Pelajaran dari Jababeka, Berawal Kawasan Industri ke Ekosistem Entrepreneur

Pelajaran dari Jababeka, Berawal Kawasan Industri ke Ekosistem Entrepreneur

Ekonomi | sindonews | Selasa, 6 Oktober 2026 - 18:58
share

Indonesia memasuki tahap pembangunan di mana kawasan industri tidak lagi cukup hanya menyediakan tanah, jalan, listrik, air, dan bangunan pabrik. Persaingan global sekarang ditentukan oleh sesuatu yang jauh lebih penting: kualitas manusia, kemampuan berinovasi, dan keberanian menciptakan usaha baru.

Founder dan Chairman PT Jababeka Tbk, Setyono Djuandi (SD) Darmono mengatakan, pengalaman membangun Kota Jababeka memberikan satu pelajaran penting baginya. Menurut SD Darmono, sebuah kawasan industri yang ingin bertahan puluhan tahun harus berkembang menjadi sebuah kota dan kemudian menjadi sebuah ekosistem. Di dalam ekosistem itu, industri, pendidikan, tempat tinggal, teknologi, pelayanan kesehatan, budaya, serta entrepreneurshipharus tumbuh bersama. Baca juga:Jababeka Infrastruktur Satu-satunya Kawasan Industri Raih PROPER Hijau Keenam Kali

“Itulah sebabnya sejak awal kami tidak melihat Kota Jababeka hanya sebagai tempat berdirinya pabrik. Kami ingin membangun sebuah kota tempat orang bisa bekerja, belajar, tinggal, membangun keluarga, berinovasi, dan akhirnya menciptakan perusahaan baru,” katanya, Selasa (6/10/2026).

Ketika industrialisasi Cikarang berkembang pesat, PT Jababeka Tbk melihat persoalan yang sangat jelas. Perusahaan-perusahaan berdatangan – termasuk berbagai perusahaan internasional, tapi perusahaan tak hanya membutuhkan tanah dan infrastruktur. Mereka membutuhkan manusia yang mempunyai pengetahuan, disiplin, kemampuan berbahasa, pemahaman teknologi, dan pengalaman bekerja di lingkungan industri.

Dari kebutuhan itulah pada 2001 mereka mendukung pendirian yayasan pendidikan yang kemudian melahirkan President University. Pemikirannya sederhana: mengapa universitas harus jauh dari tempat mahasiswa nantinya bekerja? ”Kalau universitas berada di tengah kawasan industri, maka perusahaan bisa menjadi bagian dari proses pendidikan,” kata SD Darmono yang juga founder President University ini.Dengan hadirnya President University, mahasiswa tak hanya mendengar teori mengenai perusahaan beroperasi dari dosen. Mereka dapat melihat secara langsung bagaimana perusahaan kelas dunia beroperasi. Karenanya, salah satu karakter pendidikan yang didorong President University ialah kuliah sambil mendapatkan pengalaman industri melalui internship atau magang.

Mahasiswa tak hanya belajar di kampus tapi juga mengenal lingkungan perusahaan. Mereka memahami bahwa di dunia nyata terdapat target, kualitas, disiplin waktu, keselamatan kerja, teknologi, pemasaran, keuangan, logistik, budaya perusahaan, serta persaingan internasional.

Perkembangan Cikarang kemudian memperlihatkan efek lain yang menarik. Ketika industri tumbuh, jumlah tenaga kerja bertambah, kebutuhan terhadap sekolah dan pendidikan tinggi ikut meningkat. Lanjut secara alamiah kemudian tumbuh berbagai sekolah, universitas, lembaga pelatihan, dan institusi pendidikan di kawasan Bekasi, Cikarang, Karawang dan sekitarnya.

Artinya, sebuah kawasan industri dapat menjadi katalis bagi lahirnya sebuah industri pendidikan. “Dan sebaliknya, kehadiran pendidikan berkualitas membuat sebuah kawasan industri semakin kompetitif karena tersedia pasokan sumber daya manusia yang lebih baik,” urainya.

Namun ada satu tantangan yang lebih besar. Darmono berpandangan bahwa Indonesia tak cukup hanya menghasilkan lulusan yang siap bekerja. Indonesiaperlu menghasilkan semakin banyak job creators.Di President University, kami ingin agar mahasiswa tidak hanya bertanya: "Setelah lulus saya bekerja di perusahaan apa?" Tetapi juga berani bertanya: "Perusahaan apa yang dapat saya bangun?"Pengalaman magang di perusahaan nasional dan multinasional bisa menjadi sekolah bisnis yang luar biasa. Mahasiswa dapat melihat bagaimana sebuah perusahaan membangun produk, menjaga kualitas, mengelola tenaga kerja, menggunakan teknologi, mencari pasar, dan bersaing secara global. Pengetahuan tersebut kemudian dapat menjadi modal ketika mereka ingin membangun usaha sendiri.

“Karena itu, saya selalu melihat entrepreneurship bukan sekadar mata kuliah. Entrepreneurship adalah mindset. Seorang entrepreneur melihat masalah sebagai peluang. Ia berani mengambil risiko yang terukur. Ia menciptakan produk, pekerjaan, dan akhirnya menciptakan nilai ekonomi bagi masyarakat,” kata penulis buku Think Big, Start Small, Move Fast ini. Baca juga:Indonesia Tertinggal dari Negara Tetangga, Rasio Kewirausahaan Baru 3,2

Indonesia membutuhkan jauh lebih banyak entrepreneur. SD Darmono menilai Indonesia harus mempunyai keberanian untuk menargetkan pertumbuhan jumlah entrepreneur menuju 10 masyarakat yang mempunyai semangat dan kemampuan menciptakan usaha produktif.

Sebab negara besar tak dapat hanya bergantung pada pemerintah atau perusahaan-perusahaan besar untuk menciptakan lapangan pekerjaan. Menurut SD Darmono, jutaan pekerjaan baru sebaiknya datang juga dari perusahaan baru, SME, startup, industri kreatif, serta generasi baru entrepreneur Indonesia.

Topik Menarik