AI Membuat Kreativitas Murah, Siapa yang Membayar Harganya?

AI Membuat Kreativitas Murah, Siapa yang Membayar Harganya?

Nasional | sindonews | Rabu, 16 September 2026 - 15:26
share

Heidy ArvianiPeneliti Senior HUMANITAS (Strategic Communication & Digital Humanities)Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa TimurKandidat Doktor Ilmu Sosial Universitas Airlangga

ADA masa ketika sebuah usaha kecil yang ingin membuat poster promosi harus mencari desainer. Restoran memanggil fotografer. Perusahaan menyewa copywriter. Agensi iklan menurunkan satu tim untuk menyusun konsep, membuat visual, menulis naskah, lalu mengolahnya menjadi kampanye.

Sekarang sebagian pekerjaan itu bisa dimulai dengan membuka AI (artificial intelligence/ kecerdasan buatan). Ketik beberapa kalimat, pilih gaya, minta beberapa alternatif, ubah warna, gambar, headline, atau konsepnya. Dalam hitungan menit, sesuatu yang dulu menuntut keterampilan khusus dan waktu berjam-jam sudah terpampang di layar.

Ini kabar baik. AI membuat kemampuan kreatif jauh lebih mudah diakses. Pelaku UMKM yang dulu tak sanggup membayar jasa desain kini bisa membuat materi promosinya sendiri. Orang yang tidak pernah belajar ilustrasi bisa menghasilkan gambar. Tim kecil bisa memproduksi lebih banyak konten dengan sumber daya terbatas.

Tetapi ada pertanyaan yang jarang muncul saat kita merayakan efisiensi. Jika kreativitas makin mudah dan murah diproduksi, siapa sebenarnya yang membayar harga dari kemurahan itu?Riset terbaru mulai memberi jawaban yang tidak menyenangkan. Xiang Hui, Oren Reshef dan Luofeng Zhou, dalam studi di jurnal Organization Science (INFORMS) yang dipublikasikan Juli 2023, menemukan pekerja lepas di bidang yang terpapar AI generatif kehilangan peluang kerja sekaligus pendapatan. Peluncuran ChatGPT menyebabkan penurunan sebesar 2 pada jumlah pekerjaan di platform tersebut dan penurunan sebesar 5,2 pada pendapatan bulanan.

Temuan ini menantang anggapan bahwa dampak otomatisasi terutama dirasakan pekerja berketerampilan rendah. Di pasar kreatif, yang terjadi justru sebaliknya. Mereka yang selama ini memperoleh premi dari keahlian dan reputasi ternyata tidak sepenuhnya kebal terhadap perubahan teknologi. Sebagian tugas yang sebelumnya membutuhkan jasa profesional kini dapat dikerjakan dengan bantuan AI generatif.

Kita memang perlu mengakui AI membawa perubahan nyata. Biaya dan waktu produksi bisa ditekan. Satu orang kini sanggup menghasilkan lebih banyak pilihan dalam waktu jauh lebih singkat. Bagi bisnis dan konsumen, ini menarik. Bagi pekerja kreatif, jawabannya tidak sesederhana itu.

Bayangkan seorang desainer yang dulu perlu sehari penuh untuk menyelesaikan beberapa materi media sosial. Dengan AI, sebagian pekerjaan teknis bisa dipercepat. Idealnya, sisa waktu itu dipakai memikirkan konsep yang lebih matang. Tetapi ada kemungkinan lain. Dikarenakan pekerjaan selesai lebih cepat, klien meminta lebih banyak dengan harga yang sama. Lima desain menjadi lima belas. Revisi yang dulu butuh waktu kini dianggap "tinggal minta AI".

Efisiensi teknologi akhirnya tidak selalu menjelma menjadi waktu luang bagi pekerja. Ia bisa berubah menjadi standar produktivitas baru. Daron Acemoglu mengingatkan, kita terlalu banyak menggunakan AI untuk otomatisasi dan belum cukup menggunakannya untuk menyediakan keahlian serta informasi bagi pekerja. Persoalannya bukan sekadar apakah AI dapat menghemat pekerjaan, tetapi bagaimana teknologi itu dirancang dan digunakan. Untuk menggantikan manusia, atau untuk membuat manusia bekerja lebih baik. Ketika sebuah pekerjaan menjadi lebih mudah dilakukan, nilai pasarnya ikut bergeser. Bukan berarti semua pekerjaan kreatif otomatis jatuh harganya, tetapi pekerjaan yang rutin, repetitif, dan mudah distandardisasi akan lebih gampang dibandingkan semata berdasarkan kecepatan dan harga.

Desain sederhana kini bisa dibuat lebih banyak orang. Caption promosi bisa dihasilkan tanpa selalu memakai jasa copywriter. Materi visual dasar bisa digarap sendiri oleh pemilik usaha. Dari sisi konsumen, ini kabar baik. Pilihan bertambah, biaya menurun. Dari sisi pekerja, muncul persoalan tentang nilai keterampilan. Selama ini kita membayar seorang kreator bukan karena ia menghasilkan gambar atau tulisan, melainkan karena pengalaman, waktu, pengetahuan, rasa, kemampuan membaca konteks, dan tanggung jawab atas keputusan yang ia ambil.

AI bisa membantu menghasilkan output, tetapi tidak otomatis menggantikan seluruh kemampuan itu. Masalahnya, pasar kerap tidak membayar seluruh proses. Pasar membayar hasil yang terlihat. AI sanggup menghasilkan seratus gambar, tetapi seratus gambar bukan berarti seratus gagasan. Ia bisa menyodorkan puluhan headline, tetapi banyaknya headline tak menjamin ada satu kalimat yang benar-benar memahami persoalan komunikasi.

Kreativitas tetap menuntut keputusan. Apa yang harus dikatakan? Kepada siapa? Apa yang sebaiknya justru tidak dikatakan? Mengapa sebuah visual cocok untuk satu kelompok tetapi tidak untuk kelompok lain? Pertanyaan semacam ini tidak selesai hanya karena produksi menjadi cepat. Justru ketika produksi menjadi murah, nilai bergeser dari kemampuan membuat menjadi kemampuan menentukan apa yang layak dibuat.

Dalam konteks Indonesia, pertanyaan ini kian relevan. Ekosistem kreatif kita tidak hanya dihuni perusahaan besar. Ada freelancer yang hidup dari proyek ke proyek, desainer pemula, ilustrator, fotografer, editor video, copywriter, content creator, dan studio-studio kecil. Bagi mereka, AI adalah peluang sekaligus tekanan. AI bisa dipakai mempercepat pekerjaan, tetapi klien juga punya opsi mengerjakan sebagian sendiri. Batas antara profesional dan amatir makin tipis.Karena itu, solusinya tidak cukup dengan berkata kepada pekerja kreatif, "Belajarlah menggunakan AI." Tentu mereka harus beradaptasi. Tetapi industri juga perlu membicarakan standar kerja, penghargaan terhadap keahlian, transparansi penggunaan AI, hak cipta, perlindungan pekerja, dan pembagian manfaat produktivitas. Kalau tidak, kita hanya meminta orang berlari lebih kencang di lintasan yang terus berubah.

AI mungkin memang sedang membuat kreativitas lebih murah, dan itu tidak selalu buruk. Teknologi yang menurunkan hambatan masuk membuka kesempatan baru bagi orang tanpa modal besar untuk berkarya. UMKM mampu berkomunikasi dengan biaya lebih rendah. Ini bukan tentang murahnya teknologi. Melainkan apa yang terjadi setelah harga produksi turun? Apakah pekerja kreatif mendapat lebih banyak ruang untuk berpikir, atau justru dituntut menghasilkan lebih banyak dengan bayaran yang sama?

AI sedang mengubah ekonomi kreativitas. Karena itu kita tidak cukup membicarakan seberapa canggih mesinnya. Tetapi siapa saja yang menikmati kecanggihan itu. Daron Acemoglu dan Simon Johnson (dua ekonom MIT peraih Hadiah Nobel Ekonomi 2024) mengajukan pertanyaan dalam buku mereka, Power and Progress (2023) "Technology creates economic growth, but who captures that economic growth?" Teknologi menciptakan pertumbuhan ekonomi, tetapi siapa yang menikmati pertumbuhan itu?

Topik Menarik