Ketum GEKRAFT Salatiga Dorong Ekosistem Inklusif dan Akses Global
Ekonomi kreatif (Ekraf) tidak selalu tumbuh dari modal finansial yang besar. Potensi besar justru sering kali lahir dari ide-ide sederhana di lingkungan sekitar yang dioptimalkan menggunakan teknologi. Hal itu disampaikan Ketua DPC Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (GEKRAFS) Kota Salatiga, Dyah Ayu Pitaloka, Sabtu (3/10/2026).
"Teknologi itu akhirnya menjadi kekuatan dari masyarakat. Kalau dijadikan sesuatu, itu bukan sesuatu yang jauh dari kita. Ia ada di sekitar kita dan muncul dari anak-anak yang hari ini mungkin sedang membuat sesuatu dari kamar mereka, dari sebuah laptop, dari sebuah kamera, dari sebuah dapur kecil, atau dari sebuah ide yang belum banyak orang lihat," kata Dyah Ayu Pitaloka.
Baca juga: Pasar Preng Sewu Magnet Wisata dan Penggerak Ekonomi Masyarakat
Ia menegaskan bahwa tugas utama GEKRAFS Kota Salatiga adalah mengawal gagasan-gagasan tersebut agar tidak berhenti sebatas ide, melainkan dapat bertransformasi menjadi produk bernilai ekonomi tinggi. Untuk mencapai hal tersebut, Diah menekankan pentingnya ruang komunikasi yang terbuka serta kolaborasi erat antara pemerintah, komunitas, dan pelaku usaha agar ekosistem ekonomi kreatif dapat tumbuh berkelanjutan.
Sebagai bentuk komitmen nyata dalam membangun iklim ekonomi yang merata, kepengurusan Diah Ayu Pitaloka menghadirkan program YOUTHEM (Youth Empowerment and Thematic Inclusion Movement atau Youth and Inclusive Talent Mobilization). Program ini berfokus pada pembentukan ekosistem inklusif dengan merangkul kelompok rentan secara sosial dan ekonomi.Melalui YOUTHEM, pihaknya menggulirkan Bisabilitas Creative Workshop sebagai wadah pelatihan keahlian bagi penyandang disabilitas. Pada saat yang sama, penguatan kapasitas perempuan difasilitasi melalui Female Entrepreneurship Hub yang membina subsektor unggulan seperti busana dan kuliner.
Baca juga: Menekraf Dorong Ekraf Indonesia Jadi Content Powerhouse Dunia
Guna memastikan standar kualitas dan daya saing SDM lokal, program ini juga mengintegrasikan Sertifikasi Profesi Regional yang diselenggarakan berkolaborasi dengan Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).
Potensi besar Salatiga dan kepemimpinan Dyah Ayu Pitaloka turut mendapat apresiasi langsung dari pimpinan GEKRAFS tingkat wilayah dan pusat. Bahkan sebelum pelantikan resmi dilangsungkan, Diah telah aktif membawa produk-produk kreatif asal Salatiga ke jejaring internasional, salah satunya dalam agenda pendampingan di Malaysia.Ketua DPW GEKRAFS Jawa Tengah, Berty Diah Rahmana mengungkapkan keyakinannya bahwa DPC GEKRAFS Kota Salatiga mampu menjadi pengurus yang paling aktif di Jawa Tengah. Berty melihat Salatiga memiliki daya tarik dan potensi besar sebagai kota anak kreatif, sekaligus membuka peluang kerja sama yang lebih luas melalui jaringan internasional di berbagai negara seperti China dan Hong Kong, hingga potensi kolaborasi sister city.
Sementara itu, Ketua Umum DPP GEKRAFS H Kawendra Lukistian menekankan bahwa keanekaragaman masyarakat Salatiga yang sering dijuluki sebagai "Indonesia Mini" merupakan modal sosial yang sangat berharga. Kawendra mengapresiasi gagasan untuk menjadikan Salatiga sebagai giant rest area yang nyaman, sebuah konsep yang dinilai mampu membuka ruang usaha baru bagi para pelaku kreatif.
Kisruh Penyebab Desil Berubah, Mensos: Ada 12 Juta Data Baru dari BKKBN Belum Terverifikasi
Kawendra menjelaskan bahwa GEKRAFS saat ini memiliki jaringan yang tersebar di 38 provinsi, sekitar 300 kabupaten/kota, serta perwakilan di 18 negara. Jejaring luas ini membuka kesempatan besar bagi pengurus GEKRAFS Kota Salatiga untuk membangun kolaborasi bisnis, memanfaatkan akses permodalan, serta mengoptimalkan berbagai dukungan kebijakan pemerintah di sektor ekonomi kreatif.
Melalui sinergi seluruh pihak, kepengurusan baru di bawah Diah Ayu Pitaloka diharapkan mampu menjadikan kreativitas sebagai mesin utama pertumbuhan ekonomi di Kota Salatiga.
GEKRAFS Kota Salatiga merupakan wadah kolaborasi bagi para pelaku, komunitas, dan pemangku kepentingan ekonomi kreatif di Kota Salatiga yang mengayomi 21 subsektor ekonomi kreatif. Gerakan ini berkomitmen untuk mengoptimalkan potensi lokal, mendorong pemberdayaan masyarakat secara inklusif, serta memperluas jaringan kerja sama di tingkat nasional maupun internasional.









