China Borong Emas 23 Bulan Beruntun, Tembus 77,47 Juta Ons
Anggapan bahwa ayam kampung lebih sehat dibandingkan ayam broiler sudah lama berkembang di masyarakat. Selain memiliki tekstur daging yang lebih padat, ayam kampung juga kerap dianggap lebih alami karena sebagian dipelihara dengan sistem umbaran.
Dosen Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan IPB University, Shabrina Dyah Wibawanti, menjelaskan bahwa perbedaan yang paling konsisten antara ayam kampung dan ayam broiler justru terletak pada kandungan lemak.
Baca juga: Syarat dan Cara Daftar Bantuan Penyelesaian Pendidikan S2-S3 Kemenag, Cek Infonya
Ayam broiler umumnya memiliki kadar lemak lebih tinggi. Hal tersebut berkaitan dengan karakteristik pemeliharaannya yang ditujukan untuk mempercepat pertumbuhan dan didukung pemberian pakan dengan kandungan energi tinggi.
“Perbedaan kandungan lemak antara kedua jenis ayam ini merupakan hasil gabungan dari faktor genetik, formulasi pakan, tingkat aktivitas, dan umur panen,” jelas Shabrina, melalui siaran pers, Rabu (7/10/2026).Sementara itu, ayam kampung biasanya dipelihara dalam waktu yang lebih lama dan dapat menggunakan sistem umbaran atau free range. Aktivitas fisik yang lebih tinggi membuat ayam menggunakan lebih banyak energi sehingga kecenderungan menyimpan lemak dapat lebih rendah dibandingkan ayam yang dipelihara secara intensif.
Baca juga: Pelatihan Vokasi Nasional 2026 Batch 6 Dibuka, Simak Syarat dan Cara Daftarnya
Kandungan Protein Ayam Kampung dan Broiler
Meski ayam kampung kerap dianggap lebih sehat, bukan berarti jenis ayam tersebut selalu lebih unggul dalam seluruh aspek gizi.Dari sisi protein, kandungan ayam kampung dan broiler relatif tidak memiliki perbedaan yang signifikan. “Ayam kampung memang dapat memiliki kandungan protein sedikit lebih tinggi, tetapi perbedaannya relatif kecil dan hasil penelitian bervariasi, sehingga secara praktis keduanya dapat dianggap setara sebagai sumber protein”, jelasnya
Tekstur daging yang lebih padat pada ayam kampung juga tidak bisa dijadikan patokan bahwa kandungan gizinya lebih tinggi. Shabrina menjelaskan, karakter tersebut lebih berkaitan dengan struktur serat otot dan usia ayam saat dipanen.
Ayam kampung yang umumnya dipanen pada usia lebih tua memiliki ikatan silang kolagen yang lebih kuat. Kondisi tersebut membuat dagingnya terasa lebih padat dan kenyal dibandingkan daging ayam broiler.Sementara itu, kandungan vitamin, mineral, serta profil asam lemak, termasuk omega-3 seperti DHA, lebih banyak dipengaruhi oleh jenis pakan yang diberikan selama masa pemeliharaan.
Bagian Ayam dan Cara Memasak Juga Menentukan
Shabrina mengatakan, konsumen sebaiknya tidak hanya melihat jenis ayam ketika memilih makanan. Bagian ayam dan cara pengolahan juga berpengaruh terhadap kandungan gizi yang dikonsumsi.Dada ayam broiler tanpa kulit dapat memiliki kandungan lemak lebih rendah dibandingkan paha ayam kampung dengan kulit. Begitu pula ayam yang digoreng dapat memiliki kandungan lemak lebih tinggi akibat penggunaan minyak.
“Penentuan pilihan ayam berdasarkan kandungan gizi tidak dapat semata-mata didasarkan pada jenis ayam, melainkan perlu mempertimbangkan faktor lainnya,” ungkapnya.
Dengan demikian, Shabrina menyimpulkan, ayam kampung maupun broiler memiliki karakteristik masing-masing. Jika ingin membatasi asupan lemak, pilih bagian yang rendah lemak seperti dada tanpa kulit dan olah tanpa digoreng, baik dari ayam kampung maupun broiler.
Pada akhirnya, pilihan makanan tetap perlu mempertimbangkan bagian ayam serta metode pengolahannya agar sesuai dengan kebutuhan gizi masing-masing.









