Syngenta Kenalkan Insektisida Baru Dongkrak Produktivitas Cabai
Syngenta Indonesia menghadirkan insektisida berbasis teknologi PLINAZOLIN melalui SIMODIS untuk membantu petani mengendalikan serangan hama thrips pada tanaman cabai. Produk tersebut pertama kali diperkenalkan untuk tanaman cabai di Indonesia dalam kegiatan yang dihadiri 285 petani dari Jember dan Banyuwangi.
"Petani hortikultura, termasuk cabai, menghadapi tiga tantangan utama, yaitu kekeringan, harga komoditas yang tidak menentu, serta hama dan penyakit yang memengaruhi produksi. Dua hal pertama berada di luar kendali kita, namun untuk hama dan penyakit, kita dapat mengupayakannya melalui penggunaan produk perlindungan tanaman yang tepat," ujar National Sales Head Syngenta Indonesia Fauzi Tubat dalam keterangannya, Selasa (1/9/2026).
Baca Juga:13 Pejabat Kementan Dicopot karena Judol, Deposit Tembus Rp200 Juta
Fauzi mengatakan SIMODIS dirancang untuk membantu petani mengatasi serangan thrips yang dapat mengganggu pertumbuhan pucuk, daun, bunga, hingga buah cabai. Pengendalian hama yang lebih optimal diharapkan dapat membantu menjaga kesehatan tanaman, mengurangi risiko buah bengkok, mempertahankan kualitas panen, serta meningkatkan nilai jual hasil produksi.
Jember dipilih sebagai lokasi peluncuran karena merupakan salah satu sentra produksi cabai di Jawa Timur. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi cabai di Kabupaten Jember mencapai 176.234 kuintal sepanjang 2024, sehingga dukungan teknologi perlindungan tanaman dinilai penting untuk membantu menjaga produktivitas dan kualitas komoditas tersebut.
Product Manager Syngenta Indonesia Tracy Tey Hui Xiang mengatakan penggunaan SIMODIS perlu dilakukan secara bertanggung jawab sesuai rekomendasi teknis dan petunjuk label. “Petani perlu mengikuti petunjuk penggunaan pada label dan menerapkan rotasi mode of action atau cara kerja bahan aktif untuk membantu memperlambat terbentuknya resistensi dan menjaga efektivitas pengendalian thrips dalam jangka panjang,” ujarnya.Untuk tanaman cabai, SIMODIS direkomendasikan diaplikasikan pada 28, 35, dan 42 hari setelah tanam (HST), dengan dosis 600 mililiter per hektare atau konsentrasi 1,2 mililiter per liter. Volume semprot yang disarankan mencapai 500 liter per hektare untuk membantu memastikan cakupan aplikasi yang merata.Baca Juga:Ratusan Ton Bahan Pakan Mengandung Babi Dimusnahkan di Bogor
Salah satu petani cabai, Arif Saifur Rohman, mengatakan penggunaan SIMODIS membantunya menjaga kondisi tanaman mulai dari pucuk, daun, hingga bunga. Menurut dia, kondisi tersebut turut mendukung peningkatan hasil panen dan kualitas buah sehingga berpotensi meningkatkan nilai jual.
Peluncuran di Jember menjadi pembuka rangkaian kegiatan di lima lokasi di Indonesia yang ditujukan untuk memperluas edukasi mengenai pengendalian thrips dan penggunaan teknologi perlindungan tanaman. Syngenta Indonesia menyatakan inovasi tersebut merupakan bagian dari upaya mendorong adopsi teknologi pertanian untuk meningkatkan produktivitas, kualitas hasil panen, dan keberlanjutan usaha petani.









