MADN Terbitkan Imbauan Penanggulangan Kekeringan dan Pencegahan Karhutla

MADN Terbitkan Imbauan Penanggulangan Kekeringan dan Pencegahan Karhutla

Nasional | sindonews | Selasa, 1 September 2026 - 05:55
share

Juru bicara Angkatan Bersenjata Iran Brigadir Jenderal Abolfazl Shekarchi mengatakan setidaknya seribu tentara Israel tewas dalam serangan balasan Republik Islam tersebut yang menyasar instalasi militer, lokasi strategis, dan pusat intelijen di seluruh wilayah pendudukan.

Brigadir Jenderal Abolfazl Shekarchi menyatakan pada hari Senin bahwa ribuan personel militer Israel lainnya juga terluka selama perang agresi gabungan AS-Israel terhadap Iran, yang dimulai pada akhir Februari.

Bukti menunjukkan bahwa Amerika Serikat juga kehilangan ratusan personel militer, sementara ribuan pasukannya terluka selama gelombang serangan pesawat nirawak (drone) dan rudal Iran baru-baru ini terhadap pangkalan AS di kawasan tersebut pada bulan Juli, tambahnya.

Brigadir Jenderal Shekarchi mengecam Washington dan Tel Aviv atas ketidakjujuran mereka terkait korban jiwa militer dan karena menyembunyikan statistik yang sebenarnya.

Ia mencatat bahwa AS baru mengungkapkan kematian pasukannya dalam perang Afghanistan dan Irak bertahun-tahun setelah peristiwa itu terjadi, dan baru kemudian memulangkan jenazah mereka kepada keluarga masing-masing.

Juru bicara senior tersebut menggambarkan militer AS sebagai "pasukan ala Hollywood dan propaganda" yang dibangun untuk mengeksploitasi sumber daya negara-negara Muslim.

Melansir Press TV, Angkatan Darat Iran menyatakan telah menargetkan helikopter dan personel militer AS yang ditempatkan di Pangkalan Udara al-Minhad di UEA dengan puluhan drone kamikaze sebagai balasan atas serangan mematikan AS di Pulau Larak di Selat Hormuz.

Ia menyatakan bahwa pencapaian paling signifikan Iran adalah mengungkap "citra semu ala Hollywood" dari militer Amerika dan rezim Tel Aviv, sehingga memungkinkan masyarakat internasional untuk menyaksikan kerentanan mereka.

Pejabat senior militer Iran tersebut mengatakan bahwa negara-negara di seluruh dunia, termasuk beberapa negara yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS, telah kehilangan kepercayaan terhadap Washington dan menyadari bahwa AS—yang bahkan tidak mampu membela dirinya sendiri—tidak akan mampu melindungi sekutu-sekutunya. Ia kemudian menunjuk ke arah Selat Hormuz, seraya mengatakan bahwa Presiden AS Donald Trump, beserta para pendukung dan sekutunya, kini dipandang sebagai perwujudan dari "kejahatan dan keburukan." Ia juga melontarkan peringatan keras terhadap segala upaya untuk menguasai jalur perairan vital tersebut.

"Tanggapan kami terhadap presiden AS dan para pemimpin [Amerika] lainnya adalah bahwa mereka hanya bisa berfantasi menganggap Selat Hormuz sebagai bagian dari wilayah mereka," ujarnya.

Juru bicara tersebut menegaskan bahwa klaim Trump mengenai Selat Hormuz adalah hal yang konyol serta didasarkan pada ilusi dan angan-angan belaka. "Klaim-klaim ini mungkin dilontarkan untuk melancarkan perang psikologis terhadap masyarakat kami."

Jenderal Shekarchi menegaskan bahwa Iran tidak akan membiarkan pasukan Amerika tetap berada di Asia Barat, dan bertekad kuat untuk mengusir mereka dari kawasan tersebut.

Ia juga bersumpah bahwa Iran akan membalas dendam atas pembunuhan mendiang Pemimpin Revolusi Islam, Ayatollah Seyed Ali Khamenei; para siswa sekolah dasar yang tewas dalam serangan AS terhadap Sekolah Shajareh Tayyebeh di kota Minab (wilayah selatan); para syuhada di kota Lar (wilayah selatan); serta seluruh warga Iran tak berdosa yang tewas akibat serangan gabungan AS-Israel.

"Hal ini mungkin memakan waktu—cepat atau lambat—namun pasti akan dilaksanakan," kata Brigadir Jenderal Shekarchi.

Ia juga menyatakan bahwa pihak musuh, melalui berbagai cara, berupaya mencapai tujuan yang gagal mereka raih lewat konfrontasi militer langsung dengan Angkatan Bersenjata Iran.

Topik Menarik