Bicara Masa Depan Pelajar Indonesia di Sidang Tahunan 2026, Prabowo: Mereka Berhak ke Sekolah dengan Aman

Bicara Masa Depan Pelajar Indonesia di Sidang Tahunan 2026, Prabowo: Mereka Berhak ke Sekolah dengan Aman

Nasional | sindonews | Jum'at, 14 Agustus 2026 - 14:59
share

Presiden Prabowo Subianto berbicara mengenai masa depan pelajar Indonesia pada pidato kenegaraan Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR-DPD RI Tahun 2026 di Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat (14/8/2026). Siswa berhak ke sekolah dengan aman, tentunya dengan infrastruktur yang memadai.

Prabowo menuturkan pernah anda membayangkan setiap pagi siswa yang tinggal di pelosok harus melewati sungai hanya untuk bisa sampai ke sekolah. Buat sebagian anak Indonesia, berangkat sekolah bukan sekadar bangun pagi, memakai seragam, lalu berjalan menuju kelas.

Baca juga: Mensesneg: Bakal Ada Kejutan dalam Pidato Kenegaraan Presiden Prabowo di Sidang Tahunan 2026

“Ada yang harus melewati jembatan rusak. Ada yang harus berpegangan tali. Ada yang harus menyeberangi sungai dengan risiko hanyut hanya untuk bisa mengikuti pelajaran. Padahal, mereka punya tujuan yang sama seperti anak-anak lainnya yakni ingin belajar dan punya masa depan,” ujar Prabowo.

Menurut dia, cerita tentang pembangunan jembatan desa sebenarnya bukan hanya cerita tentang infrastruktur. Pemerintah dengan keterlibatan TNI dan Polri telah membangun sekitar 3.300 jembatan desa, dengan target mencapai 5.000 jembatan.Kalau hanya melihat angkanya, kita mungkin melihat ribuan jembatan. Tapi, kalau melihat dari sisi anak-anak yang setiap hari menggunakannya, kita melihat sesuatu yang berbeda.

“Bagi seorang anak di desa, sebuah jembatan bukan sekadar penghubung dari satu sisi sungai ke sisi lainnya. Jembatan itu adalah jalan menuju sekolah. Dan di balik perjalanan sederhana menuju sekolah, ada cita-cita yang sedang diperjuangkan,” kata Presiden.

Sekolah Rakyat

Menurut Prabowo, pemerintah tengah menjalankan program perbaikan sekolah terbesar dalam sejarah. Tahun lalu perbaikan 16.167 sekolah, tahun ini pemerintah memperbaiki 71.744 sekolah.

“Kita perbaiki sekolah di Miangas, pulau paling utara Indonesia, di Sabang, pulau paling Barat Indonesia, di Merauke, dan di seluruh Indonesia. Kita juga membagikan layar pintar interaktif atau IFP untuk semua sekolah,” ujarnya.

Dengan layar-layar ini kita hadirkan guru-guru terbaik, untuk mengajar sains, matematika, teknologi, dan juga para native speakers, untuk belajar bahasa asing. Anak-anak Indonesia harus menguasai bahasa asing dari kecil.

Kemampuan berbahasa penting agar anak-anak kita punya kemampuan bekerja di mancanegara dan bekerja di Indonesia menghadapi warga negara asing. Pemerintah juga membangun sekolah rakyat. Sekolah berasrama bagi anak dari keluarga paling tidak berdaya, dengan ruang kelas, tempat tinggal, makanan bergizi, komputer, guru, dan lingkungan yang aman. Kita ingin memutuskan lingkaran kemiskinan.

Hari ini, 93 Sekolah Rakyat permanen kita buka. Ditambah Sekolah Rakyat rintisan, total sudah 182 Sekolah Rakyat dibuka. Salah satu siswanya Muhammad Risky Pratama (12), siswa Sekolah Rakyat Menengah Pertama 2 Medan.

Risky pernah mengayuh sepeda puluhan kilometer sambil membawa sekitar 30 kilogram ikan untukdijual. Dia sempat putus sekolah dan belum lancar membaca serta menghitung. Hari ini, Risky kembali ke sekolah. Dia mendapatkan kembali haknya untuk belajar dan menata cita-cita. Tidak ada investasi yang lebih berharga daripada mengembalikan masa depan seorang anak.

Hadir pula Citra Nur Ramadhani dari Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan di Provinsi Sulawesi Selatan. Ketika kelas 4 SD, Citra hampir putus sekolah karena harus membantu ibunya berjualan kacang. Ayahnya telah wafat dan ibunya penyandang disabilitas.

Sekolah Rakyat memberi Citra kesempatan untuk belajar tanpa meninggalkan keluarganya menghadapiperjuangan sendirian. Citra pun kemarin berhasil juara karate tingkat Kabupaten.

Prabowo menuturkan kemarin mendapat kabar 7 siswa Sekolah Rakyat di Makassar berhasil memenangkan Olimpiade Nasional Indonesia ke 15 pada bidang Matematika, Biologi, Bahasa Indonesia, Sejarah, dan Sosiologi.

“Capaian ini membuktikan bahwa pelajar dari keluarga yang paling tidak mampu, jika diberikan kesempatan, diberikan fasilitas, bisa mencapai prestasi nasional bahkan internasional,” katanya.

Topik Menarik