Hindari Selat Hormuz, Saudi Aramco Jual 4 Juta Barel Minyak ke China via Fujairah
Saudi Aramco menjual sedikitnya 4 juta barel minyak mentah kepada dua perusahaan pengolahan minyak China melalui pengiriman di luar Selat Hormuz, sebagai upaya mempertahankan pangsa pasar Asia di tengah gangguan jalur pelayaran di kawasan Teluk. Penjualan tersebut dilakukan melalui transfer antarkapal di lepas pantai Fujairah, Uni Emirat Arab (UEA), sehingga kapal tanker pembeli tidak perlu melewati Selat Hormuz.
Transaksi tersebut melibatkan minyak mentah jenis Arab Medium dan Arab Heavy, menurut sumber perdagangan yang dikutip dari Reuters, Sabtu (22/8). Langkah tersebut menunjukkan peningkatan upaya Saudi Aramco dalam memastikan pasokan minyak ke konsumen Asia tanpa bergantung sepenuhnya pada jalur Selat Hormuz yang masih menghadapi risiko keamanan.
Baca Juga:China Kuasai 1,25 Juta Barel Minyak Rusia, India Terancam Krisis Energi
Strategi pengiriman melalui Fujairah tersebut sejalan dengan langkah Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) yang sebelumnya telah menjual lebih dari 100 juta barel minyak melalui tender dengan memanfaatkan terminal di luar Selat Hormuz. Saudi Aramco juga mengalihkan sebagian minyak Arab Light melalui Pelabuhan Yanbu di Laut Merah serta menawarkan kargo dari Pelabuhan Sidi Kerir di Laut Mediterania, Mesir.
Data pelacak kapal Kpler menunjukkan sekitar 670.000 barel minyak mentah Timur Tengah dijadwalkan dimuat dari Sidi Kerir untuk dikirim ke Asia pada Agustus. Volume tersebut meningkat dari tidak adanya pengiriman melalui rute tersebut selama tiga bulan sebelumnya, meski minat pembeli Asia masih terbatas.Analis China Vortexa Emma Li mengatakan konsumen China kurang tertarik terhadap rute Sidi Kerir karena perjalanan yang lebih panjang dan biaya angkut yang tinggi. Kondisi tersebut membuat jalur Fujairah menjadi salah satu alternatif penting bagi Saudi Aramco untuk menjaga kelancaran ekspor ke pasar Asia.
Di sisi lain, Saudi Aramco mulai kembali melakukan pemuatan minyak mentah dari terminal di dalam kawasan Selat Hormuz. Data Kpler dan Vortexa menunjukkan tiga kapal tanker minyak mentah berukuran sangat besar (VLCC) masing-masing memuat sekitar 2 juta barel dari terminal Juaymah dan Ras Tanura pada 12-16 Agustus, mengakhiri jeda pemuatan selama sekitar tiga pekan.
Sebanyak enam VLCC lainnya berpotensi memuat minyak Saudi dari kawasan Selat Hormuz hingga akhir Agustus. Namun, aktivitas pelayaran di selat tersebut masih jauh di bawah kondisi normal akibat risiko keamanan yang meningkat sejak Iran menutup jalur strategis tersebut pada Juli.Data pelayaran menunjukkan hanya enam kapal pengangkut komoditas yang melewati Selat Hormuz pada Selasa, dibandingkan rata-rata 11 kapal dalam 10 hari sebelumnya. Sebelum konflik, sekitar 20 konsumsi minyak dunia atau sekitar 20 juta barel per hari melewati selat tersebut, sehingga gangguan berkepanjangan berpotensi mengganggu pasokan energi global.
Mantan Duta Besar Amerika Serikat untuk Bahrain dan profesor di George Washington University Gordon Gray menilai jalur alternatif belum mampu sepenuhnya menggantikan volume minyak yang biasanya melewati Selat Hormuz. Menurut dia, jalur alternatif hanya dapat mengompensasi sekitar setengah dari estimasi 20 juta barel minyak yang sebelumnya melintasi selat tersebut setiap hari.
Baca Juga:China Tak akan Tunduk pada Tekanan AS untuk Berhenti Beli Minyak IranGangguan jalur pelayaran juga memberikan tekanan terhadap harga minyak dunia. Harga minyak mentah Brent ditutup pada 91,62 dolar AS per barel pada Rabu, level tertinggi dalam empat pekan, karena risiko geopolitik terus memberikan tekanan terhadap pasar.
CEO Saudi Aramco Amin H. Nasser mengatakan perusahaan terus menjaga keberlangsungan bisnis melalui jaringan pipa dan terminal ekspor yang terdiversifikasi. Namun, pengalihan rute pengiriman menimbulkan biaya tambahan bagi perusahaan dan pembeli akibat waktu pelayaran serta biaya angkut yang lebih tinggi.
Idemitsu Kosan Jepang memperkirakan pengiriman minyak Saudi melalui rute alternatif dapat memerlukan waktu 50-60 hari, dibandingkan sekitar 20 hari dalam kondisi normal. Sementara itu, arus kas bebas Saudi Aramco pada kuartal II 2026 sebesar USD12,3 miliar hanya mencakup sekitar 56 dari dividen dasar senilai USD21,9 miliar, dengan peningkatan modal kerja sebesar USD13,6 miliar antara lain dipengaruhi oleh waktu pengiriman yang lebih panjang.








