Kisah Kevin Jadi Mahasiswa ITB di Usia 14 Tahun, Intip Rahasia Belajarnya

Kisah Kevin Jadi Mahasiswa ITB di Usia 14 Tahun, Intip Rahasia Belajarnya

Gaya Hidup | sindonews | Senin, 14 September 2026 - 20:27
share

Masih berusia 14 tahun namun Kevin Vincent Noel Sitanggang saat ini telah menjadi mahasiswa baru di Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan (FTTM) Institut Teknologi Bandung (ITB). Ia pun menceritakan perjuangannya sampai bisa menjadi mahasiswa termuda di ITB.

“Saya adalah anak kecil yang punya banyak mimpi. Salah satunya adalah bermimpi bisa menjadi mahasiswa ITB,” ujar Kevin, dikutip dari laman ITB, Senin (14/9/2026).

Baca juga: Persiapan SNBP 2027, Ini Daftar 20 PTN Paling Diminati di 2026

Kevin duduk di bangku sekolah dasar pada usia lima tahun. Ketika masih kelas satu pada 2016, ayahnya mendaftarkannya dalam program akselerasi meski awalnya Kevin khawatir dengan tekanan belajar yang lebih tinggi. Ia kemudian menyelesaikan SD dalam empat tahun dan memasuki SMP pada usia sembilan tahun.

Sejak SD, Kevin aktif mengikuti berbagai kompetisi akademik. Di SMP ia mengikuti KSN Matematika dan English Speech Contest tingkat kota, sementara di SMA ia berpartisipasi dalam OSN Matematika dan kompetisi matematika di Universitas Pasundan. Ia juga meraih juara ketiga English Speech Contest tingkat SMA se-Kota Bandung.Selama SMA, Kevin berhasil mempertahankan peringkat pertama selama lima semester berturut-turut dan memperoleh penghargaan sebagai siswa peringkat ketiga terbaik di bidang sains pada acara pelepasan siswa. Namun, perjalanan menuju ITB tidak langsung berhasil.

Baca juga: Momen Presiden Prabowo Bertemu Mahasiswa Indonesia saat Tiba di India

Kevin dinyatakan eligible peringkat kelima untuk mendaftar melalui Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) dan memilih FMIPA-M ITB serta FTI-RI ITB. Namun sayangnya ia belum berhasil pada jalur tersebut.

Kemudian, ayahandanya yang juga lulusan Teknik Pertambangan ITB mengarahkan Kevin memilih FTTM sebagai pilihan pertama pada Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK-SNBT).

Hasilnya, Kevin dinyatakan lolos dan resmi menjadi mahasiswa FTTM ITB.“Saya mempersiapkan UTBK sekitar dua bulan dan sebetulnya hasilnya kurang maksimal. Saya pun mengira saya tidak akan lolos. Namun, Tuhan memiliki rencana yang lain,” tuturnya.

Perbedaan Usia Jadi Tantangan Tersendiri

Di balik prestasi akademiknya, Kevin menolak anggapan bahwa dirinya selalu mudah menghadapi pelajaran.

“Mungkin banyak orang yang mengira bahwa saya adalah anak yang sudah pintar sejak lahir dan bisa melalui tantangan akademik apa pun dengan mudah. Faktanya, saya lebih banyak gagal daripada berhasil,” katanya.

Perbedaan usia dengan teman-teman seangkatannya juga menjadi tantangan tersendiri. Kevin mengaku terkadang mengalami kelelahan dalam mengejar ritme belajar yang lebih cepat dan menghadapi impostor syndrome. Kekhawatiran bahwa dirinya akan dipandang berbeda karena usia juga sempat muncul.

Dukungan keluarga, guru, dan teman menjadi salah satu kekuatan terbesarnya. Ayahnya menjadi role model yang banyak membentuk dirinya, sementara ibu dan kedua kakaknya menjadi support system yang memahami perjuangannya.

Salah satu guru yang turut menginspirasi Kevin untuk masuk ITB adalah Pak Kosasih, salah seorang purnabakti dosen Fisika ITB. Menurutnya, setiap kali beliau mengajar dan memberikan ujian, impian untuk berkuliah di ITB terasa semakin dekat.“Yang paling penting adalah bagaimana kita tetap berjalan, membuat kemajuan, bahkan ketika rasanya kita hanya jalan di tempat,” ujar Kevin.

Rahasia Belajar Kevin

Cara belajar Kevin menjadi salah satu hal yang banyak ingin diketahui. Saat mempersiapkan UTBK, ia lebih banyak mengerjakan try out dan latihan soal untuk membuat pola soal menjadi familiar. Karena telah memiliki dasar sains yang cukup, ia tidak terlalu banyak mengulang konsep.

Dalam belajar sehari-hari, Kevin mengombinasikan Feynman Technique dan Active Recall untuk memastikan dirinya benar-benar memahami materi. Ia juga menggunakan teknik Pomodoro 50 menit belajar dan 10 menit istirahat sebanyak dua repetisi.

Menurut Kevin, konsistensi lebih penting daripada mengandalkan motivasi.

“Jadwal belajar harian sangat krusial dalam membangun disiplin karena jika hanya bergantung pada motivasi dan semangat, kita akan cepat kelelahan atau burnout. Motivasi kita bisa redup kapan saja,” ujarnya.

Di luar akademik, Kevin tetap menekuni hobinya bermain piano yang dikenalkan ayahnya sejak SD. Ia juga berusaha memisahkan waktu belajar dengan waktu pemulihan fisik dan mental. Beribadah menjadi salah satu caranya menjaga keseimbangan.

Memilih FTTM dan Menatap Babak Baru

Ketertarikan Kevin terhadap FTTM bermula dari ayahnya yang mengenalkannya pada alat berat dan industri pertambangan. Sebagai alumni Teknik Pertambangan ITB, ayahnya menjelaskan bagaimana sumber daya alam dapat diambil dari ratusan meter di bawah permukaan tanah. Ia kemudian berharap Kevin dapat melanjutkan tekadnya di bidang perminyakan.Kini, Kevin memasuki babak baru di ITB. Ia menyadari bahwa perjalanan ke depan tidak akan selalu mudah, tetapi pengalaman sebelumnya membuatnya memahami arti bertahan dalam proses.

“Akan terasa lebih sulit ketika mengejar sesuatu yang jauh di depan ketika kita menyadari bahwa kita masih ada di belakang,” katanya.

Ia mengingat pesan ayahnya, “Kalau bisa sekarang, kenapa harus nanti?”

Bagi Kevin, keberhasilan bukan semata-mata tentang hasil akhir. Proseslah yang menurutnya paling banyak membentuk seseorang.

“Berjuanglah bukan untuk hasil, tetapi untuk proses. Belajarlah bukan hanya untuk nilai, tetapi untuk mereka yang telah lebih dulu berkorban demi memastikan kita bisa belajar dengan baik,” katanya.

Topik Menarik