Beli Senapan AK-47, Pria Pro-ISIS Hendak Tembak Mati 60 Non-Muslim di Mall of America

Beli Senapan AK-47, Pria Pro-ISIS Hendak Tembak Mati 60 Non-Muslim di Mall of America

Global | sindonews | Kamis, 8 Oktober 2026 - 13:08
share

Biro Investigasi Federal (FBI) telah menangkap seorang pria berusia 18 tahun yang diduga merencanakan penembakan massal di Mall of America, dekat Minneapolis, Amerika Serikat (AS). Menurut dokumen pengadilan, pria itu bertindak atas nama kelompok Islamic State atau ISIS.

Pria bernama Sheikhdoon Abdullahi Mohamud itu ditangkap pada hari Selasa setelah seorang agen FBI yang menyamar menjual kepadanya senapan AK-47, amunisi, dan magasin seharga USD600.

Baca Juga: Trump Izinkan Eksekusi Nidal Hasan, Tentara AS yang Tembak Mati 13 Orang di Pangkalan Amerika

Menurut dokumen pengaduan, Mohamud mengatakan kepada informan tersebut bahwa dia berencana menggunakan senjata dan amunisi itu untuk membunuh 30 hingga 60 orang non-Muslim dalam sebuah acara di mal tersebut pada akhir Oktober.

Mohamud didakwa atas satu tuduhan dengan sengaja menerima senjata api dan amunisi untuk melakukan aksi terorisme. Pengacaranya belum segera memberikan tanggapan atas permintaan komentar.

Menurut dokumen pengaduan, Mohamud sebelumnya mengatakan kepada sumber FBI melalui berbagai platform pesan bahwa dia berniat pergi ke luar negeri untuk berperang atas nama al-Shabaab, yang telah ditetapkan sebagai organisasi teroris asing oleh pemerintah AS.

Dia mengatakan jika tidak dapat pergi ke luar negeri, dia berencana melakukan penembakan massal. Belakangan, dia mengatakan ingin bergabung dengan ISIS.Mohamud juga diduga menyatakan dukungan terhadap seorang pria yang pada 1 Januari 2025 menabrakkan truk ke kerumunan orang di New Orleans. Serangan tersebut menewaskan 14 orang sebelum pelaku tewas dalam baku tembak dengan polisi.

Pada Juli, Mohamud mengatakan ingin membunuh 30 hingga 60 orang di Mall of America karena mengeklaim pemilik mal tersebut adalah orang Yahudi. Dia juga mengatakan ingin membunuh orang-orang non-Muslim.

Dia mengatakan kepada informan bahwa serangan tersebut direncanakan pada 24 Oktober, bertepatan dengan acara Hmong Arts Celebration yang digelar di mal tersebut.

Mall of America merupakan pusat perbelanjaan terbesar di AS, yang memiliki taman hiburan, akuarium, dan lebih dari 500 toko.

Sudah Dipantau FBI Hampir 2 Tahun

Pada Selasa, Mohamud membeli senapan AK-47, empat magasin berkapasitas 30 peluru, dan sekitar 200 butir amunisi dari agen FBI yang menyamar. Tak lama kemudian, agen FBI menangkapnya.

Mohamud menjalani penampilan pertamanya di pengadilan pada Rabu di hadapan Hakim Magistrat AS Elizabeth Cowan Wright.Mohamud mulai masuk radar FBI pada Desember 2024, ketika dia mulai bertukar pesan dengan seorang informan rahasia.

"Ini adalah seorang pemuda yang telah mengalami radikalisasi dan perlu diawasi," kata Jaksa AS Daniel Rosen, seperti dikutip dari AP, Kamis (8/10/2026).

"Para agen mampu mendeteksi ancaman dan menggagalkannya sebelum terdakwa melaksanakan niatnya untuk membunuh, dalam kata-katanya sendiri, mungkin 30 hingga 60 orang," lanjut Rosen.

Dalam sidang awal pada Rabu di pengadilan federal di St Paul, Mohamud tampil mengenakan seragam tahanan berwarna kuning.

Dia mengatakan kepada hakim bahwa dirinya tidak memiliki pekerjaan, rumah, maupun mobil, serta tidak memiliki uang di rekening bank.

Mohamud didampingi Siri Carlson McDowell, pengacara pembela umum federal. Carlson McDowell dan kerabat Mohamud menolak memberikan komentar setelah sidang.Rosen mengatakan Mohamud adalah warga negara AS yang lahir di Amerika, namun keturunan Somalia.

Berdasarkan pernyataan tertulis di bawah sumpah dari seorang agen FBI, Mohamud berulang kali menegaskan dalam pesan kepada informan bahwa dia berniat menyerang dan membunuh orang-orang non-Muslim di mal tersebut pada 24 Oktober.

Ketika informan bertanya apakah dia benar-benar serius melakukan serangan tersebut, Mohamud menjawab, "ya, saya 100 yakin", menurut dokumen pengaduan.

Dia juga menambahkan, "Saya pasti sudah mundur dari rencana ini sekarang kalau saya tidak yakin."

Mohamud pertama kali menarik perhatian FBI pada Desember 2024, pada bulan yang sama ketika sumber rahasia mulai bertukar pesan dengannya.

Pada Mei 2025, kekhawatiran agen sudah cukup serius sehingga mereka mendatangi rumahnya.Menurut dokumen pengaduan, ibu Mohamud mengatakan kepada agen bahwa putranya belum pulang dari sekolah. Dia kemudian menelepon ayah Mohamud.

Namun, sang ayah menolak berbicara dengan agen dan mengatakan akan memberikan informasi kontak mereka kepada pengacaranya.

Rosen kemudian menyampaikan peringatan kepada para orang tua di Minnesota dan seluruh AS.

"Apa yang akan saya katakan kepada para orang tua di seluruh Minnesota dan Amerika: Jika Anda mendapat indikasi—terutama jika Anda mendengarnya dari aparat penegak hukum federal—bahwa putra atau putri Anda sedang mengalami radikalisasi, sampai pada tahap aparat penegak hukum federal ingin datang dan memberikan peringatan kepada Anda, maka peringatan tersebut harus diperhatikan," kata Rosen.

Puluhan ribu warga keturunan Somalia tinggal di Minnesota. Mereka merupakan bagian dari komunitas yang mulai berkembang sejak para pengungsi Somalia tiba di negara bagian tersebut pada 1990-an.

Selama bertahun-tahun, sejumlah orang dari komunitas tersebut telah didakwa karena berupaya bergabung dengan kelompok militan.

Topik Menarik