Digitalisasi Pendataan Perkuat Konservasi Penyu Nagaraja di Pantai Sodong Cilacap
Pelestarian penyu di kawasan pesisir selatan Cilacap, Jawa Tengah terus diperkuat melalui pemanfaatan teknologi digital. Salah satunya dilakukan melalui kelompok konservasi penyu Nagaraja di Pantai Sodong, Desa Karangbenda, Kecamatan Adipala.
Mereka menjadi mitra dalam Program Pengabdian kepada Masyarakat yang mengembangkan sistem pendataan digital dan monitoring habitat penyu berbasis komunitas bertajuk Penguatan Konservasi Penyu melalui Sistem Pendataan Digital dan Monitoring Habitat Berbasis Komunitas di Konservasi Penyu Nagaraja, Pantai Sodong, Kabupaten Cilacap.
Baca juga: Ratusan Penyu Berbondong-bondong Naik ke Pantai
Kegiatan ini dilaksanakan dengan melibatkan tim dosen dan mahasiswa dari Universitas Telkom serta Universitas Diponegoro bersama pengelola Konservasi Penyu Nagaraja. Pelaksanaannya berlangung dari bulan April sampai dengan 12 Agustus 2026.
"Sistem pendataan digital ini sangat membantu kami dalam memantau penyu secara lebih akurat, sehingga pelaporan kegiatan menjadi jauh lebih mudah," kata Ketua Kelompok Konservasi Penyu Nagaraja, Jumawan dalam keteranganya, Jumat (14/8/2026).Program ini berangkat dari persoalan pengelolaan data konservasi yang selama ini masih banyak dilakukan secara manual. Pencatatan lokasi peneluran, jumlah telur, hasil penetasan, hingga pelepasan tukik belum seluruhnya terintegrasi dalam sistem digital. Kondisi tersebut membuat data konservasi lebih sulit ditelusuri, dibandingkan dari waktu ke waktu, maupun dimanfaatkan sebagai dasar evaluasi kegiatan.
Baca juga: Viral! Momen Warga Pulau Derawan Beri Makan Penyu Langsung di Belakang Rumah, Netizen Iri
Melalui program ini, proses konservasi diperkuat dengan penerapan sistem pendataan digital berbasis GPS yang memungkinkan pengelola mencatat data konservasi sekaligus informasi lokasi secara lebih terstruktur. Data yang dikumpulkan kemudian dapat ditampilkan melalui dashboard monitoring sehingga perkembangan kegiatan konservasi dapat dipantau dan digunakan sebagai bahan evaluasi serta edukasi kepada masyarakat.
Sistem tersebut dirancang untuk mendukung pencatatan berbagai informasi penting, antara lain titik lokasi peneluran, jumlah telur yang ditemukan, jumlah telur yang berhasil menetas, jumlah tukik yang dilepas, serta informasi pendukung mengenai kondisi habitat penyu. Pendataan berbasis koordinat juga diharapkan dapat membantu pengelola mengenali pola lokasi peneluran dan menjaga kawasan yang memiliki nilai penting bagi keberlangsungan habitat penyu.
Penguatan konservasi tidak hanya dilakukan melalui penyediaan teknologi. Program juga menempatkan anggota Kelompok Konservasi Penyu Nagaraja sebagai pengguna utama sistem. Karena itu, rangkaian kegiatan mencakup pemetaan kebutuhan bersama mitra, penerapan teknologi, pelatihan penggunaan sistem, pendampingan pengelolaan data, evaluasi pemanfaatan sistem, hingga penyusunan rencana keberlanjutan.
Pendekatan tersebut diharapkan membuat teknologi yang diterapkan tidak berhenti sebagai produk aplikasi, tetapi benar-benar menjadi bagian dari aktivitas konservasi sehari-hari. Pengelola dapat menggunakan data yang terkumpul untuk mendukung pencatatan kegiatan, penyusunan laporan, evaluasi keberhasilan penetasan, serta penyampaian informasi konservasi kepada masyarakat dan pengunjung. Tim pelaksana diketuai oleh Ariq Cahya Wardhana dari Program Studi Rekayasa Perangkat Lunak Universitas Telkom, melibatkan Rifki Adhitama dari Universitas Telkom dan Aninditia Sabdaningsih dari Universitas Diponegoro. Kolaborasi bidang rekayasa perangkat lunak dan pengelolaan sumber daya perairan tersebut dilakukan agar penerapan teknologi digital tetap memperhatikan kebutuhan pengguna sekaligus prinsip ilmiah konservasi penyu.
Mahasiswa turut dilibatkan dalam berbagai tahapan kegiatan, mulai dari pengumpulan kebutuhan pengguna, perancangan antarmuka, pengembangan modul pendataan, pengolahan dan visualisasi data, hingga dokumentasi kegiatan. Keterlibatan mahasiswa sekaligus menjadi sarana pembelajaran langsung mengenai bagaimana teknologi digital dapat diterapkan untuk menyelesaikan persoalan nyata di masyarakat.
Program menargetkan adanya perubahan pada pengelolaan data konservasi. Sistem yang sebelumnya mengandalkan pencatatan manual diarahkan menjadi pendataan digital yang terstandar dan dapat digunakan secara aktif oleh mitra. Program juga menargetkan sedikitnya 80 persen data konservasi dapat terdigitalisasi, disertai pencatatan titik lokasi peneluran berbasis koordinat dan tersedianya dashboard informasi konservasi.Pada aspek manajemen, program diarahkan untuk meningkatkan kemampuan mitra dalam mengelola, menganalisis, dan memanfaatkan data sebagai dasar perencanaan maupun evaluasi kegiatan. Selain sistem digital, penguatan tersebut juga didukung melalui penyusunan alur kerja dan standar operasional prosedur pendataan serta pelaporan konservasi.
Sementara itu, pada aspek pelayanan kepada masyarakat, ketersediaan data yang lebih terstruktur diharapkan membuat informasi mengenai aktivitas konservasi dapat disampaikan secara lebih mudah dan berbasis data. Dashboard yang dikembangkan juga dapat dimanfaatkan sebagai media edukasi untuk memperkenalkan proses konservasi penyu, mulai dari penemuan telur hingga pelepasan tukik ke laut.
Program ini sekaligus mendukung upaya menjaga ekosistem pesisir dan keanekaragaman hayati laut. Pendataan yang konsisten menjadi penting karena konservasi tidak hanya membutuhkan aktivitas penyelamatan telur atau pelepasan tukik, tetapi juga dokumentasi jangka panjang yang dapat membantu memahami perubahan habitat dan efektivitas kegiatan konservasi.
Kolaborasi antara perguruan tinggi dan kelompok masyarakat diharapkan menghasilkan model konservasi berbasis komunitas yang lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi. Masyarakat tetap menjadi aktor utama konservasi, sementara teknologi digunakan sebagai alat untuk memperkuat kemampuan mereka dalam mendokumentasikan, memantau, dan mengelola informasi lingkungan secara berkelanjutan.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat tahun pendanaan 2026 dengan dukungan Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Melalui sinergi antara masyarakat, perguruan tinggi, dan pemanfaatan teknologi digital, program ini diharapkan dapat membantu Konservasi Penyu Nagaraja membangun pengelolaan data yang lebih baik sekaligus memperkuat keberlanjutan konservasi penyu di Pantai Sodong.










