Menkeu AS Klaim Jurang Kaya-Miskin Makin Menyempit, Faktanya Lebih Kompleks

Menkeu AS Klaim Jurang Kaya-Miskin Makin Menyempit, Faktanya Lebih Kompleks

Ekonomi | sindonews | Jum'at, 7 Agustus 2026 - 14:47
share

Menteri Keuangan Amerika Serikat (Menkeu AS), Scott Bessent mengklaim bahwa jurang ketimpangan ekonomi antara kelompok kaya dan miskin di AS kini mulai menyempit. Pernyataan ini disampaikan di tengah tingginya beban inflasi dan melonjaknya biaya hidup yang masih mencekik mayoritas masyarakat.

Dalam wawancaranya bersama CNBC, Bessent secara tegas menolak anggapan bahwa AS masih terjebak dalam model K-shaped economy-istilah ekonomi yang menggambarkan kondisi di mana kelompok kaya makin sejahtera, sementara kelompok berpenghasilan rendah makin terpuruk.

Bessent menegaskan, bahwa perekonomian AS kini bergerak menuju apa yang ia sebut sebagai C-shaped economy, di mana kelompok pekerja berpenghasilan rendah mulai mengejar ketertinggalan. Menurut data yang dipaparkannya, 25 pekerja berpenghasilan terendah mencatatkan pertumbuhan upah riil sebesar 2.

Baca Juga: Tarif Trump Ilegal? AS Resmi Kembalikan Dana Jumbo Rp1.787 Triliun ke Korporasi

"Saya sudah muak mendengar tentang K-shaped economy ini. Saya bisa katakan secara definitif di sini, era K-shaped economy sudah berakhir," tegas Bessent.

Pemerintah juga menunjuk rekor tertinggi bursa saham Wall Street dan pertumbuhan dana pensiun untuk rata-rata warga AS melonjak lebih dari USD30.000 sebagai bukti penguatan ekonomi.

Ekonom Buka Suara: Pasar Saham Bukan Cermin Rakyat Kecil

Namun, para ekonom dan analis independen memberikan gambaran yang jauh lebih kompleks. Lonjakan pasar saham dinilai tidak mencerminkan kondisi finansial mayoritas warga AS karena kepemilikan saham sangat terpusat pada kelompok rumah tangga berpenghasilan tinggi.

Baca Juga: Ekonomi AS Mendadak Melambat ke 1,5, Warga Amerika Justru Makin Konsumtif?

Laporan dari Moody's Analytics memperkirakan bahwa rumah tangga berpenghasilan di atas USD200.000 per tahun menguasai hampir 60 dari total belanja konsumen pada kuartal pertama tahun ini. Sementara itu tingkat belanja riil dari 80 populasi berpenghasilan di bawahnya cenderung stagnan tergerus inflasi.

Pajak Baru & Tekanan Biaya Hidup

Pemerintah AS mengklaim undang-undang pemotongan pajak terbaru (One Big Beautiful Bill Act) -yang memberikan insentif pajak atas uang tip, lembur, dan kredit mobil- akan membantu masyarakat bawah. Namun Tax Policy Center mengestimasi bahwa hampir 60 dari total manfaat pajak tersebut justru tetap mengalir ke kelompok rumah tangga papan atas dengan penghasilan di atas USD217.000 per tahun.

Di sisi lain, tekanan harga energi akibat konflik Timur Tengah dan kebijakan tarif impor universal terus melambungkan harga barang di tingkat eceran. Survei terbaru Marquette University Law School menunjukkan bahwa 35 warga AS menempatkan inflasi dan biaya hidup sebagai kekhawatiran nomor satu mereka saat ini.

Topik Menarik