RupiahCepat Perkuat Keamanan Data Seiring Tingginya Ancaman Siber
PT Kredit Utama Fintech Indonesia (RupiahCepat) memperkuat budaya keamanan informasi di lingkungan perusahaan sebagai upaya menjaga perlindungan data pribadi pengguna dan meningkatkan kepercayaan terhadap layanan pinjaman daring. Langkah tersebut dilakukan di tengah meningkatnya ancaman serangan siber yang menyasar sektor jasa keuangan, termasuk industri teknologi finansial (fintech).
"Di era layanan keuangan digital, kepercayaan dibangun dari bagaimana perusahaan melindungi data pribadi pengguna. Ketika masyarakat mempercayakan data mereka kepada kami, menjadi tanggung jawab perusahaan untuk memastikan data tersebut dikelola secara aman, bertanggung jawab, dan sesuai standar yang berlaku. Karena itu, membangun budaya keamanan informasi sama pentingnya dengan membangun teknologi yang andal," kata Direktur PT Kredit Utama Fintech Indonesia (RupiahCepat) Anna Maria Chosani dalam keterangannya, Jumat (7/8/2026).
Baca Juga:RupiahCepat dan Bank DBS Kolaborasi Perluas Akses Pembiayaan
Berdasarkan data Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), terdapat sekitar 609,39 juta serangan siber di Indonesia sepanjang 2024, dengan sektor keuangan menjadi salah satu target utama. Sementara itu, laporan IBM Cost of a Data Breach 2025 mencatat organisasi rata-rata membutuhkan waktu hingga 241 hari untuk mendeteksi dan mengendalikan insiden kebocoran data.
Merespons kondisi tersebut, RupiahCepat menggelar Awareness Training ISO/IEC 27001:2022 pada 4 Agustus 2026 dan Training Keamanan Data dan Awareness ISO/IEC 27701:2025 pada 6 Agustus 2026. Program tersebut bertujuan memastikan seluruh karyawan memahami tanggung jawab dalam melindungi data pribadi, mengenali potensi risiko keamanan informasi, serta menerapkan prosedur perlindungan data sesuai standar internasional dan regulasi yang berlaku.Menurut Anna, perlindungan data pribadi tidak hanya menjadi tanggung jawab unit teknologi informasi, tetapi harus menjadi bagian dari budaya kerja seluruh organisasi. Faktor manusia, katanya, merupakan lapisan pertahanan pertama (first line of defense) dalam mencegah insiden keamanan informasi maupun kebocoran data.
Founder sekaligus Senior Consultant PT Aktuator Cipta Cendekia Anton Dewantoro menilai penguatan budaya keamanan informasi menjadi salah satu elemen penting dalam penerapan sistem manajemen keamanan informasi, khususnya di sektor jasa keuangan digital yang mengelola data pribadi masyarakat."Di tengah meningkatnya ancaman siber, organisasi tidak cukup hanya mengandalkan teknologi maupun kepemilikan sertifikasi. Keamanan informasi harus menjadi budaya yang dipahami dan diterapkan oleh seluruh karyawan. Komitmen RupiahCepat untuk secara berkelanjutan meningkatkan kompetensi sumber daya manusia melalui program awareness ISO/IEC 27001:2022 dan ISO/IEC 27701:2025 menunjukkan keseriusan perusahaan dalam membangun layanan pinjaman daring yang aman, bertanggung jawab, dan terpercaya bagi masyarakat," ujar Anton.
Baca Juga:Ditopang Cadev USD145,3 Miliar, Rupiah Unjuk Gigi ke Rp17.897
Selain meningkatkan kompetensi sumber daya manusia, RupiahCepat menerapkan berbagai pengendalian keamanan informasi, mulai dari proses electronic Know Your Customer (e-KYC), teknologi enkripsi untuk melindungi data pengguna, pengelolaan hak akses berbasis kewenangan (role-based access control), hingga pemantauan dan evaluasi keamanan sistem secara berkala. Perusahaan juga telah mengantongi sertifikasi ISO/IEC 27001:2022 dan tengah memperkuat kesiapan menuju implementasi ISO/IEC 27701:2025 sebagai standar internasional sistem manajemen informasi privasi.
Penguatan tata kelola tersebut juga sejalan dengan implementasi Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi, Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan, serta POJK Nomor 22 Tahun 2023 tentang Perlindungan Konsumen dan Masyarakat di Sektor Jasa Keuangan.










