Terlapor Penyebaran Video Manipulasi Tempuh RJ hingga Minta Maaf, Pitra: Pelajaran bagi Semua Pihak
Kasus dugaan penyebaran video manipulasi yang melibatkan pengacara Pitra Romadoni Nasution memasuki tahap Restoratif Justice (RJ). Dalam video yang ditayangkan kanal YouTube PETISI AHLI (Perkumpulan Praktisi Hukum & Ahli Hukum Indonesia), terlapor Arfan Ikhsan Lubis menyampaikan permintaan maaf atas kegaduhan yang terjadi.
Permintaan maaf tersebut mendapat respons positif dari Pitra Romadoni yang memilih mengedepankan sikap pemaafan sekaligus memberikan kesempatan kepada Arfan untuk memperbaiki diri.
Baca juga: Dukung RUU Perampasan Aset, Pitra Romadoni: Pejabat Korup Harus Dimiskinkan
Menurut Pitra, pemberian maaf bukan berarti membenarkan perbuatan yang dipersoalkan. Namun, seseorang tetap perlu diberikan kesempatan untuk menyadari kekeliruannya, bertanggung jawab, dan memastikan peristiwa serupa tidak kembali terjadi.
Permintaan maaf memiliki makna penting apabila disertai dengan komitmen untuk tidak mengulangi tindakan yang menjadi persoalan. Dia berharap Arfan dapat mengambil pelajaran dari kasus tersebut dan lebih berhati-hati dalam menggunakan media sosial, khususnya dalam membuat maupun menyebarkan konten yang berkaitan dengan pihak lain agar tidak menjadi persoalan hukum ke depan.Pitra juga mengingatkan bahwa perkembangan teknologi membuat sebuah informasi dapat tersebar dalam waktu singkat. Karena itu, masyarakat harus semakin bertanggung jawab ketika menggunakan media sosial.
“Kita tidak ingin persoalan ini terjadi lagi. Cukup menjadi pelajaran bagi yang bersangkutan dan juga bagi masyarakat agar lebih berhati-hati dan bijak menggunakan media sosial,” katanya.
Sikap Pitra dalam kasus ini juga memperlihatkan bahwa penyelesaian persoalan hukum dapat mempertimbangkan aspek kemanusiaan. Baginya, ketegasan hukum tetap penting, tapi kesempatan untuk memperbaiki diri juga merupakan bagian dari nilai keadilan.
“Hukum bukan hanya soal menghukum. Ada aspek kemanusiaan dan pembelajaran. Kalau seseorang sudah meminta maaf dan berkomitmen untuk tidak mengulangi tentu kesempatan untuk memperbaiki diri harus dihargai,” ungkapnya.
Peristiwa tersebut menjadi perhatian karena memperlihatkan adanya ruang dialog dan penyelesaian yang lebih mengedepankan tanggung jawab daripada sekadar mempertajam konflik.
Pitra berharap persoalan ini menjadi pelajaran bersama agar masyarakat semakin bijak dalam bermedia sosial dan tidak mengulangi tindakan yang berpotensi merugikan orang lain.










