Memimpin adalah Menderita
Muhammad Syafi’ie el-Bantanie,Founder Insani Leadership dan Dai Dompet Dhuafa
Muhammad Roem, dalam tulisan berjudul H. Agus Salim yang dimuat dalam Prisma No. 8 1977, menggambarkan kepemimpinan H. Agus Salim dengan mengutip pepatah Belanda, “Leiden is lijden”, memimpin adalah menderita. Roem menyaksikan langsung kehidupan H. Agus Salim sebagai seorang pemimpin ketika itu terlalu sederhana, bahkan bisa disebut miskin.
Prof. Schermerhorn, pemimpin delegasi Belanda dalam perundingan Linggarjati, pernah menulis dalam catatan hariannya untuk menggambarkan sosok H. Agus Salim dengan ungkapan, “Agus Salim itu orang jenius dalam bahasa. Ia fasih dan menguasai sembilan bahasa. Hanya, satu kelemahannya sebagai pemimpin, Agus Salim hidup melarat.”
Anda bayangkan H. Agus Salim adalah pemimpin organisasi Islam terbesar ketika itu, Syarikat Islam. Ia juga berkali-kali menjadi Menteri Luar Negeri pada kabinet Sjahrir dan Amir Syarifudin. Namun, standar kehidupannya demikian sederhana untuk tidak menyebutnya miskin. H. Agus Salim, seperti diceritakan Roem, pernah tinggal di rumah sangat sederhana dalam gang kecil dan sempit Jakarta. Standar kehidupan pemimpin yang tidak normal jika dibandingkan dengan para pejabat masa kini.
H. Agus Salim sejatinya meneladani gaya kepemimpinan Rasulullah. Selain seorang pemimpin politik, H. Agus Salim juga seorang ulama atau cendekiawan. Ia salah seorang guru dari Buya Hamka. Maka itu, H. Agus Salim jelas mengenali rekam jejak dan keteladanan kepemimpinan Rasulullah.Baca juga:Tradisi Buang Sial, Adakah Dasarnya? Ini Penjelasan Dalil Al-Qur'an dan Hadis
Ketika memasuki usia 37 tahun, Muhammad memilih pensiun di tengah kariernya sebagai manajer marketing yang sukses dalam mengelola bisnis istrinya, Khadijah. Beliau banyak menghabiskan waktu untuk merenung di gua hira memikirkan kondisi masyarakat Mekah yang rusak. Sampai akhirnya, ketika Muhammad berusia 40 tahun, Jibril datang membawa wahyu kepadanya.
Sejak saat itulah, fase kehidupan Muhammad sebagai seorang rasul dimulai. Semua harta yang dimilikinya, termasuk milik istrinya, Khadijah, dilaburkan untuk perjuangan dakwah Islam. Rasulullah menjalani kehidupan yang sangat sederhana. Demikian seterusnya sampai Rasulullah memimpin umat Islam hijrah ke Yatsrib dan mendirikan negara Madinah.
Standar kehidupan Rasulullah sebagai kepala negara sangatlah sederhana. Sayidina Umar pernah menangis demi menyaksikan punggung Rasulullah terdapat bekas pelepah kurma karena beliau tidur beralaskan pelepah kurma. Jika Anda pernah haji atau umrah, di sebelah Masjid Nabawi ada museum Masjid Nabawi yang di dalamnya terdapat replika rumah Rasulullah. Anda tahu berapa ukurannya? Hanya 3,5 x 5 meter persegi. Di situlah Rasulullah tinggal bersama istri tercintanya, sayidah Aisyah. Demikian pula rumah Rasulullah bersama istri-istrinya yang lain nyaris sama ukurannya. Rumah yang sangat sederhana, namun melahirkan peradaban Islam yang besar.
Istri-istri Rasulullah menggambarkan, “Jika ada yang dimakan hari itu, Rasulullah makan. Namun, jika tidak ada yang dimakan, beliau puasa.” Demikian sederhananya beliau menjalani kehidupan.
Hingga akhir hayatnya, Rasulullah tidak mewariskan harta bagi ahlul baitnya.
“Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi. Para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, melainkan mewariskan ilmu. Barangsiapa mengambilnya, maka ia telah mengambil bagian yang sangat besar.” Demikian Imam Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ahmad meriwayatkan.
Kini, kita bertanya bagaimana seseorang mampu menjalani kepemimpinan seperti itu? Kuncinya terletak pada memaknai kepemimpinan. Sejatinya, kepemimpinan itu pengabdian, bukan profesi. Pengabdian lahir dari panggilan jiwa. Suara hati yang gelisah menyaksikan kondisi masyarakat dan bangsa yang rusak, terpuruk, atau terjajah.Dari situlah, muncul tanggung jawab untuk melakukan perubahan. Ia berjuang tanpa kenal lelah. Dalam perjuangan, sudah pasti menuntut pengorbanan. Di sinilah panggilan jiwa seorang pemimpin siap mengorbankan kepentingan dirinya untuk kepentingan masyarakat dan bangsanya. Kekuasaan yang diraih, bagi mereka adalah sarana untuk melahirkan kedamaian, keadilan, dan kesejahteraan bagi masyarakat dan bangsa.
Hal ini akan berbeda jauh ketika kepemimpinan dipandang sebagai sebuah profesi. Laik-nya sebuah profesi, maka di situ ada hitung-hitungan materi, untung-rugi, serta tawar-menawar. Akibatnya, ketika meraih kekuasaan, digunakan untuk kepentingan diri, keluarga, dan golongannya. Dari sini lahirlah oligarki. Bagi-bagi kue kekuasaan. Dalam konteks inilah, Lord Acton mengingatkan, “Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely.”
Lantas, apakah tidak boleh seorang pemimpin hidup laik dan berkecukupan? Tentu saja boleh. Namun, dia harus menyelesaikan tugasnya terlebih dahulu menyejahterakan rakyatnya. Sehingga, standar kehidupan pemimpin dengan rakyatnya tidak terlalu jomplang.
Khalifah Umar bin Khatthab, seorang pemimpin yang dikenal kezuhudannya, pernah memanggil dan memarahi gubernurnya, Sa’ad bin Abi Waqash. Penyebabnya karena rumah Sa’ad yang bagus dan besar dinilai terlalu jauh dengan kehidupan rakyatnya pada umumnya. Padahal, Sa’ad membangun rumahnya bukan dari gajinya, melainkan dari hasil perniagaannya.
“Jika kau masih ingin menjadi gubernur, sejahterakan dulu rakyatmu dengan standar yang tinggi, baru kau boleh membangun rumahmu yang bagus dan besar.” Demikian kata-kata khalifah Umar tegas.Prinsip kepemimpinan tersebut bisa diterapkan juga dalam skala perusahaan atau organisasi. Organisasi dan perusahaan akan berumur panjang ketika keadilan ditegakan dalam semua aspeknya. Adil bukan berarti sama rata. Adil itu menempatkan sesuatu pada tempatnya. Adil itu proporsional. Adil itu tidak ada kesenjangan. Dengan demikian, kesejahteraan merupakan milik semua tim yang ada di dalamnya. Bukan hanya milik sekelompok elit organisasi atau perusahaan.
Baca juga:Doa Ketika Khawatir Terjadi Keburukan atau Kesialan









