Sanksi Ekonomi AS Tidak Akan Meruntuhkan Pemerintahan Mojtaba, Ini 5 Alasannya
Menteri Keuangan AS Scott Bessent akan mengumumkan sanksi baru terhadap Iran pada hari Senin, yang ia gambarkan sebagai "serangan finansial terbesar yang pernah dikerahkan terhadap pihak lawan."
Langkah ini merupakan bagian dari perubahan strategi untuk meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Republik Islam tersebut, dengan harapan dapat memecahkan kebuntuan antara kedua negara.
Sanksi Ekonomi AS Tidak Akan Meruntuhkan Pemerintahan Mojtaba, Ini 5 Alasannya
1. Hanya Bersifat Sanksi Sekunder
Paket sanksi baru terhadap Teheran dirancang untuk berdampak jauh melampaui wilayah Iran itu sendiri, menurut Michael Mulroy, mantan Wakil Asisten Menteri Pertahanan AS. "Ini disebut sebagai sanksi sekunder," ujarnya kepada Al Jazeera."Sanksi akan diberlakukan terhadap semua negara, institusi, dan entitas yang berurusan dengan Iran serta memiliki hubungan dagang dengannya. Kita berbicara tentang Tiongkok dan negara-negara lain, serta lembaga keuangan yang memproses transaksi keuangan Iran."
Jaksa ICC Karim Khan Dicopot dari Jabatannya atas Tuduhan Pelecehan Seksual Bermotif Politik
2. Tidak Akan Memutus Dana ke IRGC
Mulroy mengatakan Washington juga mengambil langkah terhadap infrastruktur yang digunakan Iran untuk menghindari pembatasan: "Amerika Serikat juga menargetkan armada bayangan yang digunakan untuk menyelundupkan minyak Iran dan menghindari sanksi."Namun, ia menyebut ada batasan pada strategi ini: "Langkah-langkah ini tidak akan menjatuhkan rezim, tetapi akan sangat merugikan rezim tersebut dan Garda Revolusi, serta memutus aliran dana bagi entitas itu."Mulroy mengaitkan upaya penerapan sanksi ini dengan dinamika politik domestik di Washington. "Saya yakin opsi ini dipilih sebagai alternatif dari eskalasi militer menjelang pemilihan paruh waktu AS, mengingat perang semacam itu tidak terlalu populer di kalangan rakyat atau opini publik AS," katanya. Ia menambahkan bahwa ketegangan ini "bisa beralih ke tingkat militer jika Iran menyerang sekutu regional atau target-target AS."
3. China dan Rusia Tetap Mendukung Iran
Upaya Washington untuk menggalang dukungan sekutu guna melawan Iran akan sulit mendapat sambutan positif dari negara-negara yang paling berpengaruh, menurut Mohsen Farkhani, seorang peneliti spesialis hubungan internasional.Trump Ungkap Iran Sedang Bernegosiasi dengan AS, Peringatkan Teheran Tak Boleh Punya Senjata Nuklir
"China dan Rusia tidak akan berpartisipasi dalam sanksi ini, mengingat hubungan mereka dengan Amerika Serikat yang sudah tegang," ujarnya kepada Al Jazeera dari Teheran. "Iran adalah mitra ekonomi penting bagi China karena besarnya volume ekspor minyak ke China."
Farkhani berpendapat bahwa Teheran tetap memiliki daya tawar yang signifikan atas jalur perdagangan global terlepas dari adanya upaya penerapan sanksi tersebut. "Saya yakin Iran memiliki daya tawar di Selat Hormuz dan juga di Bab al-Mandeb," katanya.
Peneliti tersebut mengatakan bahwa masalah yang lebih mendasar bagi Washington adalah krisis kepercayaan di tingkat kawasan terhadap jaminan keamanan AS. "Semua negara tetangga melihat bahwa Amerika Serikat tidak mampu—dan tidak lagi kredibel—untuk memberikan payung pertahanan bagi negara-negara tersebut dalam situasi saat ini," ujar Farkhani. “Akibatnya, banyak negara telah kehilangan kepercayaan terhadap Amerika Serikat.”
Iran Desak Warga di Negara-negara Teluk Jaga Jarak 500 Meter dari Akomodasi Rahasia Pasukan AS
Menurutnya, terkikisnya kepercayaan tersebut akan secara langsung melemahkan kampanye sanksi: “Penerapan sanksi-sanksi ini tidak akan efektif, karena negara-negara tersebut tidak akan bergabung dengan Amerika Serikat; dengan demikian, sanksi tersebut akan tetap bersifat sepihak.”
4. Negara Lain Selain Iran yang Akan Dijatuhi Sanksi Belum Jelas
Hingga saat ini, Departemen Keuangan AS belum secara resmi mengumumkan perincian sanksi tersebut atau apa saja cakupannya.Namun, Menteri Keuangan telah mengancam bahwa negara mana pun yang menjalin hubungan dengan Iran juga akan menghadapi isolasi ekonomi. Pekan lalu, ia menyatakan bahwa sekutu dan pihak-pihak yang berurusan dengan Iran harus memilih: berpihak pada Amerika Serikat atau menentangnya. Hal ini mencerminkan besarnya ketergantungan AS terhadap pihak-pihak yang berhubungan dengan Iran demi keberhasilan paket sanksi baru yang diperkirakan akan segera diberlakukan.Pernyataan Menteri Keuangan ini muncul di saat para pejabat lain mengonfirmasi bahwa Komando Pusat (Central Command) sedang berupaya menegakkan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran secara ketat.
Hal yang mencolok dari pernyataan tersebut adalah ungkapan Menteri Keuangan bahwa rezim Iran sedang menuju keruntuhan. Dengan demikian, ia menegaskan bahwa salah satu tujuan dari tekanan ekonomi maksimum terhadap Iran adalah untuk menjatuhkan rezim tersebut.
Ia mungkin termasuk dalam segelintir orang di lingkaran Presiden Trump yang menekankan bahwa tujuan dari tekanan ekonomi ini bukan sekadar mengubah sikap Iran, melainkan juga mengubah rezim di Iran.
Pada awal konflik ini, pemerintah AS sempat menyatakan bahwa pergantian rezim bukanlah salah satu tujuan utama dari upaya tersebut.
5. Sanksi Ekonomi dengan Tindakan Perang
Menurut Mohsen Farkhani, seorang peneliti hubungan internasional yang berbasis di Teheran, Teheran memandang sanksi dan langkah-langkah blokade Washington sebagai tindakan perang, bukan sekadar tekanan ekonomi.“Sanksi-sanksi ini pada dasarnya adalah perang, dan blokade yang diberlakukan terhadap Iran juga merupakan bagian dari perang tersebut,” ujarnya kepada Al Jazeera. “Oleh karena itu, baik blokade maupun sanksi merupakan bentuk peperangan dan menuntut adanya respons dari Iran.” "China, Turki, dan negara-negara lain tidak akan memutus hubungan mereka dengan Iran," terlepas dari apakah Teheran akan menganggap negara-negara seperti UEA, Turki, Irak, Pakistan, atau China sebagai pihak lawan jika mereka membatasi perdagangan akibat tekanan AS, ujar Farkhani.Ia menambahkan bahwa langkah UEA untuk memangkas perdagangan dengan Iran diambil "semata-mata karena tekanan AS. Selebihnya, kami telah bertetangga sejak dahulu kala, dan menurut saya tidak mungkin untuk putuskan hubungan sepenuhnya dengan Iran karena ada ikatan yang dalam."
Teheran sejauh ini telah menunjukkan sikap menahan diri, katanya. "Iran secara konsisten berhati-hati dalam mengambil posisi dan memastikan bahwa posisi tersebut sejalan dengan resolusi internasional."




