Berteman dengan Kecerdasan Buatan
RamdansyahPeneliti Pascasarjana Universitas Islam Jakarta
KECERDASAN buatan semakin pandai melakukan pekerjaan yang selama ini dianggap milik manusia. Artificial intelligence (AI) dapat menulis, menerjemahkan bahasa, membuat gambar, menggubah musik, merangkum bacaan, dan membantu penelitian dengan kecepatan yang sulit ditandingi manusia.
Kemampuan itu membuka peluang besar. Namun, semakin canggih AI, semakin mendesak pula sebuah pertanyaan: apakah kita akan menerima teknologi itu atau meninggalkannya sama sekali?
Pertanyaan semacam ini sebenarnya bukan hal baru. Pada awal 1970-an, kehadiran radio dan televisi sebagai medium modern juga menghadirkan respons berbeda. Ada yang menerimanya, ada pula yang menolaknya karena melihat berbagai mudarat yang mungkin ditimbulkan.
Kini manusia berhadapan dengan teknologi informasi yang jauh lebih canggih. Persoalannya bukan hanya apakah manusia menerima AI, melainkan apakah manusia masih mampu menentukan nilai, tujuan, dan tanggung jawab ketika mesin mengambil semakin banyak bagian dalam kehidupan.
Di tengah persoalan global tersebut, pengalaman kebudayaan Indonesia memberikan analogi menarik. Puluhan tahun lalu, Rhoma Irama menghadapi persoalan yang tentu berbeda secara teknis, tetapi memiliki kemiripan secara etis: bagaimana menerima kekuatan medium modern tanpa menyerahkan kepadanya seluruh orientasi kehidupan manusia?
Dalam perjalanan religius seseorang, modernitas terkadang dipandang sebagai sesuatu yang harus dijauhi. Musik, hiburan, media massa, bahkan teknologi modern dapat dipertentangkan dengan kesalehan individual.
Rhoma mengambil jalan berbeda. Ia tidak meninggalkan musik setelah kembali dari perjalanan haji. Ia tetap berada di dalam modernitas, tetapi berusaha memberikan arah moral kepada medium yang digunakannya.
Tidak Menolak Teknologi
Religiositas tidak membawa Rhoma meninggalkan musik dan kebudayaan populer. Ia tetap tampil, merekam lagu, hadir di televisi dan film, menggunakan media, serta berkomunikasi dengan khalayak luas. Pada saat yang sama, praktik keagamaan dan pandangan hidup Islam tetap dipertahankan dalam aktivitas bermusiknya.Peristiwa 3 Agustus: Berakhirnya Perang Padri hingga Petinggi PLO Dibunuh Agen Mossad di Paris
Pilihan itu menghasilkan posisi yang menarik: tidak menerima modernitas tanpa kritik, tetapi juga tidak meninggalkannya.
Soneta kemudian mengusung identitas Voice of Moslem. Dangdut tetap menjadi hiburan populer, tetapi musik sekaligus digunakan sebagai medium dakwah, kritik, pendidikan moral, dan refleksi keagamaan. Dari sinilah gagasan “musik bersih” menjadi relevan.
“Bersih” tidak seharusnya dipahami sebagai klaim untuk menentukan secara universal musik mana yang bermoral dan mana yang tidak. Intinya justru terletak pada penolakan terhadap anggapan bahwa medium kebudayaan bebas dari tanggung jawab.
Musik bersih menempatkan karya sebagai bagian dari pertanggungjawaban manusia kepada Tuhan dan sesama manusia, bukan semata-mata seni untuk seni (l’art pour l’art) yang melepaskan diri dari nilai moral.
Dalam pengalaman Rhoma, musik bersih dapat dibaca melalui lima unsur: niat, lirik, penampilan, lingkungan Soneta, dan tanggung jawab. Musik tidak hanya dinilai berdasarkan popularitas atau daya hiburnya, tetapi juga tujuan dan konsekuensi sosialnya. Di pintu masuk Studio Soneta bahkan terdapat prasasti yang menempatkan musik sebagai pertanggungjawaban kepada Tuhan dan manusia.
Di sinilah analoginya dengan AI menjadi menarik. Teknologi dan musik tentu berbeda. Namun, keduanya memperlihatkan persoalan yang sama: kemampuan sebuah medium tidak dengan sendirinya menentukan tujuan penggunaannya.AI dapat digunakan untuk pembelajaran ataupun manipulasi. Lagu-lagu dari musik orisinal kini dapat diolah bahkan oleh mereka yang tidak memahami musik, asalkan mampu memberikan perintah atau prompt kepada platform AI.
Teknologi dapat membantu kreativitas, tetapi juga dapat menghasilkan misinformasi. Teknologi tidak memilih sendiri untuk tujuan apa ia digunakan. Manusia tetap mempunyai peran menentukan arah pemanfaatannya.
Ketika Manusia Menyerahkan Penilaian
Bahaya terbesar AI bukan semata-mata ketika mesin menjadi semakin pintar. Persoalan muncul ketika manusia berhenti menjalankan penilaiannya sendiri.Pierre Bourdieu membantu menjelaskan bahwa tindakan manusia tidak berlangsung dalam ruang kosong. Manusia berada di antara struktur yang membatasinya dan kebebasan untuk bertindak. Melalui konsep habitus, tindakan manusia dipahami tidak sepenuhnya ditentukan struktur, tetapi juga tidak seluruhnya lahir dari kebebasan yang tanpa batas.
Persoalan serupa dapat dibaca dalam hubungan manusia dengan AI. AI hadir melalui keputusan organisasi, kumpulan data, infrastruktur, insentif platform, norma profesional, dan perilaku pengguna. Karena itu, mengatakan bahwa “AI akan mendeterminasi tindakan manusia” dapat menyesatkan, seolah-olah teknologi merupakan aktor yang bergerak sendiri.
Sebaliknya, menganggap manusia mempunyai kebebasan penuh mengendalikan AI juga terlalu sederhana ketika lingkungan institusional justru dapat membuat kontrol manusia semakin sulit dijalankan. Karena itu, AI yang berpusat pada manusia tidak cukup dimaknai sebagai keberadaan manusia di depan layar yang memberikan perintah dan menekan tombol terakhir.
Manusia harus tetap memiliki kemampuan untuk memahami, memeriksa, mempertanyakan, mengoreksi, menolak, dan mempertanggungjawabkan hasil teknologi. Masalah ini menjadi sangat nyata dalam pendidikan.
AI generatif dapat membantu mahasiswa dan peneliti mencari gagasan, menerjemahkan, memperbaiki bahasa, membuat transkripsi, merangkum bacaan, melakukan pengodean, dan mengeksplorasi data. Kemampuan itu dapat memperluas akses sekaligus meningkatkan produktivitas.
Namun, bantuan berbeda dengan penggantian. Seorang mahasiswa dapat menghasilkan tulisan yang tampak meyakinkan dengan bantuan AI. Tetapi, siapa yang bertanggung jawab apabila referensinya ternyata tidak ada? Siapa yang memastikan kutipannya benar? Siapa yang menilai apakah rangkuman sebuah buku sesuai dengan isi aslinya?
Jawabannya tetap manusia. Setiap fakta, kutipan, dan sitasi tetap menjadi tanggung jawab penulis. Model AI dapat menghasilkan referensi yang tampak meyakinkan tetapi sebenarnya tidak ada. Kefasihan bukanlah bukti kebenaran.Peneliti juga harus mampu mempertanggungjawabkan argumentasinya tanpa bergantung sepenuhnya pada alat yang membantu proses penulisan. Karena itu, pertanyaan untuk kalangan akademisi seharusnya bukan sekadar apakah mahasiswa menggunakan AI, melainkan bagaimana AI digunakan.
Perlu dibedakan antara bantuan dan substitusi. Verifikasi tetap diperlukan, demikian pula keterbukaan penggunaan AI, perlindungan data penelitian yang bersifat rahasia, serta ruang evaluasi yang mengharuskan mahasiswa menunjukkan pemahamannya secara mandiri.
Tidak Kehilangan Unsur Manusiawi
Seorang mahasiswa pascasarjana mungkin dapat menghasilkan lebih banyak halaman dengan bantuan AI. Namun, apabila pada saat bersamaan ia kehilangan kemampuan menilai bukti, mempertahankan argumentasi, atau bertanggung jawab terhadap klaimnya, ia mungkin menjadi lebih produktif, tetapi kurang terbentuk secara intelektual.Inilah salah satu persoalan mendasar pendidikan pada zaman AI. Tesis atau disertasi bukan sekadar dokumen. Ia merupakan proses “menjadi”.
Membaca teks yang sulit, menghadapi bukti yang bertentangan, merevisi argumentasi, menjelaskan metode, dan menghadapi kritik merupakan bagian dari pendidikan itu sendiri. Jika AI menghilangkan seluruh kesulitan produktif tersebut, teknologi mungkin meningkatkan kualitas permukaan sebuah dokumen sekaligus melemahkan pembentukan penelitinya.
Indonesia juga menghadapi tantangan lain. Sistem AI berskala besar banyak dibentuk oleh bahasa, penerbit, data, dan tradisi intelektual yang dominan. Akademisi perlu menggunakan AI untuk memperluas dialog, tetapi kemudahan teknologi jangan sampai menghapus kekayaan lokal, konsep, bahasa, tradisi keagamaan dan filosofis, ataupun pengalaman empiris Indonesia.
Justru di sinilah pengalaman Rhoma memperoleh maknanya. Kita tidak perlu menjadikannya “teoretikus AI”. Pengalaman musik tentu tidak dapat dipindahkan begitu saja menjadi teori teknologi. Namun, pengalaman “musik bersih” memberikan satu pelajaran penting: medium modern dapat diterima tanpa manusia harus menyerahkan kepadanya tujuan moral tindakannya.
Berteman dengan AI
Kita karena itu tidak membutuhkan sikap anti-AI. Pelajaran dari pengalaman Rhoma bukanlah pelarangan, melainkan penggunaan yang berdisiplin menjadi habitus. Sebuah medium yang kuat dapat diterima, tetapi harus tetap berada di bawah tujuan etis manusia.Prinsip “bersih” pun tidak boleh berubah menjadi instrumen untuk menghakimi manusia atau kebudayaan lain. Dalam masyarakat yang plural, nilai selalu terbuka untuk diperdebatkan. Prinsip yang dapat dipindahkan dari musik bersih ke AI bukanlah polisi moral, melainkan akuntabilitas.Maka, ukuran keberhasilan AI tidak seharusnya berhenti pada kecepatan, efisiensi, kecanggihan, atau jangkauannya. Teknologi juga harus dinilai berdasarkan tujuan yang dilayaninya, akibat sosial yang dihasilkannya, dunia kebudayaan yang dihormatinya, dan manusia seperti apa yang ikut dibentuknya.
AI boleh menjadi mitra penelitian yang semakin kuat. Namun, ia tidak boleh menjadi pemikul tanggung jawab akademik. Manusialah yang tetap bertanya, memeriksa, menafsirkan, memutuskan, dan bertanggung jawab atas pengetahuan yang dihasilkan.
Pada akhirnya, penelitian yang paling maju bukanlah penelitian yang sekadar menggunakan teknologi paling maju. Kemajuan ditentukan oleh kemampuan manusia menggunakan teknologi tanpa menyerahkan kebenaran, martabat, integritas budaya, tanggung jawab moral, dan kapasitas manusia untuk berkembang.
Itulah tantangan terbesar Indonesia pada zaman AI: bukan bagaimana membuat mesin semakin menyerupai manusia, melainkan bagaimana memastikan manusia tidak kehilangan kemanusiaannya ketika mesin menjadi semakin cerdas.
Berteman dengan AI berarti menerima kecerdasannya tanpa menyerahkan kedaulatan manusia kepadanya. Sebab, secanggih apa pun teknologi, manusialah yang harus tetap mempertanggungjawabkan penggunaannya kepada Tuhan dan sesama manusia. Seperti dituliskan dalam prasasti di pintu masuk Studio Soneta-nya Rhoma Irama.
(Artikel opini ini merupakan ringkasan paper yang dipresentasikan dalam The 10th International Conference on Postgraduate Research 2026 di Hat-Yai, Songkhla Thailand, 1 September 2026).










