Letusan Anak Krakatau Dipantau Ketat, Gubernur Banten Minta Warga Waspada

Letusan Anak Krakatau Dipantau Ketat, Gubernur Banten Minta Warga Waspada

Nasional | sindonews | Minggu, 6 September 2026 - 19:54
share

Gubernur Banten Andra Soni turun langsung memantau letusan Gunung Anak Krakatau sekaligus memastikan kesiapsiagaan pemerintah daerah dalam menghadapi potensi dampaknya. Pemantauan dilakukan dari Pos Pengamatan Gunung Api Anak Krakatau (PGA GAK) di Desa Pasauran, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, Minggu (6/9/2026).

Dalam rapat koordinasi bersama jajaran Pemerintah Provinsi Banten, pemerintah kabupaten/kota, serta Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian ESDM Rita Susilawati, Andra memastikan pemantauan dan langkah mitigasi dilakukan secara terpadu.

Baca juga: Gunung Anak Krakatau Terus Meletus, BMKG: Ada Kembang Api Lava, Lapili hingga Bom Vulkanik

“Berdasarkan pemantauan PVMBG, aktivitas Gunung Anak Krakatau saat ini menunjukkan penurunan,” kata Andra dalam keterangannya.

Meski aktivitas gunung api menurun, Andra meminta masyarakat tidak panik dan tetap meningkatkan kewaspadaan. Ia juga mengingatkan masyarakat agar memperoleh informasi mengenai kondisi Gunung Anak Krakatau hanya dari lembaga resmi.

Pemerintah daerah, kata dia, juga harus memastikan kesiapan mitigasi hingga tingkat desa. Hal itu mencakup kesiapan jalur evakuasi serta lokasi pengungsian apabila sewaktu-waktu terjadi peningkatan aktivitas vulkanik.

Baca juga: 2 Klaster Abu Vulkanik Letusan Gunung Anak Krakatau Menyebar ke Jakarta, Jawa Barat hingga Bengkulu

Selain itu, Pemprov Banten menyiapkan langkah antisipasi terhadap potensi paparan abu vulkanik. Salah satunya dengan mendistribusikan 5.000 box masker melalui Dinas Kesehatan ke sejumlah wilayah prioritas.

“Keselamatan masyarakat adalah hal yang paling utama. Itu yang harus kita kerjakan,” tegas Andra.Kepala PVMBG Rita Susilawati mengatakan hasil pemantauan menunjukkan aktivitas Gunung Anak Krakatau mengalami penurunan. Namun, potensi erupsi masih tetap ada sehingga pemantauan dilakukan selama 24 jam.

Menurut Rita, arah sebaran abu vulkanik sangat dipengaruhi kondisi angin. Pada 6 September 2026, abu vulkanik terpantau bergerak ke arah barat, menuju wilayah Selat Sunda dan Samudra Indonesia.

PVMBG terus memantau arah angin dan pergerakan abu melalui sejumlah stasiun pengamatan. Pemantauan juga dilakukan bersama BMKG serta memanfaatkan data dari stasiun pengamatan di Australia.

Data tersebut turut digunakan untuk mengantisipasi kemungkinan dampak aktivitas Gunung Anak Krakatau terhadap penerbangan.

Rita menegaskan masyarakat, nelayan, dan wisatawan dilarang mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas.

“Aktivitas gunung api tidak selalu terlihat secara kasat mata,” ujarnya.

Ia menambahkan, waktu terjadinya maupun berakhirnya erupsi tidak dapat dipastikan. Karena itu, pemantauan dan kewaspadaan masyarakat harus tetap dijaga.

Topik Menarik