Rupiah Berakhir Perkasa, Makin Jauh dari Level Rp18.000 per Dolar AS

Rupiah Berakhir Perkasa, Makin Jauh dari Level Rp18.000 per Dolar AS

Ekonomi | sindonews | Senin, 10 Agustus 2026 - 17:02
share

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup menguat pada akhir perdagangan Senin (10/8/2026), usai naik 142 poin atau sekitar 0,79 ke level Rp17.755 per dolar AS. Penguatan mata uang Garuda juga terlihat pada data JISDOR BI yang bertengger di posisi Rp17.795/USD.

Analis pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan, bahwa salah satu sentimen datang dari eksternal yakni adanya harapan bahwa Iran dan Oman akan segera mencapai kesepakatan yang berujung pada pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur yang sebelumnya melayani pengangkutan seperlima pasokan minyak dunia sebelum perang pecah.

"Meskipun Iran pada hari Minggu menyatakan bahwa kesepakatan dengan Oman sudah berada di 'tahap akhir', negara itu menegaskan kembali bahwa jalur pelayaran tersebut baru akan dibuka kembali setelah Washington memenuhi syarat-syarat lain, termasuk pemberian kompensasi dari AS kepada Iran atas serangan-serangan luas yang terjadi," tulis Ibrahim dalam risetnya.

Baca Juga: Rupiah Menguat 0,69 dalam Sepekan, Simak Prediksi Pekan Depan

Iran dan AS tidak sedang melakukan perundingan, dan Teheran tidak akan memulainya selama Washington melanggar kesepakatan sementara yang ditandatangani pada bulan Juni, ujar Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi pada hari Minggu.

Dalam ancaman tambahan terhadap pasokan, sebuah fasilitas minyak milik Arab Saudi diserang pada akhir pekan lalu. Perusahaan ADNOC milik Uni Emirat Arab pada hari Jumat menyatakan bahwa 15 kapalnya telah diserang saat melintasi Selat Hormuz sejak awal konflik.

Kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran mengaku telah menyerang kilang minyak Jazan milik Saudi Aramco pada hari Minggu. Serangan ini terjadi dua hari setelah Arab Saudi menandatangani pakta pertahanan dengan sekutu sesama negara Muslim Sunni, yakni Turki dan Pakistan, sebagai respons terhadap meningkatnya ketidakstabilan kawasan akibat perang antara AS-Israel melawan Iran yang berhaluan Syiah.

Baca Juga: Ditopang Cadev USD145,3 Miliar, Rupiah Unjuk Gigi ke Rp17.897

Secara terpisah, perusahaan ADNOC milik Uni Emirat Arab pada hari Jumat menyatakan bahwa 15 kapalnya telah diserang saat melintasi Selat Hormuz sejak awal konflik. Selain itu meredanya kekhawatiran atas inflasi yang dipicu oleh energi dan mendorong para pedagang untuk mengurangi taruhan pada kenaikan suku bunga Federal Reserve (Fed). Apalagi bersama dengan angka ketenagakerjaan yang lemah, hal ini semakin mengurangi ekspektasi bahwa Fed akan menaikkan suku bunga dalam beberapa bulan mendatang. Menurut CME FedWatch Tool, pasar saat ini melihat sekitar 42 persen kemungkinan kenaikan suku bunga pada pertemuan di bulan September, turun dari sekitar 67 persen seminggu yang lalu.

"Minggu ini pasar akan mengamati rilis Indeks Harga Konsumen (CPI) AS untuk bulan Juli pada hari Rabu. Para ekonom memperkirakan inflasi akan sedikit menurun dari 3,5 menjadi 3,4 secara tahunan, dengan CPI Inti juga turun dari 2,6 menjadi 2,5 secara tahunan," ungkap Ibrahim.

Dari sentimen domestik, Presiden Prabowo Subianto resmi mengajukan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia (BI) definitif kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI. Penunjukan ini tertuang dalam Surat Presiden (Surpres) yang telah diserahkan kepada pimpinan DPR untuk mengisi posisi kepala bank sentral

Kemudian, kepercayaan konsumen Indonesia kembali melemah pada Juli 2026. Indeks keyakinan konsumen (IKK) yang dirilis Bank Indonesia (BI) turun menjadi 116,8 dari 117,8 pada Juni 2026. Penurunan tersebut menjadi yang ketiga secara beruntun. Tren ini menunjukkan konsumen mulai lebih berhati-hati dalam melihat kondisi ekonomi dan menentukan keputusan belanja.

Meski turun, level IKK masih berada di atas 100. Artinya, konsumen secara umum masih optimistis terhadap kondisi ekonomi, meski tingkat keyakinannya terus menurun dalam tiga bulan terakhir. Pelemahan keyakinan konsumen menjadi perhatian karena konsumsi rumah tangga merupakan salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Jika tren penurunan berlanjut, ruang pertumbuhan konsumsi dapat ikut tertekan karena rumah tangga cenderung menahan belanja dan lebih selektif dalam mengalokasikan pendapatan. Dengan demikian, perkembangan IKK pada bulan-bulan berikutnya menjadi penting untuk melihat seberapa kuat daya tahan konsumsi domestik di tengah berbagai tantangan ekonomi.

Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup menguat dalam rentang Rp17.700-Rp17.750 per dolar AS.

Topik Menarik