Geopolitik Global Memanas, Simak Prediksi Rupiah Pekan Depan
Nilai tukar rupiah diproyeksikan menghadapi tekanan pada perdagangan pekan depan karena indeks dolar Amerika Serikat (AS) berpotensi bergerak fluktuatif di tengah ketidakpastian geopolitik global. Rupiah diproyeksikan berada di kisaran Rp17.820 hingga Rp17.880 per dolar AS, terutama saat pembukaan pasar pada Senin.
"Indeks dolar dalam perdagangan pekan depan kemungkinan besar cukup fluktuatif, dengan level support 99,00 dan resistance 101,90, bahkan berpotensi menyentuh resistance 102,00," kata Analis Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi dalam risetnya, Minggu (16/8/2026).
Baca Juga:Utang Pemerintah Rp10.293 Triliun Mayoritas dari SBN, Apa Risikonya bagi APBN?
Menurut Ibrahim, pergerakan indeks dolar AS akan menjadi salah satu faktor eksternal yang memengaruhi nilai tukar mata uang Garuda. Meskipun rupiah sempat menguat 50 poin pada penutupan perdagangan akhir pekan setelah pasar merespons positif pidato Nota Keuangan RAPBN 2027 oleh Presiden Prabowo Subianto, sentimen tersebut belum cukup untuk menghilangkan tekanan dari pasar global.
Percepat Terbentuknya Ekosistem Pasar Karbon Nasional yang Kredibel, Transparan, dan Berdaya Saing
"Untuk rupiah sendiri, walaupun kemarin menguat karena pidato presiden tentang APBN 2027 cukup bagus, ada kemungkinan rupiah dibuka melemah karena faktor eksternal. Rentangnya di Rp17.820 sampai Rp17.880 per dolar AS," ujar Ibrahim.
Ia mengatakan pasar pada awal pekan akan mencermati perkembangan geopolitik, khususnya ketegangan di Timur Tengah, hubungan AS-Iran, konflik Laut Merah, serangan terhadap kilang minyak di Nigeria, serta perang Rusia-Ukraina. Berbagai risiko tersebut berpotensi meningkatkan permintaan terhadap dolar AS sebagai aset aman dan mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia.Selain geopolitik, pasar juga akan mempertimbangkan arah kebijakan bank sentral AS atau The Fed. Ibrahim memperkirakan mayoritas anggota The Fed masih akan mempertahankan suku bunga acuan pada pertemuan bulan ini, meskipun data inflasi dan penjualan ritel AS menunjukkan perkembangan yang membaik.Baca Juga:Rupiah Panggul Beban Berat, Hari Ini Jatuh ke Rp17.877 per Dolar AS
Ibrahim juga menyoroti asumsi nilai tukar rupiah dalam RAPBN 2027 yang ditetapkan sebesar Rp17.500 per dolar AS. Menurut dia, asumsi tersebut menghadapi tantangan apabila tekanan eksternal dan ketegangan geopolitik terus berlanjut.
"Saya melihat ada kemungkinan pada 2027 rupiah berada di atas Rp18.000. Jika rupiah terus berada di atas asumsi Rp17.500, defisit anggaran berpotensi lebih besar dari target," katanya.
Ia menambahkan, asumsi harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) sebesar USD75 dolar per barel juga perlu diwaspadai. Konflik yang berlangsung di kawasan strategis pemasok energi berpotensi menahan harga minyak dunia di atas USD80 per barel, sehingga dapat meningkatkan tekanan terhadap subsidi energi dan pelaksanaan anggaran negara.









