Usap Air Mata, Prabowo Teringat Penderitaan Warga Palestina

Usap Air Mata, Prabowo Teringat Penderitaan Warga Palestina

Nasional | sindonews | Sabtu, 19 September 2026 - 14:40
share

Sambil mengusapkan air mata dengan handuk kecilnya, Presiden Prabowo Subianto meminta maaf karena sempat menghentikan sambutannya sejenak dalam acara Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, Jawa Timur, Sabtu (19/9/2026). Prabowo mengaku tak kuasa menahan air matanya karena teringat dengan penderitaan yang dialami oleh warga Palestina.

"Saya minta maaf. Tadi saya teringat saudara-saudara kita di Palestina. Mereka dibantai, mereka dibom, mereka diserang terus-menerus. Dan kita seolah kurang berdaya untuk membantu mereka," kata Prabowo.

Prabowo menyatakan bahwa kondisi tersebut justru mendorong seluruh anak bangsa, khususnya para kiai, ulama, pendidik di institusi-institusi pendidikan Keagamaan seperti Pondok Modern Darussalam Gontor ini untik memicu suatu kehendak untuk membangun bangsa Indonesia yang kuat.

Baca juga: Prabowo Teriakkan Free Palestine di Pondok Modern Darussalam Gontor

"Karena bangsa yang tidak kuat, bangsa itu akan diinjak-injak oleh bangsa-bangsa lain.Kita harus belajar dari sejarah. Tadi dikatakan, ya, kita ingin membangun sejarah, tapi kita harus belajar dari sejarah. Dan kita harus jujur kepada diri kita. Kita harus jujur bukan kepada orang lain, tetapi kita harus jujur kepada diri kita sendiri," ujarnya.

Prabowo mengajak sebagai anak bangsa berani melihat kelemahan-kelemahan di dalam negeri. Ia melihat, ada situasi dimana sulit untuk melihat kekurangan-kekurangan diri sendiri.

"Saya berharap dari generasi penerus, dari ustaz-ustaz, dari ulama-ulama, untuk bisa membangunkan keberanian untuk belajar dari kelemahan-kelemahan kita sendiri, kekurangan-kekurangan kita sendiri," tuturnya.

Prabowo mengingatkan jika Indonesia pernah dijajah juga oleh Bangsa lain. Dan itu menjadi sebuah kenyataan pahit bagi bangsa Indonesia.

"Bapak-bapak kita, eyang-eyang kita, kakek-kakek kita, pendahulu-pendahulu kita, berjuang, melawan. Tapi cukup lama kita berada di bawah telapak kaki bangsa lain. Ini pahit, tapi kita harus berani mengakui dan kita harus belajar dari situ. Dan kita harus bertekad, jangan sekali-sekali kita akan dijajah kembali oleh siapa pun. Kita harus kuat," pungkasnya.

Topik Menarik