5 Pemimpin Dunia yang Pernah Berkuasa Tanpa Memiliki Ijazah SMA

5 Pemimpin Dunia yang Pernah Berkuasa Tanpa Memiliki Ijazah SMA

Global | sindonews | Kamis, 8 Oktober 2026 - 14:51
share

Publik Indonesia sedang gaduh memperbincangkan polemik dokumen pendidikan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Ini dipicu oleh putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang menyatakan tidak menemukan bukti meyakinkan bahwa Gibran memiliki ijazah, sertifikat, atau diploma pendidikan luar negeri yang dapat dijadikan dasar penyetaraan dengan pendidikan minimal sekolah menengah atas (SMA) atau sederajat.

Polemik ijazah Gibran mengingatkan sejarah dunia, di mana sejumlah pemimpin negara berhasil mencapai puncak kekuasaan meski pendidikan formal mereka sangat terbatas—tak sampai SMA.

Baca Juga: Media Asing Soroti MK Tolak Gugatan Wakil Presiden Gibran terkait Ijazah SMA

Namun, penting untuk diketahui bahwa tidak menyelesaikan pendidikan SMA juga tidak otomatis berarti para pemimpin dunia tersebut sama sekali tidak pernah memperoleh pendidikan formal. Hal itu berbeda dengan Indonesia yang mensyaratkan calon presiden dan calon wakil presiden harus berpendidikan minimal tamat SMA.

5 Pemimpin Dunia yang Pernah Berkuasa Tanpa Punya Ijazah SMA

1. Idi Amin (Presiden Uganda 1971-1979)

Idi Amin merupakan salah satu contoh paling jelas tentang pemimpin negara dengan pendidikan formal yang sangat terbatas.

Amin memerintah Uganda dari 1971 hingga 1979 setelah menggulingkan Presiden Milton Obote melalui kudeta militer pada 25 Januari 1971.

Catatan Encyclopedia.com menyebut Amin hanya memperoleh pendidikan hingga kelas empat. Setelah itu, dia bergabung dengan King's African Rifles, pasukan kolonial Inggris, pada 1946.

Laman History juga mencatat bahwa sebelum bergabung dengan pasukan kolonial tersebut, Amin hanya memperoleh rudimentary education atau pendidikan dasar yang sangat terbatas. Dari lingkungan militer inilah kariernya berkembang.Amin kemudian naik melalui jenjang kepangkatan militer dan pada 1966 telah menjadi komandan angkatan bersenjata Uganda. Lima tahun kemudian, dia mengambil alih pemerintahan melalui kudeta dan mendeklarasikan diri sebagai presiden.

Dengan demikian, dalam kasus Amin, bukti mengenai pendidikan formal yang tidak mencapai jenjang menengah cukup kuat. Dia bahkan diketahui hanya memperoleh pendidikan sekitar tingkat sekolah dasar awal.

2. Mobutu Sese Seko (Presiden Zaire/Kongo 1965-1997)

Joseph-Desire Mobutu, yang kemudian dikenal sebagai Mobutu Sese Seko, memimpin Kongo—yang kemudian berganti nama menjadi Zaire—selama lebih dari tiga dekade.

Mobutu mengambil alih kekuasaan pada 1965 dan menjadi penguasa negara tersebut hingga 1997.

Riwayat pendidikannya menunjukkan bahwa dia tidak menyelesaikan pendidikan menengah.

Menurut Encyclopedia.com, Mobutu mulai bersekolah di Saint-Anne Primary School di Leopoldville pada 1937. Setelah ayahnya meninggal pada 1938, dia meninggalkan sekolah tersebut.

Dia kemudian kembali menempuh pendidikan dasar dan menengah awal di School of the Christian Brothers di Coquilhatville pada 1946. Namun, pada 1948 dia dikeluarkan dari sekolah karena memperpanjang masa libur tanpa izin. Pengusiran tersebut sekaligus menandai berakhirnya pendidikan sekolahnya.

Setelah keluar dari sekolah, Mobutu masuk ke tentara kolonial Belgia pada 1950. Karier militernya kemudian menjadi jalan menuju pusat kekuasaan.

3. Jomo Kenyatta (Presiden Kenya 1964-1978)

Jomo Kenyatta memberikan contoh yang menarik karena perjalanan pendidikannya justru berkembang jauh setelah dia meninggalkan sekolah dasar.

Kenyatta merupakan pemimpin kemerdekaan Kenya dan menjadi perdana menteri pada 1963 sebelum menjadi presiden pertama Kenya pada 1964. Dia memimpin negara tersebut hingga meninggal pada 1978.

Menurut Perpustakaan Kepresidenan Kenya, Kenyatta masuk Thogoto Mission School pada 1909. Pada Juli 1912, setelah menyelesaikan pendidikan dasar, dia memilih melanjutkan ke pelatihan sebagai tukang kayu.

South African History Online juga mencatat bahwa pada 1912 Kenyatta menyelesaikan pendidikan di sekolah misi tersebut dan kemudian menjadi pekerja magang tukang kayu.

Artinya, Kenyatta tidak mengikuti jalur pendidikan sekolah menengah formal sebelum memasuki kehidupan kerja.

Namun, kisah Kenyatta memiliki keunikan. Kenyatta menyelesaikan pendidikan dasar di Thogoto Mission School sekitar 1912. Setelah itu, dia tidak melanjutkan ke sekolah menengah, melainkan belajar keterampilan pertukangan dan bekerja. Jadi, dia memang tidak mempunyai latar pendidikan SMA seperti yang dikenal sekarang.

Kemudian pada 1929, ketika berusia sekitar 30-an, Kenyatta pergi ke Inggris. Di sana ia tidak langsung masuk universitas melalui jalur SMA. Dia terlebih dahulu mengikuti kursus/pendidikan persiapan, antara lain di Fircroft Working Men's College dan Woodbrooke Quaker College. Setelah itu dia melakukan berbagai kegiatan akademik dan penelitian. Encyclopedia.com mencatat bahwa entah bagaimana dia pernah belajar di University College London dan kemudian mengambil studi pascasarjana di London School of Economics. Dia bahkan melakukan penelitian antropologi yang kemudian menjadi dasar bukunya Facing Mount Kenya.

Karena itu, Kenyatta merupakan contoh penting bahwa tidak menempuh pendidikan menengah formal pada masa muda tidak berarti seseorang berhenti belajar sepanjang hidupnya.

4. Gnassingbe Eyadema (Presiden Togo 1967-2005)

Gnassingbe Eyadema menjadi presiden Togo pada 1967 dan mempertahankan kekuasaan hingga meninggal dunia pada 2005.

Riwayat pendidikannya juga sangat terbatas. Sumber biografis mencatat bahwa Eyadema berasal dari keluarga petani di wilayah utara Togo dan bergabung dengan tentara Prancis setelah menyelesaikan pendidikan dasar.

The Guardian dalam obituarinya pada 2005 menggambarkan masa kecil Eyadema sebagai kehidupan pedesaan dengan limited schooling atau pendidikan sekolah yang terbatas. Dia kemudian memilih jalur militer dan bergabung dengan tentara Prancis.

Eyadema bertugas dalam perang Indochina dan kemudian di Aljazair. Setelah kembali ke Togo, dia menjadi salah satu figur militer penting.

Pada 1967, militer menggulingkan Presiden Nicolas Grunitzky dan Eyadema kemudian menjadi presiden. Dia bertahan sebagai penguasa Togo selama hampir 38 tahun, sampai kematiannya pada 2005.Karena sumber-sumber biografis menggambarkan pendidikannya hanya sampai tingkat dasar atau sebagai pendidikan sekolah yang sangat terbatas, Eyadema dapat dimasukkan sebagai contoh pemimpin yang tidak menyelesaikan pendidikan formal hingga tingkat SMA.

5. Francisco Macias Nguema (Presiden Guinea Khatulistiwa 1968-1979)

Francisco Macias Nguema merupakan presiden pertama Guinea Khatulistiwa setelah negara tersebut merdeka dari Spanyol pada 1968.

Pendidikan formalnya juga sangat terbatas.

Catatan biografis mengenai Macias menyebut bahwa dia memperoleh pendidikan di sekolah Katolik hingga tingkat dasar. Setelah itu, dia bekerja dalam pemerintahan kolonial Spanyol dan secara bertahap memasuki dunia politik.

Pada September 1968, Macias terpilih sebagai presiden pertama Guinea Khatulistiwa. Setelah berkuasa, dia mengubah sistem politik menjadi negara satu partai dan pada 1972 mengambil gelar presiden seumur hidup.

Pemerintahannya kemudian dikenal sangat represif. Departemen Luar Negeri Amerika Serikat mencatat bahwa rezim Macias menyebabkan kematian atau pengasingan hingga sekitar sepertiga penduduk Guinea Khatulistiwa. Dia akhirnya digulingkan melalui kudeta pada 1979, kemudian ditangkap, diadili, dan dieksekusi.

Dalam konteks pendidikan, Macias merupakan salah satu contoh paling jelas dalam daftar ini karena sumber biografinya menyebut pendidikan formalnya hanya sampai tingkat sekolah dasar.

Topik Menarik