6 Bulan Perang AS-Iran, Beban Impor BBM Global Bengkak Rp5.859 Triliun

6 Bulan Perang AS-Iran, Beban Impor BBM Global Bengkak Rp5.859 Triliun

Ekonomi | sindonews | Minggu, 30 Agustus 2026 - 21:00
share

Konflik yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran selama enam bulan terakhir diperkirakan telah menambah beban tagihan impor bahan bakar minyak (BBM) global sebesar USD330 miliar atau sekitar Rp5.859 triliun. Meski demikian, perekonomian dunia sejauh ini terhindar dari keruntuhan besar, yang sebelumnya dikhawatirkan membebani konsumen dan negara-negara berkembang.

"Sejumlah kapal tanker minyak yang berlabuh di Selat Hormuz dapat berarti berkurangnya satu kali makan dalam sehari bagi seorang anak di Sudan," ujar Pelaksana Tugas Direktur Eksekutif Program Pangan Dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa (WFP) Carl Skau dalam kesaksiannya pekan ini dikutip dari Yahoo Finance, Minggu (30/8/2026).

Baca Juga:AS Kendalikan Cadangan Minyak Venezuela 65 Miliar Barel Senilai Rp1.775 Triliun

Konflik yang bermula dari serangan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026 telah meningkatkan tekanan terhadap pasar energi global. Beban tersebut terutama dirasakan negara-negara yang bergantung pada impor bahan bakar, sementara investor dan sebagian pelaku pasar masih mampu memperoleh keuntungan dari volatilitas harga komoditas energi.

International Air Transport Association (IATA) memperkirakan harga bahan bakar pesawat rata-rata 70 lebih mahal dibandingkan 2025. Kenaikan biaya tersebut mendorong sejumlah maskapai memangkas rute dan menaikkan tarif penerbangan, sehingga tekanan harga energi turut merembet ke sektor transportasi dan konsumen.

Tekanan juga terjadi pada harga pupuk akibat gangguan ekspor dari kawasan Teluk. Berdasarkan indeks harga Bank Dunia, harga pupuk sempat mencapai 44 di atas level sebelum perang pada April, sementara WFP memperingatkan puluhan juta orang berpotensi terdorong ke kondisi kelaparan.Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan hingga seperlima kapasitas pengolahan minyak di Timur Tengah terdampak akibat konflik. Gangguan tersebut berpotensi bertahan lebih lama daripada konflik karena pemulihan fasilitas energi membutuhkan waktu dan investasi yang besar.

Baca Juga:Takut Dihabisi Iran, Shin Bet Evakuasi Putra PM Israel Benjamin Netanyahu

Di sisi lain, krisis energi turut mempercepat transisi menuju energi bersih. Penjualan kendaraan listrik mencatat pertumbuhan tinggi di sejumlah negara, termasuk 300 secara tahunan di Kolombia dan 180 di Selandia Baru, sementara 26 negara mengumumkan kebijakan baru untuk mempercepat pengembangan energi bersih sebagai respons terhadap krisis. "Krisis ini memaksa investasi bergerak lebih cepat dibandingkan yang dapat dilakukan oleh kerangka kebijakan mana pun," kata pakar rantai pasok Sphera Scott Lehmann.

Berdasarkan Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA), energi angin dan surya menghemat biaya impor energi negara-negara pengimpor hingga USD36 miliar selama enam bulan terakhir. Namun, ketidakpastian mengenai masa depan Selat Hormuz dan meningkatnya kebutuhan penimbunan energi menjelang musim dingin masih berpotensi mendorong tagihan energi global lebih tinggi.

Topik Menarik