Mengapa 'NATO Islam' Tak Menolong Arab Saudi dari Serangan Houthi Yaman?

Mengapa 'NATO Islam' Tak Menolong Arab Saudi dari Serangan Houthi Yaman?

Global | sindonews | Minggu, 13 September 2026 - 06:59
share

Wilayah selatan Arab Saudi dilanda gelombang serangan rudal dari kelompok Houthi Yaman pada Selasa lalu, menyebabkan lebih dari 70 orang terluka serta memicu kebakaran di sejumlah fasilitas minyak dan utilitas. Eskalasi ini juga menyoroti pakta pertahanan bersama yang baru saja ditandatangani di Makkah antara Arab Saudi, Pakistan, dan Turki.

Ditandatangani pada bulan Agustus di Makkah, pakta tersebut menyatakan bahwa agresi terhadap salah satu dari ketiga negara itu akan dianggap sebagai serangan terhadap semuanya. Klausul tersebut mirip dengan Pasal 5 NATO yang jadi prinsip pertahanan kolektif aliansi pimpinan Amerika Serikat (AS). Lantaran kemiripan itulah, aliansi Makkah kerap disebut-sebut sebagai "NATO Islam" atau "NATO Muslim".

Baca Juga: Houthi Peringatkan Turki dan Pakistan Tidak Dukung Arab Saudi dalam Perang di Yaman

Namun, faktanya, aliansi Makkah tak kunjung mengaktifkan respons militer kolektif untuk menolong Arab Saudi.

Pakistan, satu-satunya anggota aliansi Makkah yang bersenjata nuklir, menyatakan tidak ada pembahasan mengenai respons militer berdasarkan pakta Mekkah terkait serangan Houthi terhadap Arab Saudi.

"Tidak ada hal semacam itu yang sedang dibahas saat ini...Ketika saatnya tiba, (kami) akan bertindak sesuai perjanjian tersebut," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Pakistan, Sajjad Haider Khan, seperti dikutip dari Reuters, Minggu (13/9/2026).Pernyataan tersebut disampaikan sebagai respons atas pertanyaan mengenai bagaimana Islamabad berencana memenuhi kewajibannya berdasarkan kesepakatan pertahanan bersama yang ditandatangani dengan Turki dan Arab Saudi.

Pakistan, yang juga berperan sebagai penengah dalam konflik antara AS dan Iran, mengecam serangan-serangan Houthi tersebut namun tidak memberikan rincian mengenai bagaimana mereka mungkin akan merespons berdasarkan ketentuan pakta pertahanan Makkah.

Khan juga menyatakan bahwa tidak ada rencana untuk memperluas aliansi Mekkah, di tengah upaya Washington untuk meredam gejolak regional yang juga telah mengganggu pasokan energi global.

Michael Kugelman, seorang analis Asia Selatan, berpendapat dalam sebuah artikel di Atlantic Council bahwa pakta pertahanan bersama Makkah tidak boleh dipandang sebagai kemunculan aliansi militer ala NATO.

"Kesepakatan ini bukanlah aliansi seperti NATO, dan tidak pula menandakan terbentuknya blok regional baru yang terpisah. Namun, hal itu tidak berarti kesepakatan ini tidak penting," tulis Kugelman.Arab Saudi telah memiliki perjanjian pertahanan bersama dengan Pakistan yang berlaku sejak September 2025 dan juga tercakup dalam pengaturan pertahanan kolektif yang melibatkan Dewan Kerja Sama Teluk (GCC). Akan tetapi, sebagaimana dicatat oleh Kugelman, perjanjian-perjanjian tersebut tidak serta-merta menghasilkan respons militer otomatis.

Pakistan sudah memberikan dukungan keamanan kepada Arab Saudi. Menurut laporan media lokal, Islamabad telah mengerahkan sekitar 8.000 personel militer, beserta jet tempur, pesawat nirawak, dan sistem pertahanan udara, sembari juga memberikan pelatihan dan bantuan teknis.

Oleh karena itu, berdasarkan pakta Makkah, Pakistan dapat memberikan respons melalui pertahanan udara, intelijen, pelatihan, atau dukungan keamanan lainnya tanpa harus terlibat langsung dalam pertempuran melawan kelompok Houthi.

Mengapa Pakistan bersikap hati-hati? Islamabad memiliki alasan untuk menghindari keterlibatan lebih dalam pada konflik Timur Tengah.

Pakistan berbatasan langsung dengan Iran dan berupaya menjaga hubungan dengan Teheran, sembari memosisikan diri sebagai calon penengah dalam ketegangan regional.

Para pemimpinnya telah mengecam serangan Houthi, namun Pakistan juga menepis anggapan bahwa kemampuan penangkal nuklirnya mencakup perlindungan bagi Arab Saudi. Pejabat Pakistan sebelumnya menyatakan bahwa senjata nuklir "tidak masuk dalam pertimbangan" saat membahas perjanjian Arab Saudi-Pakistan tahun 2025 tersebut.

Serangan Houthi kini menjadi ujian politik bagi pakta tiga pihak tersebut. Khusus bagi Pakistan, tantangannya adalah menunjukkan solidaritas terhadap Riyadh tanpa terseret ke dalam konflik yang lebih luas.

Topik Menarik