5 Alasan Perombakan Petinggi IRGC, Siap Hadapi Perang Besar dan Berlarut
Pemimpin TertinggiIran, Mojtaba Khamenei, menunjuk enam komandan senior di jajaran Staf Umum, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), dan pasukan keamanan dalam negeri Basij. Langkah ini dinilai oleh para analis bertujuan memperkuat struktur keamanan negara—yang sedang dalam situasi perang—dengan sosok-sosok yang berpengalaman luas dalam pertempuran.
Brigadir Jenderal Ahmad Vahidi dikukuhkan pada hari Senin sebagai panglima tertinggi IRGC dengan pangkat mayor jenderal. Ia secara resmi menggantikan Mohammad Pakpour, yang gugur saat AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada akhir Februari. Perwira tinggi militer Iran, Mostafa Izadi, ditunjuk sebagai wakil Vahidi.
Mayor Jenderal Ali Abdollahi ditunjuk sebagai kepala staf Angkatan Bersenjata, dengan Brigadir Jenderal Kioumars Heydari sebagai wakilnya. Laksamana Muda Ali Ozmaei ditunjuk sebagai komandan Angkatan Laut IRGC, dan Hossein Taeb diangkat sebagai kepala Basij, milisi paramiliter keamanan internal yang bertanggung jawab langsung kepada Pemimpin Tertinggi.
5 Alasan Perombakan Petinggi IRGC, Siap Hadapi Perang Besar dan Berlarut
1. Figur Berpengalaman
Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menyatakan dalam sebuah unggahan di saluran Telegramnya bahwa keenam komandan tersebut telah membuktikan pengalaman mereka selama "dua perang yang dipaksakan baru-baru ini". Penunjukan tersebut dilakukan sehari setelah mantan panglima tertinggi IRGC, Mohsen Rezaei, ditetapkan sebagai sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi (SNSC) dan perwakilan Khamenei dalam badan pengambil keputusan tertinggi tersebut, yang memegang peran krusial dalam keamanan dan kebijakan luar negeri negara itu.Ali Vaez, wakil direktur program untuk Timur Tengah dan Afrika Utara di lembaga pemikir International Crisis Group, mengatakan bahwa penunjukan tersebut "bertujuan untuk mengukuhkan otoritas Mojtaba [Khamenei] sekaligus memperbaiki kerentanan yang terungkap akibat dua peperangan."Pemimpin tertinggi Iran "menempatkan para veteran tepercaya di posisi-posisi kunci sembari menata ulang struktur komando demi respons yang lebih cepat dan terpadu terhadap krisis berikutnya," ujar Vaez kepada Al Jazeera.
2. Menampilkan Postur Militer yang Kuat
Khamenei menginstruksikan Vahidi—yang mengambil alih komando IRGC pada bulan Maret dan secara resmi dikukuhkan dalam jabatan tersebut pada hari Senin—untuk memperkuat daya tangkal dan kesiapan bagi "operasi ofensif yang kuat," guna menampilkan postur militer yang lebih tegas.Negosiator utama Mohammad Bagher Ghalibaf mengatakan bahwa Vahidi telah memimpin IRGC selama perang baru-baru ini dan menyatakan bahwa pasukan tersebut harus melanjutkan kiprahnya "dengan berpedoman pada arahan Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei," menurut pernyataan yang dilaporkan oleh media pemerintah.
AS Serang Iran Lagi untuk Ketiga Kalinya
Vaez, dari International Crisis Group, mengatakan bahwa Vahidi memiliki pengalaman mendalam dalam perangkat strategis, intelijen, dan peperangan asimetris IRGC. "Penunjukannya mengisyaratkan bahwa Teheran memprioritaskan kemampuan bertahan dan daya gentar dengan memastikan bahwa jika kelak mereka diserang kembali, mereka dapat membalas dengan lebih cepat, lebih keras, dan lebih terorganisasi," ujarnya.
3. Percaya kepada Orang Lama
Muhanad Seloom, asisten profesor studi keamanan di Doha Institute for Graduate Studies, mengatakan bahwa penunjukan tersebut hampir seluruhnya melibatkan tokoh-tokoh dari generasi pendiri IRGC, sosok yang juga direpresentasikan oleh Vahidi.Sebagai sosok yang telah menjadi bagian dari IRGC sejak masa-masa awal pembentukannya di akhir tahun 1970-an, Vahidi meniti karier dan naik pangkat sepanjang tahun 1980-an dengan memegang posisi-posisi kunci di bidang intelijen dan militer. Media pemerintah Iran melaporkan bahwa ia memimpin Pasukan Quds yang elite dari tahun 1988 hingga 1997. Pasukan Quds merupakan sayap IRGC yang berfokus pada operasi khusus di luar wilayah Iran.
Horor! Jendela Pesawat Terlepas di Tengah Penerbangan, Seorang Penumpang Nyaris Tersedot Keluar
Ia menyerahkan kepemimpinan Pasukan Quds kepada Qassem Soleimani pada tahun 1998; Soleimani memegang peran tersebut hingga ia tewas dibunuh dalam serangan AS di ibu kota Irak, Baghdad, pada tahun 2020. Kini, Vahidi mengemban tanggung jawab untuk memimpin militer Iran dalam situasi perang skala penuh.Seloom mengatakan bahwa panglima tertinggi yang baru ditunjuk itu mendapatkan jabatan tersebut berkat kesetiaan pribadinya yang terbukti terhadap Pemimpin Tertinggi serta rekam jejak yang kuat di bidang intelijen dan keamanan internal. "Ini bukan regenerasi; ini adalah konsolidasi kelompok lama yang tepercaya, yang lebih mengutamakan kekompakan rezim daripada inovasi militer," tambahnya.
4. Menyiapkan Perang Besar
Sina Toossi, seorang rekan peneliti senior non-residen di Center for International Policy yang berbasis di AS, mengatakan bahwa bahasa yang digunakan terkait penunjukan Vahidi "sangat mencolok.""Khamenei menyerukan 'pencegahan maksimal' namun juga secara eksplisit menginstruksikan IRGC untuk menjaga kesiapan bagi 'operasi ofensif yang kuat terhadap musuh'," tulis Toossi di X. "Komentar di Iran sudah menyoroti hal ini sebagai pernyataan yang sangat eksplisit—dan tidak seperti biasanya—mengenai operasi ofensif sebagai bagian dari misi IRGC."
Hal ini mengarah pada perumusan ulang konsep pencegahan, kata Toossi, yang "semakin berpusat bukan sekadar pada pembalasan, melainkan pada kemampuan nyata untuk mengambil inisiatif dan membebankan biaya [kerugian] kepada lawan."
6. Siap Hadapi Perang Berlarut
Toossi mengatakan bahwa penunjukan-penunjukan tersebut tampaknya merupakan "upaya untuk melembagakan pelajaran dari perang dan mempersiapkan Iran menghadapi konfrontasi berkepanjangan, alih-alih beralih keluar dari status siaga perang."Dengan langkah ini, Pemimpin Tertinggi Iran—yang menggantikan mendiang ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, pada bulan Maret—"mulai membangun arsitekturnya sendiri terkait kondisi perang Iran." "Diplomasi tetap menjadi bagian dari strategi tersebut, namun penunjukan ini mengisyaratkan bahwa diplomasi dijalankan dengan ekspektasi akan berlanjutnya konflik, bukan karena Teheran meyakini perang telah benar-benar usai," ujar Toossi.
Penunjukan Rezaee sebagai kepala keamanan Iran juga mengindikasikan pergeseran keseimbangan kekuasaan di dalam negeri. Menurut Seloom, dari Doha Institute for Graduate Studies, Rezaee ditunjuk oleh Khamenei untuk menggantikan mantan kepala keamanan Mohammad Bagher Zolghadr, yang memiliki kedekatan dengan Ketua Parlemen sekaligus kepala negosiator, Ghalibaf.Rezaee kini mungkin akan memimpin tahap negosiasi berikutnya dengan AS, yang secara efektif menggeser "keseimbangan sipil-militer ke arah kubu perlawanan dan mendisiplinkan jalur negosiasi agar selaras dengan [Pemimpin] Tertinggi," kata Seloom.
"Perubahan yang sesungguhnya bersifat politis: Siapa yang mengendalikan strategi, lebih penting daripada apa strategi itu sendiri." Analis tersebut memperingatkan bahwa meskipun Iran mulai mengambil sikap yang lebih ofensif, hal ini tidak serta-merta berarti akan terjadi tindakan militer berskala besar.
"Vahidi secara khusus ditugaskan untuk mewujudkan daya tangkal maksimal dan kesiapan bagi operasi ofensif yang tangguh, namun langkah ini lebih bersifat retoris dan dirancang sebagai alat tawar-menawar," ujar Seloom. "Jika pun ada opsi ofensif yang nyata, sifatnya asimetris."
"Saya akan menyebut [sikap Iran] itu sebagai ofensif dalam retorika, namun dirancang untuk menguras kekuatan lawan secara bertahap," tambahnya. "Dan selama Teheran belum mengatasi masalah kontraintelijennya, ambisi ofensifnya akan terus terkendala oleh kelemahan intelijen yang dimilikinya."




