Rudal Iran Bidik Air Force One, Alasan di Balik Trump Ngumpet di Truk Katering
Intelijen Amerika Serikat (AS) dan Turki pada bulan lalu mendeteksi bahwa Iran berencana menembakkan rudal ke arah pesawat kepresidenan Amerika atau Air Force One saat berada di Turki. Informasi kredibel itulah yang memaksa Presiden Donald Trump bersembunyi di truk katering di bandara Ankara dan kemudian beralih ke pesawat militer.
Menurut laporan CBS News, Kamis (13/8/2026), taktik pengelabuan yang rumit itu dilakukan hanya sehari setelah intelijen kedua negara tersebut diterima tim Presiden Trump.
Baca Juga: Diancam Dihabisi Iran, Trump Ngumpet di Truk Katering Bandara saat Kabur dari Turki
Trump Ungkap Iran Sedang Bernegosiasi dengan AS, Peringatkan Teheran Tak Boleh Punya Senjata Nuklir
Keputusan untuk memindahkan Trump dari Air Force One ke pesawat lain diambil saat konferensi tahunan NATO sedang berlangsung di Ankara, menurut dua pejabat penegak hukum dan seorang pejabat AS.
Trump terbang ke ibu kota Turki tersebut menggunakan pesawat Boeing 747 baru hadiah dari pemerintah Qatar, yang kemudian dimodifikasi menjadi Air Force One. Namun, namun sebuah pesawat Air Force One lama berwarna putih-biru—yang telah beroperasi sejak tahun 1990-an—juga berada di lokasi sebagai pesawat pendukung.Menjelang keberangkatan Trump dari KTT NATO tersebut pada 8 Juli, Badan Keamanan Nasional (NSA), Badan Intelijen Pusat (CIA), dan badan intelijen Turki (MIT) menerima berbagai informasi kredibel mengenai rencana Iran untuk menembakkan rudal darat-ke-udara ke arah Air Force One. Hal ini disampaikan oleh dua pejabat AS yang berbicara dengan syarat anonimitas karena mereka tidak berwenang membahas masalah sensitif.Terdapat pula laporan mengenai keberadaan sebuah tim di Turki yang ditugaskan untuk menembakkan rudal darat-ke-udara ke pesawat tersebut, ungkap para pejabat AS tersebut. Namun, setelah penyelidikan lebih lanjut, tidak ada tim yang terdeteksi.
Para pejabat itu mengatakan bahwa seiring perang AS-Iran mendekati bulan keenam, terdapat ancaman berkelanjutan yang signifikan dari Iran untuk membunuh Trump.
Jaksa ICC Karim Khan Dicopot dari Jabatannya atas Tuduhan Pelecehan Seksual Bermotif Politik
Presiden Trump—yang telah menghadapi beberapa upaya pembunuhan dalam beberapa tahun terakhir—mengakui adanya risiko tersebut. Dia menyebut dirinya sebagai "orang nomor satu dalam daftar target pembunuhan Iran" dalam sebuah konferensi pers sesaat sebelum meninggalkan Ankara.
Dewan Keamanan Nasional, Kantor Militer Gedung Putih, dan Secret Service mengambil keputusan untuk mengganti pesawat tersebut, demikian disampaikan oleh dua pejabat penegak hukum dan seorang pejabat AS. Keputusan tersebut dikoordinasikan dengan para pejabat di Washington, D.C.
Sebelum bertolak dari Ankara, Trump menyatakan di Truth Social bahwa dia akan menggunakan pesawat Air Force One yang lama—alih-alih jet baru sumbangan Qatar—demi alasan nostalgia atau demi mengenang masa lalu.Rekaman pers memperlihatkan saat dia tiba di bandara dan menaiki tangga pesawat Air Force One yang lama. Kemudian, beberapa menit berselang, sebuah truk katering bandara terlihat mundur menjauhi pesawat tersebut dan bergerak menuju pesawat jet C-32A yang dioperasikan oleh Angkatan Udara AS.
Iran Desak Warga di Negara-negara Teluk Jaga Jarak 500 Meter dari Akomodasi Rahasia Pasukan AS
Trump berada di dalam truk katering tersebut bersama para staf Gedung Putih—Natalie Harp, Walt Nauta, dan Dan Scavino—seperti yang sebelumnya disampaikan oleh sumber-sumber yang mengetahui masalah ini kepada CBS News. Menteri Perang Pete Hegseth juga bergabung dengan mereka di dalam pesawat C-32A sebelum pesawat itu terbang dari Turki menuju pangkalan militer Inggris.
Pesawat yang secara publik diidentifikasi sebagai Air Force One terbang melalui rute yang sama, membawa Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Menteri Keuangan Scott Bessent, beberapa staf tingkat tinggi Gedung Putih lainnya, serta anggota korps pers. Menurut sumber-sumber tersebut, Rubio dan Bessent mengetahui bahwa pesawat itu tidak membawa presiden, namun para wartawan dan sebagian staf Gedung Putih tidak mengetahuinya.
Saat berada di Inggris, Trump beralih menggunakan pesawat Air Force One yang baru—sumbangan dari Qatar—untuk tahap kedua perjalanannya kembali ke Washington D.C.
Penggunaan pesawat pengalih perhatian (decoy) ini tetap menjadi rahasia hingga awal pekan ini, ketika The Washington Post, CBS News, dan sejumlah media lainnya memberitakan langkah tersebut.Pejabat penegak hukum mengatakan kepada CBS News bahwa pergantian pesawat itu merupakan bagian dari upaya pengalihan perhatian, namun menegaskan bahwa hal tersebut tidak dimaksudkan untuk menempatkan individu tertentu dalam risiko yang lebih besar.
Trump menanggapi keputusan tersebut pada hari Selasa, dengan mengatakan kepada Nancy Cordes dari CBS News: "Militer dan Secret Service ingin saya menggunakan penerbangan yang berbeda karena adanya ancaman."
Ketika ditanya mengapa terbang dengan Air Force One dianggap terlalu berbahaya baginya—namun tidak bagi para wartawan atau stafnya—Trump berkata: "Menurut saya, sebenarnya pesawat yang saya tumpangi justru memiliki risiko lebih besar."
Dia mengatakan kepada para wartawan bahwa dia tidak terkejut ataupun khawatir.
"Saya menghadapi banyak ancaman," ujarnya. "Setiap presiden yang memiliki peran penting pasti menghadapi banyak ancaman."




