IHSG Pekan Ini Berpotensi Rebound di Kisaran Level 6.227-6.231

IHSG Pekan Ini Berpotensi Rebound di Kisaran Level 6.227-6.231

Ekonomi | sindonews | Senin, 12 Oktober 2026 - 07:48
share

Taufiq Fredrik PasiakDekan Fakultas Kedokteran (FK) UPN Veteran Jakarta Pengampu Peminatan Neurosains, Kesehatan Mental dan Performa Manusia Prodi S2 Biomedis FK UPN Veteran Jakarta

PADA 10 Oktober, dunia memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia. WHO memilih tema yang menarik, Lived Experiences Heard: Real Voices, Real Change, sebuah ajakan agar kita, terutama yang berkecimpung dalam urusan kesehatan mental, mau sungguh-sungguh mendengarkan manusia yang menderita. Bagi tenaga medis, ajakan ini tidak ringan.

Kita dididik bertahun-tahun untuk tajam menegakkan diagnosis, dan tanpa sadar bisa kehilangan kepekaan memahami penderitaan. Siapa pun yang pernah duduk agak lama di samping orang sakit tahu bahwa pembicaraan pelan-pelan berpindah dari keluhan tubuh ke soal hidup itu sendiri.

Pasien mulai bertanya mengapa semua ini menimpa dirinya, dan apakah masih ada gunanya bertahan. Pertanyaan seperti itu tidak ada di lembar anamnesis, padahal sering kali di situ beban terberatnya.

Ketika datang ke dokter atau psikolog, seseorang tidak hanya membawa keluhan, gejalanya atau tubuhnya belaka. Ia membawa seluruh riwayat hidupnya, dan di Indonesia, riwayat itu jarang terlepas dari keterlibatannya dengan Tuhan menurut agama yang diyakininya.

Seorang ayah yang kehilangan anak mempertanyakan mengapa Tuhan mengambilnya. Orang yang depresi merasa doanya tak lagi didengar. Ada pula ibu yang sanggup bertahan karena yakin penderitaannya tidak sia-sia di mata-Nya.

Anehnya, begitu pintu ruang periksa tertutup, soal Tuhan ini kerap tertinggal di luar. Padahal negara kita tidak pernah menyingkirkan agama dari ruang publik dan hukum kesehatan jiwa kita menyebut dimensi spiritual secara tegas.Saya ikut menyaksikan bagaimana kata spiritual itu masuk ke dalam undang-undang. Menjelang pengesahan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa, Kementerian Kesehatan meminta saya turut mewakili pemerintah dalam pembahasan bersama Kelompok Kerja RUU Kesehatan Jiwa di DPR RI. Seingat saya, kami hadir bersama almarhum dr. G. Pandu Setiawan, Sp.KJ dan dr. Eka Viora, Sp.KJ.

Salah satu yang dibahas adalah Pasal 1, yang mendefinisikan kesehatan jiwa sebagai kondisi ketika seseorang dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual, dan sosial. Saya diminta menjelaskan makna kata “spiritual” dalam rumusan itu.

Kata tersebut akhirnya bertahan hingga RUU disahkan. Sembilan tahun kemudian, Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan kembali memuatnya.

Negara sudah 3 kali mengakuinya, termasuk dalam UU Kesehatan nomor 36/2009. Ironisnya, Pendidikan kesehatan dan kedokteran, apatah lagi ruang pelayanan klinik belum sepenuhnya mengikutinya.

Mahasiswa kedokteran dan kesehatan dilatih menanyakan pola tidur, nafsu makan, suasana perasaan, kecemasan, trauma, riwayat obat, dan hubungan keluarga. Tentu semuanya penting, tetapi jarang ada yang dilatih bertanya; apa yang membuat Anda masih ingin bertahan hidup? Apakah keyakinan spiritual menolong Anda saat ini? Pernahkah Anda merasa Tuhan meninggalkan atau menghukum Anda?

Pertanyaan semacam ini bisa membuka pintu yang selama ini terkunci. Kita sudah mengakui manusia sebagai makhluk spiritual di atas kertas. Kita belum terlatih membacanya ketika ia duduk di hadapan kita.

Persoalannya juga lebih rumit daripada beragama atau tidak. Andrew Newberg (2009), salah satu perintis neuroteologi, mengembangkan temuan Baylor Religion Survey tentang empat gambaran Tuhan: Tuhan yang otoriter dan menghukum (Authoritarian God), Tuhan yang penuh kasih dan menolong (Benevolent God), Tuhan yang kritis dan terus menilai (Critical God), serta Tuhan yang jauh dari urusan sehari-hari (Distant God). Dalam buku saya Tuhan dalam Otak Manusia (Mizan, 2010), saya juga menelusuri hal yang sejalan, terutama, bagaimana setiap orang yang percaya memberi makna kepada Tuhannya. Judul itu tidak bermaksud menempatkan Tuhan di dalam otak.

Kedekatan manusia dengan Tuhan selalu melewati struktur kognitifnya sendiri. Karena itu, tidak ada dua orang yang membawa gambaran Tuhan yang persis sama.

Dua orang bisa sama rajin beribadah, tetapi hidup dalam dunia batin yang berbeda. Saat gagal, yang satu berkata, “Tuhan masih menyayangi saya.” Yang lain bertanya cemas, “Dosa apa yang membuat Tuhan menghukum saya?” Di formulir rumah sakit, keduanya tercatat sama beragama. Di dalam diri mereka, yang satu sedang dipeluk, yang lain sedang diadili.

Bertanya apakah pasien percaya kepada Tuhan belum cukup. Kita perlu tahu Tuhan seperti apa yang hidup dalam pengalamannya.

Agama juga tidak selalu menyembuhkan. Keyakinan bisa memberi harapan, makna, pengampunan, komunitas, dan alasan untuk tetap hidup. Psikolog Kenneth Pargament (1998) menyebutnya koping religius positif.

Tetapi keyakinan yang sama dapat berubah menjadi rasa bersalah berlebihan, takut akan hukuman, stigma terhadap gangguan jiwa, hingga penolakan terhadap pengobatan. Pada keadaan tertentu, tema keagamaan bahkan masuk ke dalam waham. Neurosains dapat meneliti hubungan doa, meditasi, syukur, dan pengampunan dengan stres dan regulasi emosi.

Yang diteliti adalah otak manusia yang sedang percaya, berharap, dan takut. Tuhan tidak pernah tertangkap oleh mesin MRI.Karena itu, pendidikan kesehatan perlu mengembangkan kompetensi klinis spiritual. Dokter tidak perlu menjadi ustadz, pastor, pendeta, atau biksu.

Psikiater tidak harus mendoakan pasien, dan psikolog tidak perlu memberi fatwa. Yang dibutuhkan adalah kemampuan mengenali, menilai, dan merujuk persoalan spiritual ketika relevan.

Dokter perlu bisa membedakan pasien yang dikuatkan oleh imannya dengan pasien yang sedang bergulat dalam krisis keagamaan. Ia juga perlu tahu batas profesinya dan bekerja sama dengan pendamping rohani. Agama tidak mengambil alih kedokteran.

Kedokteran tidak mengambil alih agama. Keduanya bertemu pada manusia yang sedang menderita. Di Indonesia, persoalan ini bukan wacana akademik. Banyak keluarga membawa anggotanya yang mengalami gangguan jiwa lebih dulu kepada kiai, pendeta, atau orang pintar, jauh sebelum ke puskesmas.

Sebagian pulang dengan ketenangan, sebagian lain pulang dengan rantai di kaki, sebab praktik pasung masih kita temukan hingga hari ini. Kita bisa saja menyalahkan keluarga yang dianggap tidak paham kesehatan jiwa. Tetapi bisa jadi sebabnya justru ada pada kita berupa dunia medis terlalu lama berbicara dengan bahasa yang tidak dikenali oleh iman pasiennya.

Akibatnya, orang memilih pintu yang lebih akrab. Selama dokter dan pemuka agama bekerja di jalur yang terpisah, pasien akan terus terombang-ambing di antara keduanya. Karena itu, kompetensi klinis spiritual perlu masuk ke kurikulum pendidikan dokter dan psikolog, bukan sebagai mata kuliah tambahan yang dihafal lalu dilupakan, melainkan sebagai keterampilan yang diuji di ruang praktik.

Rumah sakit dan puskesmas perlu memiliki jalur rujukan yang jelas kepada rohaniwan yang terlatih memahami gangguan jiwa. Negara sudah menulis kata “spiritual” di dalam undang-undang. Tugas berikutnya adalah memastikan kata itu tidak hanya hidup di lembaran hukum, tetapi juga di ruang periksa tempat seseorang datang dengan luka yang tak terlihat.

George Engel (1977) memperkenalkan model biopsikososial dan membebaskan kedokteran dari anggapan bahwa gangguan jiwa hanyalah soal otak yang rusak. Daniel Sulmasy (2002) kemudian menambahkan dimensi spiritual.

Manusia hidup dari cerita tentang dirinya, antara lain, untuk apa ia hidup, mengapa ia harus bertahan, kepada siapa ia berharap. Tidak semua orang menjawabnya lewat agama, dan itu harus dihormati. Tetapi bagi banyak orang Indonesia, jawabannya bersentuhan dengan Tuhan.

Mengabaikannya tidak membuat layanan kesehatan lebih ilmiah. Kita justru membuang sebagian data tentang manusia yang sedang kita rawat.

Hari Kesehatan Mental Sedunia mengajak kita mendengarkan pengalaman manusia apa adanya. Langkah pertamanya bisa dimulai dari ruang konsultasi yang sederhana. Seorang pasien masuk membawa tubuh, kecemasan, keluarga, masa lalu, harapan, dan mungkin juga Tuhannya.

Berapa banyak dari dirinya yang kita izinkan ikut masuk? Kesehatan mental Indonesia tidak perlu memilih antara sains dan agama. Kita membutuhkan sains yang cukup berani untuk kritis terhadap agama, dan cukup rendah hati untuk mengakui bahwa manusia lebih luas daripada skor pemeriksaan.

Tugas kita bukan membawa agama untuk menggantikan ilmu. Tugas kita adalah membawa manusia kembali, secara utuh, ke dalam dunia ilmu pengetahuan.

Topik Menarik