Detektif Sains, Cara Guru di Kutai Barat Ajak Siswa Memahami Fisika melalui Penyelidikan
Bagaimana membuat siswa tidak hanya menghafal rumus, tetapi juga memahami fenomena di baliknya. Pertanyaan tersebut menjadi salah satu hal yang mendorong Desi Susanti, guru Fisika di SMA Negeri 1 Sendawar, Kutai Barat, Kalimantan Timur, mengembangkan model pembelajaran “Detektif Sains”.
Melalui pendekatan ini, Desi memadukan aktivitas penyelidikan dengan pemanfaatan teknologi untuk membantu siswa memahami konsep Fisika secara lebih interaktif.
Baca juga: Pendaftaran SMK Go Global Batch 2 2026 Dibuka, Simak Persyaratannya
Atas inovasi pembelajaran yang dikembangkan melalui Detektif Sains, Desi Susanti terpilih sebagai penerima Mentari Educreator Awards dalam ajang Mentari National Awards for Educators (MNAE) 2026.
MNAE 2026 memilih 20 pendidik dari 770 pendaftar yang berasal dari 228 kota dan kabupaten serta 679 sekolah. Para penerima terdiri atas 10 penerima Mentari Changemaker Awards, lima penerima Mentari Leadership Awards, dan lima penerima Mentari Educreator Awards. Perjalanan Detektif Sains bermula pada 2020, ketika pandemi Covid-19 mendorong Desi mengembangkan kanal YouTube “Ibu Desi Fisika” untuk mendukung pembelajaran jarak jauh. Inisiatif ini kemudian berkembang menjadi model pembelajaran yang memadukan aktivitas penyelidikan dengan teknologi.
Baca juga: Pendaftaran TKA 2026 Resmi Ditutup, 4,2 Juta Murid Sudah Mendaftar
Pada 2024, Desi mengembangkan Detektif Sains 1.0 dengan memanfaatkan Virtual Reality (VR), aplikasi Tracker, Canva, dan chatbot dasar. Pengembangan berlanjut pada 2025 melalui Detektif Sains 2.0 dengan integrasi aplikasi Soundcard Oscilloscope dan Chatbot AI Responsif yang dapat diakses selama 24 jam.
Pemilihan teknologi tersebut didasarkan pada kebutuhan pembelajaran di kelas. Salah satu penerapannya adalah penggunaan Soundcard Oscilloscope untuk membantu siswa mengamati dan menganalisis resonansi gelombang bunyi. Setelah mempelajari berbagai referensi, termasuk jurnal ilmiah, Desi mulai menerapkan aplikasi tersebut dalam pembelajaran sejak akhir 2024.
“Dalam mengembangkan Detektif Sains dari 1.0 hingga 2.0, teknologi atau pendekatan pembelajaran saya pilih berdasarkan permasalahan dan kebutuhan nyata di kelas. Saya ingin teknologi yang digunakan benar-benar membantu siswa memahami konsep Fisika dan terlibat aktif dalam proses penyelidikan, bukan sekadar menjadi pelengkap pembelajaran,” ujar Desi,melalui siaran pers, Sabtu (3/10/2026).Melalui Detektif Sains, siswa didorong untuk tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga aktif menyelidiki fenomena sains. Penerapan model ini dilaporkan menghasilkan tingkat ketuntasan materi hingga 100 dan menjadi bagian dari upaya Desi menghadirkan pembelajaran Fisika yang lebih menarik dan mudah dipahami.
Pengembangan Detektif Sains juga menghasilkan dua publikasi ilmiah pada jurnal terakreditasi SINTA 3 dan SINTA 4.
Executive Director Mentari Group, Natalina Rimba, berharap penghargaan Mentari National Awards for Educators (MNAE) 2026 dapat mendorong para pendidik untuk terus mengembangkan dan membagikan inovasi yang bermanfaat bagi dunia pendidikan.
“Selamat kepada seluruh penerima MNAE 2026. Semoga penghargaan ini menjadi apresiasi atas kontribusi Bapak dan Ibu dalam memajukan pendidikan Indonesia, sekaligus mendorong untuk terus mengembangkan dan membagikan inovasi agar memberikan manfaat yang lebih luas bagi pendidikan,” ujar Natalina.
MNAE 2026 memilih 20 pendidik dari 770 pendaftar yang berasal dari 228 kota dan kabupaten serta 679 sekolah. Para penerima terdiri atas 10 penerima Mentari Changemaker Awards, lima penerima Mentari Leadership Awards, dan lima penerima Mentari Educreator Awards.










