Babak Baru Perang Yaman, Houthi, dan Saudi
Ridwan al-MakassaryDosen Departemen Ilmu Politik Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) Direktur Center for the Study of Muslim Politics and World Society (COMPOSE) UIII
PADA 4 Oktober 2026, pemerintah Yaman dengan dukungan Arab Saudi telah mengumumkan operasi militer besar guna merebut kembali wilayah yang dikuasai Houthi, organisasi politik dan militer Islam Syiah Zaidiyah yang berbasis di Yaman. Eskalasi perang ini terjadi setelah Houthi telah memperluas jaringan penguasaannya di pesisir Laut Merah dan kawasan strategis Bab al-Mandab.
Eskalasi perang kali ini memang berkelindan dengan posisi strategis Bab al-Mandab, yaitu satu selat yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden. Ia juga menjadi salah satu jalur penting perdagangan internasional. Ketika Houthi memperluas pengaruhnya di pesisir dan sekitar Bab al-Mandab, konflik domestik Yaman seketika bersalin rupa menjadi persoalan geopolitik global.
Kini, perang Yaman kembali memasuki babak baru, di mana rudal, drone, serangan udara, perebutan wilayah dan diplomasi bergerak bersama-sama. Setelah relatif mereda selama beberapa tahun, konflik antara Houthi dan Arab Saudi kini memasuki babak baru yang jauh lebih berbahaya. Dampaknya bukan hanya bagi Yaman dan Saudi, tetapi juga bagi Laut Merah, perdagangan global, dan juga arsitektur keamanan Timur Tengah.
Karenanya, perang Yaman tidak lagi dapat diklaim sebagai perang saudara semata-mata, melainkan ia telah menjadi persimpangan jalan dari berbagai kepentingan, yaitu keamanan Saudi, pengaruh Iran, keselamatan jalur pelayaran internasional, rivalitas regional, dan pertarungan bagi masa depan politik Yaman.Perang ini sebenarnya bukanlah sebuah cerita yang baru, karena semenjak Houthi telah merebut Sana'a pada 2014, Saudi memimpin intervensi militer untuk mendukung pemerintah Yaman. Perang tersebut telah menghasilkan salah satu krisis kemanusiaan paling panjang di dunia. Namun, kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi PBB pada 2022, memang, sempat menurunkan eskalasi dan intensitas perang yang terjadi.
KPK Bongkar Dugaan Pejabat Kemenhub Minta Fee 5 Persen untuk Menangkan Proyek Rp20,7 Miliar
Masalahnya, gencatan senjata tidaklah identik dengan perdamaian. Ia lebih menyerupai jeda sementara dari perang tinimbang penyelesaian akar konflik, yang kadang meledak lebih keras.
Kini jeda perdamaian itu telah retak. Menurut pemantauan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), peningkatan kekerasan telah sejak pertengahan 2026 yang menerbitkan kembali serangan Houthi terhadap Saudi, serangan udara Saudi dan sekutunya, perebutan wilayah, serta gangguan terhadap pelayaran di Laut Merah dan Bab al-Mandab.
Di sinilah konflik Yaman menjadi sangat berbahaya. Ketika laut menjadi medan perang, dampaknya tidak akan berhenti di Yaman. Konsekuensinya adalah biaya transportasi meningkat, rantai pasok terganggu, premi asuransi pelayaran naik, dan harga energi dapat ikut terpengaruh. Sementara bagi Saudi, serangan rudal dan drone terhadap wilayahnya menyentuh langsung isu keamanan nasional dan perlindungan infrastruktur energi.
Pengalaman satu dekade terakhir juga menunjukkan bahwa kekuatan militer saja tidak otomatis menyelesaikan persoalan. Saudi kini berada dalam dilema sekuritas. Di satu sisi, Riyadh tidak dapat membiarkan serangan terhadap wilayah dan infrastruktur strategisnya berlangsung tanpa sahutan. Di sisi lain, eskalasi militer yang terlalu jauh dapat membawa Saudi kembali ke perang panjang yang justru ingin dihindarinya.Menariknya, Amerika Serikat sejauh ini tidak bergabung secara langsung dalam operasi besar yang sedang dipersiapkan Saudi, meskipun Washington tetap memberikan dukungan militer tertentu. Realitas ini menunjukkan satu perubahan penting dalam politik Timur Tengah, yaitu negara-negara kawasan semakin dituntut mengelola sendiri konsekuensi keamanan regionalnya.
Sementara itu, Houthi juga tidak dapat dibaca semata-mata sebagai “proxy Iran”. Memang, hubungan Houthi dengan Iran penting dan dukungan Iran terhadap kemampuan militernya telah banyak dilaporkan. Namun, menyederhanakan Houthi hanya sebagai instrumen Teheran berisiko mengabaikan politik domestik Yaman yang menjadi akar keberlangsungan gerakan perlawan tersebut.
Justru di sinilah persoalan politiknya. Houthi memiliki basis sosial, struktur pemerintahan de facto, kemampuan mobilisasi dan narasi politik sendiri. Konflik Yaman tidak akan selesai hanya dengan memotong hubungan Houthi dengan Iran.
Pengamat Sebut Kunjungan Wapres Gibran ke Sumut Urai Sumbatan Lintas Kementerian Pascabencana
Perdamaian berkelanjutan membutuhkan negosiasi dengan aktor yang benar-benar memiliki kekuasaan di lapangan. Karenanya, menarik bahwa Iran belakangan dikabarkan menyarankan pendekatan politik terhadap Houthi. Pakistan menyebut gagasan tersebut sebagai alternatif terhadap tindakan militer, dan isu itu akan dibahas oleh Saudi, Turki dan Pakistan dalam kerangka Mecca Joint Defence Agreement.
Di tengah perang yang berkecamuk, celah diplomasi ternyata belum sepenuhnya tertutup dan menjadi perhatian dari sejumlah aktor. Pelajaran terbesar dari Yaman adalah masyarakatnya telah terlalu lama membayar harga dari persaingan kekuatan regional. Sedangkan Saudi memperhitungkan keamanan perbatasannya. Adapun Iran melihat ruang strategis untuk memperluas pengaruhnya. Sementara Amerika melihat keamanan maritim, dan juga egara-negara Eropa melihat jalur perdagangan. Houthi sediri melihat perjuangan politik dan eksistensialnya dalam perang ini.
Karenanya, untuk penyelesai perang Yaman, masyarakat internasional perlu mendorong tiga hal. Pertama, penghentian eskalasi militer dan perlindungan warga sipil. Kedua, pembukaan kembali proses politik Yaman yang inklusif, dengan melibatkan aktor-aktor yang memiliki pengaruh nyata di lapangan. Ketiga, pemisahan persoalan Yaman dari rivalitas regional yang lebih luas.
Utusan khusus PBB, Hans Grundberg, sendiri telah berusaha mendorong diplomasi antara pihak Houthi dan Saudi guna mencegah eskalasi lebih lanjut. Ia juga menekankan pentingnya penyelesaian yang dibentuk oleh orang-orang Yaman sendiri. Inilah jalan yang semestinya dipertahankan. Yaman tidak membutuhkan perang baru untuk menyelesaikan perang lama.
Singkatnya, Yaman membutuhkan solusi politik inklusif yang didesain dan dipimpin oleh masyarakat Yaman sendiri (Yemeni-led and Yemeni-owned peace process). Pungkasannya, bagi Saudi, Iran, Houthi serta kekuatan-kekuatan regional lainnya, mungkin sudah waktunya menyadari bahwa tidak semua persoalan keamanan dapat diselesaikan dengan perang yang tak berkesudahan.










