Jemaah Perempuan Dominan, DPR Dorong Penambahan Petugas Haji Perempuan pada 2027
Anggota Komisi VIII DPR Atalia Praratya meminta jumlah petugas haji perempuan ditambah dalam penyelenggaraan ibadah haji 1448 H atau 2027 mendatang. Usulan itu disampaikan dengan mempertimbangkan komposisi jemaah haji yang didominasi perempuan.
Hal itu disampaikan Atalia saat melaksanakan kunjungan kerja ke Kota Medan, Sumatera Utara. Dia menyebutkan, dari sekitar 5.913 jemaah haji asal Sumatera Utara, sekitar 3.300 di antaranya merupakan perempuan, sedangkan jemaah laki-laki sekitar 2.500 orang.
"Kami mendorong agar dari sisi pendampingan untuk ibadah haji, khususnya petugas haji dan juga pendampingan ibadah, mudah-mudahan bisa ditambah dari komposisi jumlah perempuannya," ujar Atalia, Sabtu (3/10/2026).
Baca juga: Wamenhaj: Ditemukan 400.000 Data Jemaah Haji Invalid, Antrean Haji Kini Tinggal 14 Tahun
Atalia menjelaskan, pada penyelenggaraan ibadah haji 2026, sekitar 55 persen jemaah merupakan perempuan. Sementara itu, komposisi petugas haji perempuan berada di kisaran 33 persen.Menurutnya, keberadaan petugas perempuan penting untuk memberikan pendampingan terhadap kebutuhan khusus jemaah perempuan selama penyelenggaraan ibadah haji.
"Kita berharap mudah-mudahan tahun ini tidak ada pengurangan, bahkan harusnya lebih banyak dari itu, karena kita tahu dari tahun ke tahun komposisi perempuan yang akan berangkat ternyata lebih banyak dibandingkan dengan laki-laki," tambah dia.
Selain komposisi petugas, Atalia menilai materi manasik haji perlu diperkuat agar tidak hanya berfokus pada aspek hukum, rukun, wajib, dan sunah ibadah. Menurutnya, calon jemaah juga perlu mendapatkan pembekalan mengenai berbagai aspek praktis yang akan dihadapi sejak perjalanan menuju Tanah Suci hingga selama berada di Arab Saudi.
"Kita berharap ada pembekalan yang lebih dalam terkait dengan bagaimana cara menggunakan seatbelt misalkan di pesawat terbang, bagaimana terkait dengan keselamatan di pesawat terbang, bagaimana cara menggunakan toilet yang mungkin berbeda dibandingkan dengan toilet yang biasa mereka pergunakan, termasuk juga penggunaan telepon genggam dan lain sebagainya," tandasnya.
Menurutnya, pembekalan praktis menjadi penting, terutama bagi jemaah yang belum terbiasa menggunakan fasilitas tertentu selama perjalanan ibadah haji. Karena itu, dia mendorong agar manasik dilengkapi simulasi dan video edukasi yang mudah dipahami calon jemaah.
"Kami berharap bahkan kalau bisa ada simulasi-simulasi atau video-video yang memberikan edukasi. Saya kira itu akan sangat-sangat membantu bagi calon jemaah haji," pungkasnya.









