Cerita Mustapha, Wisudawan UNS Asal Nigeria yang Fasih Berbahasa Jawa

Cerita Mustapha, Wisudawan UNS Asal Nigeria yang Fasih Berbahasa Jawa

Gaya Hidup | sindonews | Senin, 28 September 2026 - 12:34
share

Mustapha Abolore Abdulwahab wisudawan Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta asal Nigeria, menunjukkan kefasihannya berbahasa Jawa saat menjadi perwakilan wisudawan dalam Wisuda UNS 2026.

Mahasiswa dari Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian (FP) ini mendapat kesempatan mewakili para wisudawan dan wisudawati untuk menyampaikan sambutan dalam prosesi Wisuda UNS Periode VIII Tahun 2026 pada Sabtu (26/9/2026).

Baca juga: Kisah Najmi, dari Penerima KIP Kuliah hingga Jadi Wisudawan Terbaik Unnes

Di hadapan pimpinan universitas, dosen, orang tua, keluarga, serta para wisudawan, Mustapha membuka sambutannya dengan kalimat dalam bahasa Jawa yang menunjukkan rasa syukur sekaligus menggambarkan perjalanannya selama menempuh pendidikan di Solo.

“Sejujurnya, sampai pagi ini pun saya masih bertanya kepada diri sendiri Kok iso tekan kene, ya?” ujarnya yang sudah fasih menggunakan bahasa Jawa, dikutip dari laman UNS, Senin (28/9/2026).

Kalimat tersebut menjadi pembuka kisah Mustapha sebagai mahasiswa internasional di UNS. Saat pertama kali tiba di Indonesia, ia mengaku sempat merasa heran dengan kebiasaan masyarakat sekitar yang kerap menanyakan tujuan ketika dirinya hendak bepergian.

Baca juga: Tak Ada Seleksi Wawancara, 5 Beasiswa Ini Buka Peluang Kuliah Gratis ke Luar Negeri

“Setiap kali saya keluar kamar, selalu ada yang bertanya, ‘Mas, mau ke mana?’ Satpam bertanya. Ibu kos bertanya. Tukang parkir bertanya. Dan dalam bahasa Jawa, lebih halus lagi: ‘Badhe tindak pundi?’” tuturnya.Kebiasaan itu awalnya terasa berbeda bagi Mustapha yang berasal dari Nigeria. Ia bahkan sempat menganggap pertanyaan tersebut sebagai bentuk interogasi.

“Bapak, Ibu, di negara saya, kalau banyak orang bertanya berulang-ulang ke mana Anda pergi, biasanya Anda sedang dalam masalah. Padahal saya hanya mau beli air,” katanya yang disambut tawa hadirin.

Namun, setelah menjalani kehidupan di Solo, Mustapha mulai memahami makna di balik pertanyaan tersebut. Menurutnya, kebiasaan masyarakat menanyakan tujuan seseorang bukanlah bentuk interogasi, melainkan wujud perhatian.

“Lama-lama saya mengerti: itu bukan interogasi. Itu cara orang di sini berkata, saya peduli kepada Anda,” ujarnya.

Dalam sambutannya, Mustapha kemudian mengajak para hadirin melihat perjalanan setiap wisudawan. Ia menyebut masing-masing lulusan memiliki latar belakang, tantangan, dan cerita yang berbeda.

Baca juga: Kemendikdasmen-LPDP Buka Pelatihan Guru dan Tendik Bidang STEM dan AI, Cek Syaratnya

“Ada wisudawan diploma, yang tangannya sudah terampil bahkan sebelum teorinya selesai ditulis. Ada wisudawan sarjana, dan sebagian dari mereka orang pertama di keluarganya yang mengenakan toga,” katanya.

Ia juga menyinggung para wisudawan magister yang menjalani perkuliahan sembari bekerja. Sementara itu, para doktor dan doktor spesialis telah menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mencari jawaban atas berbagai persoalan akademik.“Berbeda jenjang, berbeda fakultas, berbeda usia. Tetapi hari ini kami mengenakan toga yang sama, dan berutang terima kasih kepada orang-orang yang sama,” tegasnya.

Mustapha kemudian menyampaikan penghargaan kepada orang tua, wali, dan keluarga yang telah memberikan dukungan selama para wisudawan menjalani pendidikan. Menurutnya, keputusan keluarga untuk mempercayakan pendidikan anak kepada sebuah perguruan tinggi merupakan bentuk kepercayaan yang besar.

Hal itu semakin terasa bagi mahasiswa yang harus menjalani pendidikan jauh dari keluarga, termasuk dirinya yang berasal dari Nigeria.

“Bertahun-tahun lalu, Bapak dan Ibu menitipkan kami kepada universitas ini. Ada yang dari pulau yang berbeda, dan ada yang, seperti orang tua saya, dari benua yang berbeda. Itu bukan keputusan yang mudah. Itu adalah kepercayaan,” ungkapnya.

Menurut Mustapha, keberhasilan seorang anak menyelesaikan pendidikan tidak terlepas dari pengorbanan dan doa orang tua yang berlangsung jauh sebelum prosesi wisuda.

“Yang paling terasa berat dalam perpisahan itu sesungguhnya bukan kami yang pergi, melainkan Bapak dan Ibu yang ditinggalkan. Toga ini kami kenakan satu hari, Bapak dan Ibu menanggungnya bertahun-tahun,” tuturnya.

Dengan penuh haru, Mustapha kemudian menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh orang tua dan keluarga wisudawan.

“Maka izinkan kami mengatakannya di depan seluruh hadirin, gelar ini milik Bapak dan Ibu. Terima kasih banyak Bapak dan Ibu atas segala doa dan dukungannya,” katanya.Ucapan terima kasih juga ditujukan kepada Rektor UNS, jajaran pimpinan, dosen, dan para pembimbing yang telah mendampingi mahasiswa selama menjalani pendidikan.

Mustapha menilai perguruan tinggi tidak hanya memiliki peran untuk meluluskan mahasiswa. Kampus juga menjadi tempat mahasiswa mendapatkan pendidikan, bimbingan, sekaligus pembentukan karakter.

“Kepada Bapak Rektor, para pimpinan, Bapak/Ibu dosen dan pembimbing kami. Terima kasih telah menjaga titipan itu, telah mendidik kami, bukan sekadar meluluskan kami,” ujarnya.

Ia turut mengenang berbagai pengalaman selama menjalani pendidikan, termasuk koreksi dan catatan dari dosen yang dahulu terasa berat.

“Coretan merah yang dahulu membuat kami putus asa, hari ini kami pahami sebagai bentuk perhatian,” katanya.

Tidak hanya dosen, Mustapha juga mengapresiasi tenaga kependidikan, laboran, petugas kebersihan, hingga petugas keamanan yang selama ini turut menjadi bagian dari kehidupan mahasiswa di kampus.

“Nama Bapak dan Ibu tidak tercetak di ijazah kami, tetapi ada di sepanjang perjalanan kami,” ungkapnya.

Setelah menyelesaikan pendidikan, para wisudawan kini memasuki tahap baru dalam kehidupan. Mustapha kemudian mengangkat kembali pertanyaan yang selama ini kerap ia dengar ketika tinggal di Solo.Namun, kali ini pertanyaan “Badhe tindak pundi?” atau “Mau ke mana?” tidak lagi ditujukan kepadanya sebagai mahasiswa yang hendak bepergian.

“Teman-teman wisudawan, hari ini pertanyaan itu kembali kepada kita. Kali ini bukan dari satpam, bukan dari ibu kos. Hari ini keluarga kita, masyarakat kita, dan negeri kita yang bertanya: ‘Badhe tindak pundi?’ Mau ke mana?” katanya.

Menurut Mustapha, ijazah menjadi bukti perjalanan akademik yang telah dilalui. Namun, kehidupan setelah wisuda ditentukan oleh bagaimana para lulusan menggunakan pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh untuk menjalani kehidupan serta berkontribusi kepada masyarakat.

“Ijazah kita menjawab pertanyaan dari mana. Tetapi pertanyaan mau ke mana hanya bisa dijawab oleh cara kita hidup setelah hari ini,” tegasnya.

Ia kemudian mengajak para lulusan menjadikan filosofi Jawa “Sepi ing pamrih, rame ing gawe” sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan setelah menyelesaikan pendidikan.

“Sedikit pamrih, banyak karya. Semoga itulah jawaban kita. Dan ke mana pun kita melangkah, kita membawa nama almamater ini: Mangesthi Luhur Ambangun Nagara,” ujarnya.

Bagi Mustapha, pengalaman selama menempuh pendidikan di UNS memberikan lebih dari sekadar gelar akademik. Ia datang ke Solo sebagai mahasiswa dari negara lain, tetapi mengakhiri perjalanannya dengan rasa memiliki terhadap keluarga besar UNS dan masyarakat yang telah menerimanya.

“Saya datang ke Solo sebagai tamu. Hari ini saya pulang sebagai keluarga. Matur nuwun, Solo. Matur nuwun, UNS,” pungkasnya.

Topik Menarik