Jangan Asal Berteman! Rasulullah Ungkap Bahaya Salah Memilihnya
Salah memilih temandapat membawa seseorang pada kebiasaan dan lingkungan yang jauh dari nilai-nilai agama. Karena itu, Islam mengajarkan umatnya agar selektif dalam memilih teman, terutama teman dekat yang banyak memengaruhi perilaku dan cara berpikir.
Dalam kehidupan sehari-hari, lingkungan pergaulanmemang tidak bisa dipandang sebelah mata. Seseorang yang terbiasa bergaul dengan orang-orang yang gemar melakukan maksiat berpotensi mengikuti kebiasaan tersebut. Sebaliknya, pertemanan dengan orang-orang saleh dapat menjadi jalan untuk semakin dekat dengan agama.
Karena itu, teman sering kali diibaratkan sebagai cermin. Cara seseorang bergaul dapat menggambarkan kebiasaan, karakter, bahkan kecenderungan dalam kehidupannya.
Rasulullah Muhammad bersabda:
المؤمن مرآة المؤمن
"Seorang mukmin merupakan cerminan saudaranya yang mukmin." (HR Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad dan Abu Dawud)Rasulullah Muhammad juga memberikan peringatan yang lebih tegas mengenai pengaruh teman dekat. Beliau bersabda:
المرء على دين خليله فلينظر احدكم من يخالل
"Seseorang itu berada di atas agama teman karibnya. Maka hendaklah salah seorang di antara kalian melihat siapa yang dia jadikan teman karibnya." (HR Abu Dawud, At-Tirmidzi dan Ahmad)
Baca juga:Salah Memilih Teman Bisa Jadi Petaka, Ini Adab Berteman dalam Islam
Hadis tersebut menunjukkan besarnya pengaruh lingkungan pergaulan terhadap kehidupan seseorang. Teman dekat bukan sekadar sosok yang menemani dalam aktivitas sehari-hari, tetapi juga dapat memengaruhi pola pikir, kebiasaan, akhlak hingga kehidupan beragama.
Teladan Alqamah Mencari Teman yang Baik
Perhatian terhadap pentingnya memilih teman juga terlihat dari kisah para ulama terdahulu. Dalam Shahih Al-Bukhari disebutkan kisah Alqamah rahimahullah ketika memasuki Negeri Syam.Setibanya di sana, Alqamah menuju masjid dan melaksanakan salat dua rakaat. Setelah itu, ia berdoa kepada Allah agar diberikan kemudahan untuk mendapatkan teman yang baik di negeri tersebut.
Setelah berdoa, ia mendatangi sekelompok orang yang sedang duduk dan bergabung bersama mereka. Tidak lama kemudian datang seorang syaikh yang duduk di dekatnya.Alqamah kemudian bertanya siapa sosok tersebut. Orang-orang yang berada di sana menjawab bahwa beliau adalah Abu Darda', salah seorang sahabat Rasulullah Muhammad.
Alqamah pun berkata kepada Abu Darda', "Aku telah berdoa kepada Allah agar diberi kemudahan mendapatkan teman yang baik di negeri ini. Sungguh, Allah telah memudahkanku bertemu denganmu."
Kisah tersebut memperlihatkan bagaimana orang-orang saleh terdahulu memandang penting keberadaan teman yang baik. Pertemanan bahkan menjadi sesuatu yang mereka mohonkan kepada Allah.
Teman Baik Membawa kepada Kebaikan
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah juga mengingatkan pentingnya memperhatikan siapa yang dijadikan teman.Beliau menjelaskan bahwa memilih teman merupakan perkara yang perlu diperhatikan setiap muslim. Jika seseorang berteman dengan orang-orang buruk, pengaruh negatif mereka dapat menyebar dengan cepat. Sebaliknya, jika berteman dengan orang-orang baik yang mengajak kepada kebaikan, mencegah kemungkaran dan membimbing kepada jalan yang benar, maka pertemanan tersebut patut dipertahankan.
Profil Vilmei, Tiktoker yang Uangnya Diduga Diambil Karyawannya Sendiri hingga Rp1,2 Miliar
Nasihat tersebut semakin penting bagi generasi muda. Sebab, lingkungan pergaulan pada masa pertumbuhan dapat memberikan pengaruh terhadap kebiasaan dan karakter seseorang pada masa berikutnya.
Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah pernah berkata:
"Jika engkau melihat seorang pemuda di awal pertumbuhannya bersama Ahlus Sunnah wal Jamaah, maka harapkanlah kebaikannya di kemudian hari. Jika engkau melihat di awal pertumbuhannya bersama ahlul bid'ah, maka berputusasalah akan kebaikannya."Pernyataan tersebut dinukil dalam kitab Al-Adab Asy-Syar'iyyah karya Al-Imam Ibnu Muflih.
Hal senada disampaikan Al-Imam Amr bin Qais Al-Mula'i rahimahullah dengan tambahan bahwa perjalanan seorang pemuda sangat dipengaruhi masa awal pertumbuhannya. (Al-Ibanah karya Al-Imam Ibnu Baththah rahimahullah).
Memilih Teman Saat Menuntut Ilmu
Selektif dalam memilih teman juga berlaku bagi seseorang yang sedang menuntut ilmu. Al-Imam Badruddin Ibnu Jamaah Al-Kinani rahimahullah memberikan sejumlah kriteria teman yang baik bagi seorang penuntut ilmu.Menurut beliau, jika membutuhkan teman, hendaknya seseorang memilih sahabat yang saleh, beragama, bertakwa, wara', cerdas, banyak kebaikannya, sedikit keburukannya, santun dalam bergaul dan tidak gemar berdebat.
Teman seperti itu dapat mengingatkan ketika seseorang lupa, mendukung ketika berada dalam kebaikan, membantu ketika membutuhkan pertolongan, serta menenangkan ketika sedang marah.
Nasihat tersebut sejalan dengan sabda Rasulullah Muhammad:
الرَّجُلُ عَلَى دِيْنِ خَلِيْلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ"Seseorang tergantung agama teman akrabnya. Maka hendaknya salah seorang di antara kalian memerhatikan siapa yang dijadikan sebagai teman akrab." (HR Abu Dawud, At-Tirmidzi dan Ahmad dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dalam Al-Ahadits Ash-Shahihah).
Berteman dengan Orang Saleh
Sahabat Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata bahwa seseorang akan berjalan dan berteman dengan orang yang dicintai dan memiliki kesamaan dengannya. (Al-Ibanah karya Al-Imam Ibnu Baththah rahimahullah).Al-Imam Qatadah rahimahullah juga mengingatkan pentingnya berteman dengan orang-orang saleh.
"Demi Allah, sungguh tidaklah kami melihat seseorang berteman kecuali dengan yang sejenisnya. Maka bertemanlah dengan orang-orang saleh dari hamba-hamba Allah, semoga kalian senantiasa bersama mereka atau menjadi seperti mereka." (Al-Ibanah karya Al-Imam Ibnu Baththah rahimahullah).
Dari berbagai nasihat tersebut, jelas bahwa Islam tidak melarang seseorang berteman dengan siapa saja. Namun, seorang muslim diperintahkan untuk memperhatikan pengaruh pertemanan tersebut terhadap agama dan akhlaknya.
Teman yang baik dapat menjadi pengingat ketika lalai, penyemangat dalam kebaikan dan pendukung ketika menghadapi kesulitan. Sebaliknya, pergaulan yang buruk dapat perlahan menyeret seseorang mengikuti kebiasaan yang sebelumnya tidak pernah dilakukannya. Karena itu, memilih teman bukan sekadar persoalan kenyamanan dalam pergaulan, tetapi juga bagian dari ikhtiar menjaga agama dan akhlak.
Baca juga:Kisah Imam Junaid dan Guru yang Mengemis di Pasar










