan anggaran dan kenaikan pajak demi menghindari default justru memicu gelombang demonstrasi besar-besaran dari kaum muda.

Kaitan Erat Antara Keamanan Nasional dan Keuangan Dunia

Pertemuan tahunan di Bangkok -yang terpaksa mengambil rute penerbangan memutar akibat konflik keamanan pasca-serangan di bandara-bandara Arab Saudi- menegaskan satu realita baru, bahwa keamanan nasional dan keuangan internasional kini tak bisa dipisahkan.

Analis dari Atlantic Council, Josh Lipsky mengingatkan, para pembuat kebijakan agar tidak lagi naif memandang krisis geopolitik sebagai isu terpisah dari ekonomi.

"Apa yang sedang kita alami saat ini dengan Iran dan penutupan Selat Hormuz memiliki hubungan langsung dengan apa yang terjadi tiga tahun lalu. Para pembuat kebijakan harus lebih proaktif dan menyadari bahwa mereka tidak lagi hidup di dunia yang dulu," pungkas Lipsky.

Topik Menarik