Ucapkan Selamat ke Gus Kikin-Miftachul Akhyar, Gus Lilur: Ber-NU tanpa ber-PBNU

Ucapkan Selamat ke Gus Kikin-Miftachul Akhyar, Gus Lilur: Ber-NU tanpa ber-PBNU

Nasional | sindonews | Selasa, 1 September 2026 - 09:58
share

Warga Nahdlatul Ulama (NU) dan Kiai Kampung asal Situbondo HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy atau Gus Lilur mengucapkan selamat dan sukses atas terselenggaranya Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur. Dia juga mengucapkan selamat atas terpilihnya KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam PBNU masa khidmah 2026-2031.

“Selamat kepada KH Miftachul Akhyar dan kepada Gus Kikin. Semoga amanah itu membawa maslahat bagi umat. Dan seperti lima tahun yang telah berlalu, untuk lima tahun yang akan datang, saya tetap akan melantangkan satu slogan yang sama: Ber-NU tanpa ber-PBNU,” kata Gus Lilur dikutip Selasa (1/9/2026).

Sebab, kata dia, NU itu bukan kantor. “NU itu cara beragama. Ia hidup di langgar-langgar, di majelis tahlil, di pengajian selepas maghrib, di khidmah para kiai kampung yang tidak pernah masuk daftar hadir muktamar mana pun. Kantor boleh berganti penghuni. Cara beragama tidak boleh berganti pemilik. Salam amar makruf nahi munkar,” tuturnya.

Baca juga: Tim Formatur Diberi Waktu 1 Bulan Susun Kepengurusan Baru PBNU

Dalam catatan yang disampaikannya seusai pelaksanaan muktamar, Khalilur menggunakan akronim “Papi Umba Pakocir” untuk menggambarkan situasi politik yang menurutnya terjadi di arena muktamar. “Panglima pergi umrah tiba-tiba, pasukan kocar-kacir,” tulis Khalilur.

Menurut dia, banyak pihak menilai kelompok yang disebutnya sebagai “paket penguasa” telah memenangkan pertarungan setelah KH Miftachul Akhyar kembali dipercaya sebagai Rais Aam dan Gus Kikin terpilih sebagai Ketua Umum PBNU masa khidmah 2026-2031.

Namun, Khalilur memiliki pandangan berbeda. Dia menilai kemenangan tersebut terjadi bukan karena adanya pertarungan terbuka. “Mereka tidak menang. Mereka menang karena tidak ada pertarungan,” tegasnya.

Dia mengungkapkan, sebelum muktamar digelar, dirinya telah menyuarakan pentingnya NU merdeka dalam menentukan kepemimpinan organisasi. Gagasan tersebut disampaikan melalui sejumlah forum, termasuk podcast atau siniar.

Menurut dia, gagasan mengenai suksesi tanpa intervensi penguasa mendapat respons luas dari warga NU. Dia mengatakan, semangat tersebut semakin terasa ketika Muktamar ke-35 mulai dibuka pada 27 Agustus. Dia menyebut banyak warga NU berharap kepemimpinan baru dapat mengakhiri pertikaian dan berbagai manuver yang terjadi selama periode sebelumnya. “NU ingin tenteram: tanpa pertikaian, tanpa intrik, tanpa manuver, tanpa saling buka borok sendiri,” katanya.

Namun, menurut Khalilur, situasi kemudian berubah ketika memasuki momentum penting dalam proses pemilihan.

Dalam catatannya, dia juga membandingkan dinamika Muktamar ke-35 dengan Muktamar Ke-34 NU di Lampung. Dia menyinggung posisi Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar atau Gus Muhaimin dalam kontestasi tersebut.

Menurutnya, pada Muktamar ke-34, sikap abstain PKB disebut berkontribusi terhadap kegagalan Said Aqil Siradj menjadi Rais Aam. Sementara pada Muktamar ke-35 di Tambakberas, dia menyebut Gus Muhaimin bersama kekuatan PKB sempat bergerak untuk mendukung Said Aqil.

Dia menyebut Said Aqil masuk sembilan besar dalam pemilihan anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) dengan perolehan 273 suara. Posisi tersebut membuat Said Aqil menjadi salah satu dari sembilan kiai yang memiliki kewenangan menentukan Rais Aam.Namun, dia menyoroti keputusan Gus Muhaimin yang disebut meninggalkan arena muktamar pada malam yang dinilai menentukan karena melakukan perjalanan umrah. “Umrah tentu mulia. Tidak ada satu pun warga NU yang pantas mencelanya,” ujarnya.

Meski demikian, dia mempertanyakan alasan kepergian tersebut dilakukan pada momentum yang menurutnya sangat menentukan. “Saya hanya warga NU, kiai kampung, yang ingin NU merdeka memilih pemimpinnya tanpa intervensi,” ujarnya.

Dia kemudian menyimpulkan bahwa dinamika yang terjadi membuat Said Aqil kembali gagal menjadi Rais Aam.

Soroti Perubahan Mekanisme Pemilihan Ketua UmumSelain absennya Gus Muhaimin, Khalilur juga menyoroti perubahan mekanisme pemilihan Ketua Umum PBNU dalam forum Muktamar Ke-35. Dia menyebut Sidang Pleno III memutuskan Ketua Umum PBNU tidak lagi dipilih secara langsung oleh muktamirin.

Mekanisme tersebut kemudian diubah sehingga Ketua Umum ditetapkan melalui AHWA dari lima nama hasil penjaringan. Menurut catatan Khalilur, keputusan tersebut disetujui 401 dari 552 pemilik suara, sementara 150 suara menolak dan satu suara dinyatakan tidak sah.

Khalilur menilai perubahan aturan menjelang kontestasi berpotensi menimbulkan pertanyaan di kalangan peserta. “Saya sudah memperingatkan hal ini jauh-jauh hari, dalam buku dan dalam setiap forum yang mau menerima saya bicara: mengubah aturan main di ambang kontestasi, apa pun niatnya, selalu membuka syak wasangka,” katanya.

Atas rangkaian dinamika tersebut, Khalilur menyampaikan penilaiannya mengenai hasil muktamar. “Mereka bukan menang. Tapi dimenangkan,” ujarnya.

Topik Menarik